Selasa, 28/4/26 | 01:33 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Pick Me Girl

Minggu, 08/5/22 | 10:19 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id) 

 

Setelah diingat-ingat lagi, ternyata saya pernah menjadi seorang pick me girl. Ketika itu, saat membagikan sebuah gambar dua orang perempuan tengah mencuci muka. Perempuan pertama tengah mengaplikasikan rangkaian skincare. Perempuan kedua hanya mencuci wajah dengan air dari keran di kamar mandi. Lalu saya menunjuk perempuan kedua dan menyertakan takarir, “Aku banget!”.

BACAJUGA

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Melalui unggahan itu, saya tengah mencoba menunjukkan bahwa saya berbeda dengan perempuan lain. Saat itu, saya menilai perempuan yang memakai skincare adalah perempuan rempong yang ingin terlihat cantik. Padahal, itu amatlah wajar. Setiap orang mungkin menginginkannya. Perbedaannya, saya menjatuhkan perempuan lain untuk menunjukkan eksistensi saya. Belakangan, saya justru ikutan memakai beragam skincare. Nyatanya, itu bukanlah sebuah kerempongan, tetapi sebuah upaya untuk merawat kulit agar sehat. Dan tentu saja, terlihat glow up adalah keinginan yang wajar.

Pick me girl lain yang pernah saya lakoni ialah perkara make up. Ketika mengobrol dengan beberapa orang kawan, saya pernah berujar bahwa saya hanya memakai bedak bayi. Ketika itu, perempuan seusia saya mulai memoles wajah mereka dengan make up, tetapi di hadapan kawan-kawan itu saya justru mengaku tidak kenal make up. Padahal, sewaktu kecil pernah memakainya, bahkan dibelikan ibu make up khusus karena sering memakai punyanya diam-diam.

Perkara perempuan hijrah, saya juga pernah berlaku seperti dua hal di atas. Kalau tidak keliru, ketika menginjak semester dua di perkuliahan, saya mengubah penampilan. Ke kampus, saya mulai memakai rok, baju lengan panjang, dan kerudung dua lapis. Ketika itu, saya merasa lebih baik dari kawan-kawan, sepertinya saya juga melontarkan kata-kata yang merendahkan kawan-kawan. Keistiqomahan berhijrah hanya berlangsung selama satu semester. Semester berikutnya penampilan saya berubah seperti biasa. Di saat ini, muncul sikap pick me girl yang lain.

Saya merasa menjadi seorang kutu buku hanya karena membaca lebih banyak buku dari kawan-kawan perempuan lainnya. Padahal, belum tentu benar dan bisa saja dipastikan salah. Hanya karena kawan-kawan membawa tas salempang kecil ke dalam kelas, sedangkan saya membawa tas dengan beberapa buku, saya kira mereka tidak ada yang berniat belajar serius. Hal begini pun pernah saya lontarkan kepada saudara. Kira-kira saya berkata begini, “Kamu punya teman perempuan yang kalau ada kelas cuma bawa tas kecil nggak sih? Isinya kadang juga cuma hape, lipstik, dan tisu. Aku kok malah bawa tas yang isinya buku-buku semua, ya?” Aduh! Untuk kelakuan pick me girl ini, saya mohon maaf!

Tidak berhenti sampai di sini, mungkin saja tidak ada henti-hentinya tanpa saya sadari. Ketika kuliah, saya bergabung dengan organisasi mahasiswa pencinta alam. Perempuan-perempuan yang bergabung biasanya mereka yang tomboi dan minim kesan feminin. Saya pun mulai menilai perempuan lain (yang memakai skincare, make up, ke kelas bawa tas kecil) sebagai perempuan menye-menye, lemah, dan tidak peduli dengan isi kepala. Pick me girl ini, sungguh keterlaluan.

Akan tetapi, juga perlu diketahui pick me girl tidak hanya dilakoni perempuan, lelaki juga demikian. Fenomena itu bisa dilakoni oleh siapa pun. Bila diingat-ingat, saya juga pernah berjumpa pick me boy, yaitu membuat dirinya terlihat berbeda sembari menjatuhkan orang lain. Mungkin pula, tulisan ini juga bagian dari sikap pick me girl saya. Lebih baik disudahi saja.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Riza Mika Wijaya

Berita Sesudah

Sastra Australia Alternatif Bacaan Anak-Anak Indonesia

Berita Terkait

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Berita Sesudah
Sastra Australia Alternatif Bacaan Anak-Anak Indonesia

Sastra Australia Alternatif Bacaan Anak-Anak Indonesia

Discussion about this post

POPULER

  • Konflik Sosial dengan Warga di Dharmasraya, SAD Minta Ganti rugi Rp30 Juta

    Konflik Sosial dengan Warga di Dharmasraya, SAD Minta Ganti rugi Rp30 Juta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cerita Mahasiswa Arab tentang Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satresnarkoba Polres Dharmasraya Tangkap Pengguna Narkoba Jenis Ganja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Elly Delfia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026