
Kabupaten Solok, Scientia.id – Pemilihan Sekretaris Daerah Kabupaten Solok bukan semata-mata tentang siapa yang paling tinggi pangkatnya, paling panjang pengalaman jabatannya, atau paling kuat secara administratif, melainkan tentang siapa yang paling siap menjadi simpul yang menyatukan seluruh kekuatan birokrasi untuk menerjemahkan visi kepala daerah menjadi kerja nyata bagi masyarakat. Pemerintah Kabupaten Solok telah mengumumkan 10 nama yang dinyatakan lolos seleksi administrasi Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama Sekretaris Daerah Kabupaten Solok Tahun 2026, sehingga seluruh kandidat tentu memiliki kapasitas dan rekam jejak yang layak dihormati.
Namun, dalam setiap proses seleksi kepemimpinan, ruang untuk memberikan penilaian publik tetap penting karena Sekda bukan sekadar pejabat administratif, melainkan figur yang akan menentukan bagaimana mesin pemerintahan bekerja secara efektif dan harmonis. Dari sejumlah nama yang mengikuti proses tersebut, Effia Vivi Fortuna (Effia Vivi Fortuna Ahadi Destri, ST, MM), menurut pandangan penulis, merupakan sosok yang patut diperhitungkan secara serius untuk mengemban amanah sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Solok. Pandangan ini bukan dibangun atas dasar kedekatan personal, melainkan pada pertimbangan mengenai pengalaman, kemampuan komunikasi, karakter kepemimpinan, dan kapasitasnya dalam membangun hubungan kerja di lingkungan birokrasi.
Kesalahan terbesar dalam melihat posisi Sekda adalah menempatkannya semata-mata sebagai jabatan administratif tertinggi di lingkungan aparatur sipil negara daerah. Padahal, Sekda berada pada posisi strategis sebagai penghubung antara kepala daerah dengan birokrasi, antara kebijakan dengan pelaksanaan, serta antara berbagai perangkat daerah yang memiliki kepentingan dan karakter kerja berbeda. Karena itu, Kabupaten Solok membutuhkan Sekda yang bukan hanya memahami aturan, tetapi juga mampu memastikan seluruh perangkat daerah bergerak dalam irama yang sama.
Di sinilah kepemimpinan menjadi jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan administratif. Seorang Sekda harus mampu menerjemahkan gagasan politik kepala daerah menjadi agenda birokrasi yang terukur tanpa kehilangan profesionalitas sebagai aparatur sipil negara. Ia harus bisa berbicara dengan pimpinan, memahami persoalan pejabat struktural, sekaligus mendengar suara aparatur di lapisan bawah.
Dalam organisasi pemerintahan, kekuatan tidak selalu lahir dari instruksi yang keras, tetapi dari kemampuan membangun kepercayaan. Ketika aparatur merasa dihargai, didengar, dan dilibatkan, mereka tidak sekadar menjalankan perintah, tetapi memiliki rasa tanggung jawab terhadap tujuan organisasi. Dalam konteks inilah konsep tentang “jembatan hati” dalam kepemimpinan menjadi relevan: sebelum seorang pemimpin mampu menggerakkan organisasi, ia harus terlebih dahulu mampu menyentuh sisi kemanusiaan orang-orang yang dipimpinnya.
Vivi Fortuna dan Modal Komunikasi
Menurut pengamatan penulis, salah satu modal penting yang dimiliki Vivi Fortuna adalah kemampuan membangun komunikasi dalam menjalankan tugas pemerintahan. Pengalaman ketika mengemban amanah di Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan serta jabatan sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Solok memberikan pengalaman dalam menghadapi persoalan birokrasi, pembangunan, koordinasi lintas sektor, dan kebutuhan masyarakat.
Kepemimpinan birokrasi tidak cukup hanya dengan kemampuan memberikan instruksi karena persoalan pemerintahan sering kali membutuhkan koordinasi, negosiasi, dan komunikasi yang panjang. Pemimpin harus mampu menjelaskan arah kebijakan kepada bawahan sekaligus mendengarkan persoalan yang mereka hadapi dalam melaksanakan pekerjaan. Dari proses komunikasi semacam itulah kekompakan organisasi dapat tumbuh.
Seorang pemimpin memang bisa membuat bawahannya bekerja dengan kewenangan yang dimilikinya, tetapi pemimpin yang mampu membangun kepercayaan akan membuat bawahannya bekerja dengan rasa memiliki. Perbedaan keduanya sangat mendasar karena birokrasi yang hanya bergerak karena perintah akan mudah kehilangan energi ketika menghadapi persoalan, sementara birokrasi yang bergerak karena kesadaran kolektif akan lebih mampu bertahan menghadapi tekanan.

Kualitas seorang pemimpin birokrasi juga dapat dilihat dari bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya. Pemimpin yang hanya mampu berkomunikasi dengan pejabat, tetapi kehilangan hubungan dengan staf, pada akhirnya akan memiliki jarak dengan sebagian besar mesin organisasi. Sebaliknya, pemimpin yang mampu membangun komunikasi lintas tingkatan akan lebih mudah memahami persoalan nyata yang terjadi dalam birokrasi.
Dalam pandangan penulis, kemampuan membangun hubungan dan komunikasi dengan berbagai tingkatan aparatur merupakan salah satu nilai yang patut diperhitungkan dari Vivi Fortuna. Ia tidak harus dipandang sebagai figur tanpa kekurangan karena tidak ada manusia maupun birokrat yang sempurna, tetapi dalam memilih seorang Sekda, karakter kepemimpinan semestinya ditempatkan sejajar dengan pengalaman dan kemampuan akademik.
Sebab, pada akhirnya Sekda bukan bekerja sendirian. Ia bekerja melalui ribuan aparatur yang memiliki tugas berbeda-beda, sehingga kemampuan mengonsolidasikan manusia menjadi sama pentingnya dengan kemampuan memahami regulasi. Birokrasi yang kuat bukan birokrasi yang takut kepada pimpinannya, melainkan birokrasi yang percaya kepada kepemimpinannya.
Kabupaten Solok Membutuhkan Sekda yang Bisa Menyatukan
Pemerintahan Kabupaten Solok di bawah kepemimpinan Bupati Jon Firman Pandu dan Wakil Bupati H. Candra membutuhkan birokrasi yang mampu menerjemahkan semangat pemerintahan ke dalam program dan pelayanan yang dirasakan masyarakat. Visi pembangunan tidak akan berarti banyak jika perangkat daerah berjalan sendiri-sendiri, komunikasi antarlembaga tersumbat, atau ego sektoral lebih kuat daripada kepentingan daerah.
Karena itu, Sekda ke depan harus menjadi dirigen yang mampu memastikan setiap perangkat daerah memainkan perannya dalam satu orkestrasi pemerintahan. Ia harus mampu menyatukan perbedaan, menyelesaikan hambatan koordinasi, dan menjaga agar setiap program pemerintah tidak berhenti pada tataran dokumen. Pada titik inilah pengalaman memimpin perangkat daerah dan kemampuan membangun komunikasi lintas sektor menjadi modal yang sangat penting.
Penulis melihat Vivi Fortuna memiliki modal tersebut. Pengalaman birokrasi yang dimilikinya, ditambah pendekatan komunikasi dalam memimpin organisasi, dapat menjadi kekuatan untuk membangun birokrasi Kabupaten Solok yang lebih solid dan kolaboratif.
Dalam filosofi Minangkabau, perempuan memiliki kedudukan penting sebagai Bundo Kanduang, yang antara lain dimaknai sebagai sosok yang menjaga, menguatkan, dan menjadi bagian penting dalam menjaga keutuhan keluarga. Ungkapan “limpapeh rumah nan gadang, umbun puro pegangan kunci” memperlihatkan bagaimana nilai kepemimpinan perempuan dalam kebudayaan Minangkabau tidak semata-mata berkaitan dengan posisi, tetapi juga dengan kemampuan menjaga keseimbangan dan keharmonisan.
Nilai tersebut tentu tidak harus dibaca secara tradisional ketika ditempatkan dalam konteks birokrasi modern. Justru dalam pemerintahan yang kompleks, kemampuan merangkul, mendengar, menenangkan, dan menyatukan dapat menjadi kekuatan kepemimpinan yang sangat dibutuhkan. Ketegasan tetap penting, tetapi ketegasan yang tidak disertai kemampuan membangun hubungan manusiawi berisiko menciptakan jarak dalam organisasi.
Jika kelak seluruh tahapan seleksi menempatkan Vivi Fortuna sebagai figur yang memperoleh kepercayaan untuk menduduki jabatan Sekda, maka kapasitas tersebut dapat menjadi salah satu kekuatan dalam membantu pemerintahan JFP-Candra menjalankan agenda pembangunan daerah. Ia tidak hanya diharapkan hadir sebagai pejabat, tetapi sebagai pengikat berbagai unsur birokrasi agar bekerja dalam satu orientasi.
Pada akhirnya, perdebatan tentang siapa yang paling layak menjadi Sekda harus dikembalikan kepada satu pertanyaan fundamental: untuk apa jabatan tersebut diberikan. Jabatan pemerintahan bukan tempat untuk dilayani, melainkan amanah untuk melayani, sehingga semakin tinggi posisi seseorang dalam birokrasi, semakin besar pula tanggung jawab yang melekat kepadanya.
Sekda tidak hanya dituntut mampu membuat laporan dan menyelesaikan persoalan administratif, tetapi juga harus memastikan kebijakan pemerintah benar-benar bergerak sampai kepada masyarakat. Karena itu, seorang Sekda idealnya memiliki perpaduan antara kapasitas teknokratis, pengalaman birokrasi, kemampuan komunikasi, ketegasan dalam mengambil keputusan, dan kemampuan membangun kepercayaan.
Dalam perspektif tersebut, Vivi Fortuna layak dipertimbangkan bukan karena ia perempuan, bukan pula semata-mata karena jabatan yang pernah diembannya, tetapi karena ada modal kepemimpinan yang menurut penulis relevan dengan kebutuhan birokrasi Kabupaten Solok saat ini. Rekam pengalaman, kemampuan berkomunikasi, pendekatan terhadap bawahan, serta kapasitas membangun hubungan kerja lintas sektor merupakan modal yang layak diuji dalam tahapan seleksi berikutnya.
Seleksi Harus Tetap Objektif, tetapi Publik Berhak Menilai

Tulisan ini tentu tidak dimaksudkan untuk mendahului keputusan Panitia Seleksi maupun Bupati Kabupaten Solok. Sepuluh kandidat yang dinyatakan lolos seleksi administrasi memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk memperlihatkan kemampuan terbaik mereka, sementara keputusan akhir harus tetap berjalan sesuai mekanisme, aturan, dan pertimbangan objektif yang berlaku.
Namun, ruang opini publik tetap diperlukan dalam setiap proses pencarian pemimpin birokrasi karena masyarakat memiliki kepentingan terhadap siapa yang akan menjadi pengendali utama administrasi pemerintahan daerah. Mendukung satu figur tidak berarti merendahkan figur lainnya, sebagaimana memberikan penilaian terhadap seorang kandidat tidak otomatis berarti menghakimi kandidat yang lain. Dalam demokrasi dan pemerintahan modern, argumentasi publik justru dapat menjadi bagian dari proses menguji kualitas kepemimpinan.
Dan jika pertanyaannya adalah siapa yang menurut penulis layak diperhitungkan secara serius, maka jawabannya adalah Effifia Vivi Fortuna Ahadi Destri, S.T., M.M. Ia memiliki pengalaman birokrasi, pengalaman memimpin perangkat daerah, kemampuan komunikasi, serta pendekatan kepemimpinan yang menurut penulis sesuai dengan kebutuhan Kabupaten Solok untuk membangun birokrasi yang lebih solid dan mampu bekerja lintas sektor.
Sebab Kabupaten Solok tidak hanya membutuhkan Sekda yang mampu mengurus administrasi pemerintahan. Kabupaten Solok membutuhkan pemimpin birokrasi yang mampu berpikir jauh, bekerja dengan profesionalitas, mengambil keputusan dengan keberanian, dan pada saat yang sama mampu merangkul aparatur sebagai satu kekuatan bersama.
Sebelum membangun jembatan dari beton dan baja, seorang pemimpin harus terlebih dahulu mampu membangun jembatan hati. Karena pada akhirnya jabatan akan berakhir, kekuasaan akan berganti, dan struktur pemerintahan akan terus berubah, tetapi cara seorang pemimpin memperlakukan manusia akan selalu meninggalkan ingatan.
Dalam konteks itulah nama Vivi Fortuna layak diperhitungkan dalam perjalanan menuju kursi Sekretaris Daerah Kabupaten Solok: bukan karena kedekatan, bukan karena sekadar jabatan yang pernah diemban, tetapi karena Kabupaten Solok membutuhkan kepemimpinan birokrasi yang mampu bekerja dengan pikiran, memimpin dengan ketegasan, dan merangkul dengan hati. (*)








