Senin, 27/4/26 | 12:55 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Kuliner dan Geografis Daerahnya

Minggu, 16/1/22 | 07:35 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah scientia.id)

 

Bagi saya pergi ke suatu daerah, baik itu yang pernah dikunjungi sebelumnya maupun yang baru dikunjungi merupakan hal menyenangkan. Daerah maksud saya ini adalah tempat-tempat yang masih dalam wilayah Indonesia. Banyak pengalaman baru yang dapat ditemukan, beraneka ragam karakter orang yang dijumpai dan bermacam pula jenis kuliner yang harus dicicipi. Mencicipi menu kuliner khas daerah yang dikunjungi tentunya menjadi salah satu agenda penting yang harus direalisasikan. Bagi saya atau mungkin juga sebagian pembaca, belum lengkap rasanya menikmati pengalaman berkunjung ke suatu daerah kalau belum mencicipi kulinernya.

Minggu lalu saya dan rekan melakukan perjalanan mengunjungi beberapa tempat selama tiga hari. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, persoalan perut memang tidak dapat dikesampingkan. Belum turun kaki dari kendaraan, pangana sudah sampai pula di lapau yang hendak dituju. Saya memang antusias sekali untuk mencari tempat-tempat kuliner terutama yang memang terkenal karena rasanya, atau yang lagi viral dan instagramable.

BACAJUGA

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Bermacam pula jenis kuliner yang hendak dicicipi, mulai dari makanan berat, aneka minuman, hingga makanan ringan. Setiap jenis kuliner yang dihidangkan tentu memiliki cita rasa tersendiri dengan keunikan tampilannya. Sebagai informasi bagi pembaca, beberapa kuliner yang coba kami cicip memang tak lepas dari seputar nasi dan “teman-temannya”. Kuliner tersebut berupa aneka olahan ikan laut maupun ikan air tawar (ikan bakar, ikan goreng, gulai ikan), aneka olahan daging sapi (gulai babek, randang, tambusu, gulai tunjang), nasi gemuk, teh telur, dan aneka kripik.

Sebenarnya masih banyak lagi berbagai jenis menu kuliner yang kami cicip, tapi yang membekas dan memberikan kenangan tersendiri memang seputar nasi beserta “teman-temannya”. Kenapa demikian? Karena menu-menu tersebutlah yang menjadi sasaran utama kami kalau energi sudah mulai berkurang atau tatkala perut keroncongan.

Saya yakin sebagian pembaca mungkin sudah mengetahui bahwa kuliner suatu tempat juga dipengaruhi oleh letak geografis daerahnya. Begitu pun aneka “teman-temannya” nasi itu, bagi saya dan rekan yang melakukan kunjungan bersepakat bahwa letak geografis mempengaruhi kekhasan rasa dan tampilan hidangannya, mungkin juga cara memasaknya. Perjalanan kami memang melalui berbagai daerah dengan kondisi geografi yang berbeda, mulai kawasan tepi pantai hingga daerah pengunungan. Dari kawasan bersuhu panas hingga daerah dengan suhu yang dingin.

Perjalanan ini mengajari kami kalau memesan menu nasi beserta “teman-temannya” haruslah memperhatikan kondisi geografis daerahnya. Kenapa begitu? Untuk mendapat menu yang menggugah selera diperlukan juga “trik” khusus dalam menentukan hidangan yang hendak dimakan. Setidaknya hal itu berpengaruh dari pengalaman perjalanan kami. Kalau mau memesan olahan ikan laut hendaklah di rumah makan kawasan pinggir pantai, entah itu ikan bakar, gulai pangek masin, atau gulai ikan karangnya, kesemuanya itu patut untuk dicicipi.

Begitu pun jika sedang berada di daerah yang jauh dari permukaan laut, beberapa menu kuliner yang sempat menggoda lidah kami adalah olahan dari daging sapi, mulai dari randang, gulai babek, gulai tunjang, dan tambusu. Tidak hanya itu, olahan ikan air tawar juga jadi hidangan yang sempat kami santap, yaitu ikan bakar nila dan gurami. Semuanya sungguh menggugah selera.

Mungkin sebagian dari pembaca ada yang tidak sependapat dengan tulisan ini, dengan pengalaman yang coba saya bagikan. Bagi saya itu biasa dan memang lebih baik begitu, sehingga akan banyak pengalaman yang diperoleh dan menambah khazanah dalam menentukan kuliner yang ingin disantap di suatu daerah. Namun, ada satu menu yang tidak tergantikan entah di kawasan tepi pantai maupun pegunungan rasanya tetap menggoda lidah, yaitu karupuak jangek dan ampiang pakai kuah gulai. Sangat menggoda selera.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Paradigma Ilmu Sosial-Budaya: Sebuah Review dan Kritik

Berita Sesudah

Puisi-puisi Elly Delfia

Berita Terkait

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Berita Sesudah
Ter-Zidan-Zidan, Sebuah Fenomena Hypnotic Language Pattern

Puisi-puisi Elly Delfia

Discussion about this post

POPULER

  • Diksi Cantik sebagai Identitas Perempuan di Instagram

    Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Elly Delfia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Penghubung “tetapi” dan “sedangkan”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cerita Mahasiswa Arab tentang Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Analisis Unsur Intrinsik Naskah Drama “Orang-Orang di Tikungan Jalan” Karya Rendra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026