Selasa, 10/3/26 | 22:44 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Red Flag

Minggu, 07/8/22 | 10:57 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id) 

 

Pada ajang balap kuda besi seperti MotoGP, bendera merah atau red flag yang dikibarkan merupakan tanda bahwa balapan harus dihentikan. Setelah dihentikan, biasanya Race Director akan menentukan apakah balapan akan diulang, ditunda atau bahkan tidak bisa dilanjutkan. Namun, pada umumnya balapan bisa dilanjutkan dengan pengunduran waktu tertentu dan lintasan balap telah dibersihkan atau tidak tergenang terlalu banyak air setelah terjadi hujan lebat. Biasanya, red flag dikibarkan karena terjadi insiden seperti kecelakaan parah yang menyebabkan motor dan pembalap terhenti di tengah trek, cuaca buruk, dan kondisi berbahaya lainnya yang dapat membahayakan pembalap.

Nyatanya, red flag tidak hanya dikenal dalam pergelaran balapan. Saat ini, red flag kadung dikenal dalam relasi sosial antarmanusia, baik dalam hubungan percintaan maupun pertemanan. Sama halnya dengan red flag dalam balapan, red flag dalam hubungan juga merupakan sinyal berbahaya dan tanda harus berhenti.

Ketika seseorang melakukan kekerasan, baik berupa verbal, fisik, maupun psikis, dapat dikatakan hal itu merupakan tanda bahaya dan red flag harus dikibarkan. Tanda red flag lainnya ialah ketika seseorang melecehkan secara verbal dan emosional, manipulatif, kecanduan alkohol dan obat terlarang, serta memiliki masalah kesehatan mental namun tidak mau mengobatinya. Tentu saja, masih banyak tanda-tanda lainnya yang menjadi red flag bagi orang lain.

BACAJUGA

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Namun, sikap seseorang yang tidak kita sukai tidak melulu bisa dijadikan red flag selama hal itu bisa dikomunikasikan dan ada celah menuju perubahan yang lebih baik. Kondisi yang dapat diubah ini memiki bendera lain yang warnanya tidak merah, melainkan kuning, yaitu yellow flag. Di pergelaran balapan pun dikenal yellow flag, yaitu sebagai penanda agar pembalap berhati-hati karena terjadi suatu insiden seperti kecelakaan di lintasan, namun kecelakaan itu tidak menghalangi laju motor pembalap lain di atas trek.

Cukup mirip dengan maksud yellow flag dalam balapan, yellow flag dalam relasi sosial antarmanusia juga berarti keharusan untuk berhati-hati. Ketika pertama kali kita mendapat perlakuan berupa omongan yang kurang mengenakkan dari seseorang, kita perlu membicarakan dan memperingatinya. Selanjutnya ialah mempertimbagkan apakah ke depannya ia berubah dan apakah kita bisa menoleransinya. Namun, apabila hal itu terjadi secara berulang dan sikap seperti itu menjadi sangat mengganggu, di sanalah waktunya red flag mulai dikibarkan. Menjauh dari seseorang yang dapat mengganggu kenyamanan kita, terlebih membahayakan kita dalam menjalani hidup adakalanya merupakan pilihan yang tepat.

Tampaknya, warna-warni bendera ini juga sama dengan warna-warni lampu lalu lintas, karena memang begitulah adanya. Merah menandakan keharusan untuk berhenti, kuning untuk berkendara dengan hati-hati, dan hijau untuk terus melaju. Dalam relasi antarmanusia, juga berlaku warna-warni ini. Green flag dalam hubungan yang juga sering disebut dengan ‘lampu hijau’ adalah pertanda baik suatu hubungan dapat dilanjutkan.

Namun, yang terpenting ialah bukan hanya melabeli suatu kondisi dalam hubungan dengan red flag, yellow flag, atau green flag. Yang lebih penting dari itu ialah menyadari kondisi yang terjadi dengan pertimbangan yang matang. Oleh sebab itu, meminta saran dari teman dekat, keluarga, dan tenaga profesional juga perlu dilakukan apabila memiliki keraguan untuk memutuskannya sendiri.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-Puisi Rilen Dicki Agustin

Berita Sesudah

Puisi-puisi William Joui R dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Berita Terkait

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kecamatan Gunuang Omeh, khususnya Nagari Talang Anau bukan tempat...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Jika Renyah dapat dianalogikan, ia bukan ruang yang hadir dengan suara lantang atau pernyataan yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Berita Sesudah
Puisi-puisi William Joui R dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Puisi-puisi William Joui R dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Discussion about this post

POPULER

  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKDP Sumbar Perkuat Silaturahmi Perantau Pariaman Lewat Buka Puasa Bersama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Inspirasi Menu Buka Puasa Enak: Dari Takjil Manis Hingga Lauk Gurih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Buka Bersama Sahabat Mulia Madani Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Padang Gelar Rapat Paripurna Penyampaian LKPJ TA 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026