Rabu, 16/9/26 | 14:15 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Kata-Kata yang “Membunuh”

Minggu, 12/9/21 | 07:00 WIB

Alex Darmawan, S.S., M.A.
(Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)

 

Di zaman yang sudah maju saat ini, bisa dipastikan semua keluarga memiliki televisi. Televisi menjadi salah satu alat hiburan dan pusat informasi bagi semua warga negara Indonesia selain internet. Banyak stasiun televisi menyajikan dan menawarkan program tayangan untuk menaikan rating tayangan program termasuk berita-berita kriminalitas yang terjadi di Indonesia. Berita kriminalitas yang menyedot perhatian khalayak ramai adalah berita mengenai pembunuhan. Hampir tiap hari terjadi pembunuhan di tanah air kita.  Jika kita dengar dan amati dengan saksama, sebagian besar modus pembunuhan kerap disebabkan oleh urusan sepele, seperti tersinggung, sakit hati, dendam, bullying, merasa dilecehkan, dihina, difitnah, dan lain sebagainya. Pada dasarnya, semua modus pembunuhan tersebut berawal dari penggunaan bahasa yang tidak baik sehingga komunikasi tidak lagi bertujuan menjaga hubungan yang harmonis,  tetapi memicu konflik antarpribadi dan golongan.

Berjibun adagium yang mengiaskan bahwa begitu pentingnya  menjaga lidah (kata-kata) dalam berbicara dan menjaga kaki dalam berjalan. Salah satunya ialah mulutmu harimaumu. Sangat luar biasa mulut kita ini. Mulut dapat lebih mengaum daripada harimau, menerkam,  membahayakan orang lain, dan bahkan membinasakan sekalipun. Luka yang disebabkan oleh lidah lebih membekas dibandingkan luka yang disebabkan suatu benda. Pepatah Arab lebih tegas menganalogikan bahwa kata-kata itu lebih tajam daripada pedang. Kata-kata mampu melukai dan bahkan “membunuh” seseorang. Dengan kata-kata, kita bisa membunuh karakter seseorang yang sebelumnya baik dan terhormat menjadi seseorang yang buruk dan hina. Dengan  penyebab kata-kata pula, kita bisa menjadi sosok yang berbeda dan mampu membunuh seseorang dengan begitu sadis. Begitu tragisnya pengaruh dari kata-kata.

BACAJUGA

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Menyusuri Luka Kanak-kanak dalam Kumpulan Puisi “Belajar Menanggalkan Bulan”

Minggu, 13/9/26 | 22:05 WIB
Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Modernisme dan Dunia yang Dinamis dalam Karya Sastra

Minggu, 13/9/26 | 09:35 WIB

Kasus yang paling menggemparkan di mata publik pada ujung tahun 2018  adalah kasus pembunuhan satu keluarga Daperum Nainggolan, istri, dan anak-anaknya di daerah Bekasi (13/11) dengan tersangka orang yang paling dekat dengan keluarga korban, yaitu Haris Simamora. Pengakuan Haris membunuh Daperum dan semua anggota keluarganya karena faktor memendam iri dan sakit hati. Bak luka disayat sembilu disiram dengan air cuka, pasti sakitnya tidak tertahankan. Begitu pula yang dirasakan oleh Haris sudah dendam dan sakit hati ditambah pula dengan hinaan yang menjatuhkan harga dirinya. Hinaan itu mungkin menjadi titik klimaks kebencian Haris kepada Daperum sehingga Haris mampu berbuat sesuatu di luar nalarnya. Kata-kata yang diucapkan oleh Daperum membuat Haris meradang dan menyimpan dendam yang begitu dalam.(baca:Liputan6.com). Ternyata, kata-kata hinaan Daperum tersebut telah mengundang kematian bagi dirinya dan keluarganya.

Peristiwa pembunuhan lain yang berawal dari kata-kata ialah kasus tawuran antarkalangan remaja. Tawuran sering terjadi dipicu saling ejek secara langsung ataupun di media sosial. Tidak terima sekolahnya dan temannya dihina maka terjadi baku hantam di tempat terbuka yang memakan korban jiwa. Tawuran tidak hanya berlaku di kalangan pelajar saja, bisa juga pelajar dengan kelompok geng di luar sekolah, seperti tawuran yang terjadi di Jalan Bintaro Utama III Tangerang Selatan awal Desember 2018 lalu. Akibatnya, satu orang pelajar tewas dengan kondisi yang mengenaskan. Semua pelaku yang tertangkap masih di bawah umur. Lagi-lagi disebabkan oleh kata-kata yang tidak terkontrol (baca:Tribunjogja.com).

Kasus pembunuhan terbaru yang diberitakan di televisi nasional hari ini adalah telah terjadi pembunuhan pada Rabu (8/9) 2021 pukul 10.00 WIB di daerah Cilacap dengan pelaku anak kandung dan korban ibunya sendiri. Korban dihabisi anaknya dengan sebilah samurai yang sudah dipersiapkan pelaku. Berita ini cukup miris dan sadis terdengar di telinga serta pikiran berkata, “Kok bisa-bisanya seperti itu?” Penyebabnya sepele. Anak hanya merasa sakit hati kerap dimarahi oleh ibunya. Masih kata-kata juga yang menyebabkan seseorang menghabisi nyawa orang lain. Luar biasa pengaruh dari kata-kata yang diucapkan oleh manusia. Sampai di sini, ada masalah komunikasi yang  tidak berjalan dengan baik.

Pada hakikatnya, komunikasi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia karena manusia adalah makhluk sosial. Dalam kehidupan,  manusia membutuhkan orang lain untuk berinteraksi, aktualisasi diri, saling membantu, berbagi, berkelompok, dan lain sebagainya. Bukan malah saling membunuh bahkan sampai  memusnahkan. Di sinilah letak peran bahasa begitu penting untuk membangun hubungan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Bahasa itu digunakan untuk mengekspresikan diri, berkomunikasi, mengadakan  integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu serta alat untuk melakukan kontrol sosial (Keraf, 1997:3).

Dalam mengekspresikan diri melalui bahasa, seseorang harus sangat hati-hati memilih kata-kata yang ingin digunakan untuk mewakili perasaan. Kesalahan pemilihan kata akan menimbulkan masalah. Terkadang  tanpa sadar, pilihan kata seseorang telah menyinggung perasaan orang lain. Bukan hanya pilihan kata saja yang harus diperhatikan, melainkan juga nada bicara. Kapan seseorang menggunakan nada tinggi, sedang, dan rendah mesti disesuaikan dengan situasi serta menghindari kata-kata yang membuat seseorang bereaksi negatif. Ketidakcermatan  dalam pilihan kata (diksi) dan volume bicara bisa menyebabkan terjadinya kejadian seperti beberapa kasus di atas. Contoh lain ketidakcermatan dalam pilihan kata bisa dilihat pada program televisi berupa talkshow, acara debat yang banyak menyinggung dan membuat sakit hati orang yang mendengarkan. Ujung-ujungnya, sakit hati tersebut bermuara pada kasus hukum mengenai pencemaran nama baik.

Selanjutnya, bagaimana dengan mereka yang dengan sengaja menggunakan pilihan kata-kata untuk “membunuh” mitra bicara atau orang lain? Mereka itulah orang-orang yang dikategorikan tidak bermoral,  orang-orang yang merusak tatanan kehidupan sosial bermasyarakat, orang-orang yang suka menciptakan konflik, orang-orang yang menebar kebencian, dan orang-orang yang suka membangun cerita bohong. Mereka telah banyak melakukan dosa bahasa  (baca: “Dosa Bahasa”, scientia.id, 27 September 2020) dan mereka telah melakukan kejahatan berbahasa (baca: “Kejahatan Berbahasa”, scientia.id, 30 Mei 2021). Sesungguhnya, bahasa itu merefleksikan  siapa penggunanya. Penggunaan bahasa yang baik, tentu saja  menggambarkan pribadi pemakai yang baik pula. Kembali lagi kepada pepatah, yaitu mulutmu harimaumu. Wallahu a’lam bish sawabi.

Tags: #Alex Darmawan
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Mengenal Frasa dan Fungsinya

Berita Sesudah

Yang Terusir dari Tanah Leluhur

Berita Terkait

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Menyusuri Luka Kanak-kanak dalam Kumpulan Puisi “Belajar Menanggalkan Bulan”

Minggu, 13/9/26 | 22:05 WIB

Oleh: Rosidatul Arifah (Alumni S1 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)  Awal September 2026 ini memberikan angin ceria pada...

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Modernisme dan Dunia yang Dinamis dalam Karya Sastra

Minggu, 13/9/26 | 09:35 WIB

Oleh: Maharani Syifa Ramadhan (Alumni Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Mahasiswa Program Magister Sastra Kontemporer, Universitas Padjajaran)   Modernisme...

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Minggu, 13/9/26 | 08:48 WIB

Oleh: Ahmad Hamidi dan Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)    Seekor anjing sedang menggonggong di...

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Minggu, 06/9/26 | 11:00 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Kata pulang merupakan kata yang sangat dekat dengan kehidupan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Jangan Tunggu Hutan Habis untuk Sadar

Minggu, 06/9/26 | 10:37 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik FIB Universitas Andalas) Kita sering baru mengingat hutan ketika bencana datang. Ketika hujan turun...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Bianglala: Menelusuri Makna, Sejarah, dan Jejak Kebudayaan dalam Sebuah Kata

Minggu, 30/8/26 | 16:29 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)   Ketika melihat lengkungan warna-warni yang...

Berita Sesudah
Yang Terusir dari Tanah Leluhur

Yang Terusir dari Tanah Leluhur

Discussion about this post

POPULER

  • Foto bersama usai perayaan puncak dies natalis Unand ke-70 di Pangeran Beach Hotel. Senin malam, (14/9) [foto:sci/yrp)

    Puncak Dies Natalis Unand, Tujuh Alumni Inspiratif Digangjar Anugerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026