Rabu, 14/10/26 | 20:42 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Membangun Tradisi Mendongeng pada Anak

Minggu, 07/11/21 | 07:00 WIB

Oleh:
Alex Darmawan, Rizky Amalya Furqan, Aslinda, dkk.
(Dosen Program Studi Indonesia, Fakulta Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan pulau. Masing-masing suku bangsa memiliki adat-istiadat yang unik, termasuk di dalamnya aneka ragam cerita daerah. Tradisi mendongeng sebagai tradisi penuturan cerita di Indonesia sebenarnya sudah tumbuh sejak berabad-abad silam. Duhulu, pada masa pemerintahan kerajaan, hidup para pendongeng dijamin  oleh  raja dan mereka pun mendapat gelar kehormatan dari kerajaan. Pada saat raja berduka, pendongeng diundang ke Istana sebagai pelipur lara. Tak heran bila, pada masa itu dongeng memiliki peranan penting sebagai penghibur bagi keluarga kerajaan. Dongeng tidak hanya dilakukan di istana saja, tetapi juga berkembang di luar istina. Nenek moyang kita telah membangun tradisi mendongeng dengan mengembangkan berbagai cerita untuk diceritakan kembali kepada masyarakat  secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Pesatnya perkembangan teknologi modern dan perubahan tatanan sosial budaya masyarakat saat ini agaknya memberikan pengaruh terhadap minimnya minat dan perhatian masyarakat pada masalah mendongeng. Padahal, bila dilihat dari sisi yang lain, mendongeng merupakan bagian dari upaya penyampaian pendidikan moral yang baik pada diri anak-anak. Dengan demikian, hal ini juga akan menumbuhkan minat baca pada anak.

Dongeng adalah bagian dari cerita prosa rakyat dan dianggap tidak benar-benar terjadi. Dongeng diceritakan, terutama untuk hiburan. Walaupun, banyak juga yang  melukiskan kebenaran berisikan pelajaran moral atau bahkan sindirin (Danandjaya, 1991:83). Dongeng  sering diidentikan sebagai cerita bohong, bualan, khayalan, atau cerita yang mengada-ada sera tidak ada manfaatnya. Bahkan, ada yang menganggap dongeng sebagai cerita  yang tidak masuk akal. Dongeng memang cerita rekaan, tetapi bukan berarti dongeng tidak ada manfaatnya. Contoh  sederhana saja, melalui tradisi mendongeng seorang anak bisa mengetahui budaya yang ada di suatu masyarakat.

BACAJUGA

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB
Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Dahulu ketika seorang anak menduduki bangku taman anak-anak dan sekolah dasar, seorang guru biasanya akan mendongeng pada murid-muridnya pada setiap pagi atau menjelang saat pulang sekolah. Namun, pemandangan semacam ini cukup langka atau jarang kita lihat sekarang ini. Faktor kesibukan guru yang semakin meningkat, misalnya mengurus berbagai administrasi pendidikan ataupun disebabkan kehadiran teknologi modern, seperti internet dan smartphone yang menggantikan sarana hiburan bagi anak-anak.

Foto: Kegiatan Mendongeng

Perkembangan zaman saat ini banyak hal yang berubah, misalnya seorang anak tertidur bukan lagi dengan dongeng pengantar tidur yang diceritakan oleh orang tuanya, tetapi yang terjadi adalah anak tidur tanpa sepengetahuan orang tua dengan gawai di tangan sebagai pengantar tidurnya. Kondisi lain yang sering terjadi adalah, Ibu  masih asik di depan televisi beserta gawainya pula sehingga tidak sempat lagi mengantar tidur anaknya dengan dongeng-dongeng yang memiliki pesan moral yang baik. Meski tampak sepele, dongeng sangat berarti bagi perkembangan jiwa anak.

Masa anak-anak adalah fase perkembangan manusia yang pada saat itu imajinasi mulai bersanubari dalam diri anak-anak. Kegiatan mendongeng bagi anak-anak sebenarnya tidak sekedar bersifat hiburan belaka, melainkan memiliki tujuan yang lebih luhur, yakni pengenalan terhadap budaya-budaya bangsa, budi pekerti, dan mendorong anak-anak berprilaku positif. Cakrawala pemikiran anak anak dapat berkembang sesuai dengan nalurinya. Jika kita perhatikan secara seksama, anak-anak mempunyai perasaan yang halus dan mudah terpengaruh. Begitu pula dengan rasa keingintahuan mereka yang begitu tinggi terhadap sesuatu hal yang menarik minat  anak-anak sehingga menimbulkan fantasi serta imajinasinya.

Dengan latar belakang di atas, Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas melakukan pengabdian masyarakat di Taman Baca Tanah Ombak dengan tema “Membangun Tradisi Mendongeng pada Anak”. Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas yang diketuai oleh Dr. Aslinda, M.Hum telah membangun kerja sama dengan Tanah Ombak yang dipimpin oleh Bapak Syuhendri. Kerja sama ini dibangun satu tahun yang lalu dalam bingkai pengabdian masyarakat untuk anak-anak dan masyarakat  nelayan tepi pantai Padang.

Pelatihan mendongeng pada anak-anak nelayan tepi pantai Padang untuk pertama kali dilaksanakan oleh prodi Sastra Indonesia pada tanggal 12 April 2021. Pada pelaksanaan pengabdian pertama tersebut dibuka dengan dongeng oleh Rizky Amelya Furqan, salah seorang dosen pada prodi Sastra Indonesia dengan menggunakan media boneka tangan. Dongeng yang ia sampaikan berjudul Kenapa Air Laut Asin. Hal ini dilakukan untuk menarik minat anak-anak untuk ikut serta mendongeng. Ada 2 orang anak dari Taman Baca Tanah Ombak yang ikut mendongeng setalahnya, yaitu Mici dan Sherin. Acara pengabdian mendongeng pertama ini ditutup dengan dongeng oleh M. Yusuf, salah seorang dosen pada prodi Sastra Indonesia, dengan judul Bapak Belalang.

Pengabdian masyarakat ini tidak berhenti sampai di situ saja. Pada tanggal 30 Oktober 2021 dilakukan pengabdian kedua dengan cara membawa kertas origami yang bisa dijadikan sebagai media mendongeng oleh anak-anak di Taman Baca Tanah Ombak. Antusias anak-anak pada pelaksanaan pengabdian mendongeng kedua ini sangat tinggi karena ada hadiah juga untuk setiap anak yang mau mendongeng ke depan. Rezi salah seorang anak di Taman Baca Tanah Ombak yang sudah kelas 1 SMP bercerita tentang Lebah dan Kawannya. Kemudian, pengabdian ini ditutup dengan dongeng yang berjudul Kucing dan Harimau Dahulu Sama Besar yang disampaikan oleh  Bapak Ronidin, salah seorang dosen Sastra Indonesia.

Pelaksanaan pengabdian ini direncanakan akan terus berlanjut agar anak-anak mulai tertarik untuk membaca dongeng ataupun cerita lain. Dengan harapan, anak-anak tidak hanya menghabiskan waktu untuk bermain game online pada gawai yang mereka miliki. Menurut Danandjaya, dongeng berfungsi sebagai alat pendidikan (pedagogi) pada anak, misalnya pada dongeng Kancil, kita disuruh untuk berfikir cerdas bukan melawan dengan fisik (1991:141). Demikianlah betapa pentingnya kita mengembangun imajinasi anak-anak dengan cara bercerita melalui dongeng. Selain itu juga, dongeng bisa mengajarkan, memberikan, dan menanamkan nilai-nilai luhur budaya Indonesia kepada anak tanpa harus menggurui. Semoga.

Tags: #Alex Darmawan
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Transformasi Ruang Kehadiran Puisi

Berita Sesudah

Penggulingan Pemerintahan Husni Mubarak dalam Novel Apartemen Yaqoubian

Berita Terkait

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB

Taufiq Muhammad Akbar ‎Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas (UNAND) Undang-undang berubah, Pasal diperbaiki, Ancaman pidana disesuaikan, Istilah hukum diperbarui. Tetapi...

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Ilustrasi: Hukum dan regulasi hanyalah pagar luar, namun kesadaran dan etika digital masyarakat adalah benteng utama yang sesungguhnya dalam menangkal...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa, Miskomunikasi, dan Konflik Rumah Ibadah

Senin, 12/10/26 | 06:40 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Bahasa memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman, hubungan sosial, dan sikap...

Penentu Arah Perubahan Zaman

Penentu Arah Perubahan Zaman

Minggu, 11/10/26 | 20:39 WIB

Oleh: Arza Kailla Chaerani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Dunia terus berubah, begitu pula cara manusia memahami identitas,...

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Minggu, 11/10/26 | 20:02 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Dalam ranah sosio-kognitif, bahasa merupakan piranti yang menjembatani memori dan...

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Minggu, 04/10/26 | 22:27 WIB

Oleh: Irfan Pandesta Putra, S.Hum (Sejarawan & Alumni S1 Ilmu Sejarah FIB Universitas Andalas)   Novel Siti Nurbaya: Kasih Tak...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Apriwanto

Penggulingan Pemerintahan Husni Mubarak dalam Novel Apartemen Yaqoubian

Discussion about this post

POPULER

  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nurfirmanwansyah Apresiasi Gerakan Literasi Digital bagi Pelajar di Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026