Kamis, 29/10/26 | 18:56 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI

TAHARAH

Jumat, 05/6/20 | 21:09 WIB

Ustadz H. Fakhry Emil Habib

Rubrik Cahaya Qalbu ini Diasuh Oleh:
Ustadz Fakhry Emil Habib, Lc, Dipl. Tuangku Rajo Basa

Alumni:
S1 Universitas Al-Azhar Fakultas Syariah Islam dan Hukum (2011-2015).
Pasca Sarjana Universitas Al-Azhar Fakultas Dirasat Ulya Jurusan Usul Fikih (2016-2017).
Peneliti Magister Universitas Al-Azhar jurusan Usul Fikih (2018-Sekarang).

 

BACAJUGA

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Bahasa Militer di Kalangan Gen Z

Minggu, 25/10/26 | 22:30 WIB
Dari Sagu ke Pasar Digital: Peluang UMKM Lokal Menembus Batas

Dari Sagu ke Pasar Digital: Peluang UMKM Lokal Menembus Batas

Minggu, 25/10/26 | 20:14 WIB

Pendahuluan
Kebanyakan ulama memulai penulisan fikih dengan hukum taharah. Ini dilakukan karena taharah merupakan syarat salat yang merupakan tiang agama, dan merupakan rukun Islam paling utama setelah syahadat. Selain itu, taharah juga berkaitan dengan banyak ibadah lain.[1]

Pengertian taharah

Secara bahasa, taharah berarti bersih dan bebas dari kotoran kongkret seperti najis, ataupun kotoran abstrak seperti aib dan maksiat. Makna ini tampak pada pernyataan Arab : تَطَهَّرَ مِنَ الدَّنَسِ (suci dari kotoran), artinya bersih dari kotoran tersebut dan pernyataan : تَطَهَّرَ مِنَ الْحَسَدِ (suci dari dengki), artinya bebas dari dengki tersebut.

Dalam istilah syarak, taharah bermakna menghilangkan hadas, najis dan apapun yang semakna dan sebentuk dengan perbuatan tersebut. Hadas adalah sifat melekat pada badan, yang menghalangi sahnya salat dan beberapa ibadah lain, disebabkan oleh pembatal-pembatal wudu atau sebab-sebab mandi. Najis adalah materi kotor yang menimpa badan, pakaian ataupun tempat.

Teks “apapun yang semakna dan sebentuk dengan perbuatan tersebut” mencakup tayamum, mandi sunah -seperti mandi Jumat-, memperbarui wudu, basuhan kedua dan ketiga, mengusap telinga, berkumur serta taharah sunah lainnya. Termasuk di dalamnya adalah perbuatan taharah wanita yang istihadah, orang yang keluar kencingnya tidak bisa dikontrol. Tindakan-tindakan ini secara hakikat tidak mengangkat hadas ataupun najis -berdasarkan pendapat yang ashahh-, namun tetap masuk ke dalam kategori taharah.[2]

Hubungan antara makna bahasa dan istilah syarak taharah adalah bahwa Allah mensyariatkan taharah demi terwujudnya kebersihan, karena Islam mengajarkan kebersihan inderawi dan maknawi. Hal ini tampak dalam bagaimana syariat mengaitkan kesucian dengan salat yang berulang setidaknya lima kali dalam sehari, sehingga seorang muslim terbebas dari segala bentuk kotoran.

Bahkan, taharah juga tetap disyariatkan meskipun tidak ada najis dan kotoran, boleh jadi untuk membangkitkan semangat, relaksasi ataupun murni beribadah kepada Allah. Makanya Islam memerintahkan taharah pada banyak kesempatan demi menjaga kesucian fitrah dan kesehatan lahir seorang muslim.

Media bersuci yang paling penting adalah air yang diciptakan Allah dengan segala kelebihan materi asli yang terkandung di dalamnya dibandingkan dengan cairan lain. Maka pembahasan taharah selanjutnya, kita akan mulai dengan mengkaji air dan jenis-jenisnya. (*)

Catatan Kaki:

[1]. Khathib al-Syirbini berkata, “Para ulama mendahulukan pembahasan ibadah dari pada muamalah karena menganggap urusan agama lebih utama dari pada urusan dunia, mendahulukan muamalah dari pada hal berkaitan dengan nikah karena lebih dibutuhkan, mendahulukan pernikahan dari pada pidana karena pembahasan nikah lebih dibutuhkan. Pembahasan pidana dijadikan pembahasan terakhir karena jarang terjadi berdasarkan yang sudah-sudah,” (Mughni al-Muhtâj I/17).
[2]. Al-Majmû’ (I/123), Mughni al-Muhtâj (I/16).

ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pilkada Serentak 2020 di Tengah Pandemi Covid-19

Berita Sesudah

Pilkada Pandemi

Berita Terkait

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Bahasa Militer di Kalangan Gen Z

Minggu, 25/10/26 | 22:30 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Linguistik dan Manajer Akademik FIB Universitas Andalas) Di ruang kelas, saya mendapatkan mahasiswa...

Dari Sagu ke Pasar Digital: Peluang UMKM Lokal Menembus Batas

Dari Sagu ke Pasar Digital: Peluang UMKM Lokal Menembus Batas

Minggu, 25/10/26 | 20:14 WIB

Oleh: Maryatul Kuptiah (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Di Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki potensi alam...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Peran Ibu Tunggal dalam Film “Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu?”

Minggu, 25/10/26 | 18:30 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya dan Anggota Labor Penulisan Kreatif, Universitas Andalas) Ada film yang berakhir...

Suatu Hari di Sekolah

Sepanjang Segelas Kopi Susu

Minggu, 25/10/26 | 17:48 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Segelas kecil kopi susu ternyata bisa habis dalam satu...

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Minggu, 18/10/26 | 16:21 WIB

Oleh: Lili Herlina (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas) Ketika membicarakan masalah pertanian, perhatian sering kali tertuju pada...

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Minggu, 18/10/26 | 15:52 WIB

Oleh: Puspandhari Ilsa Pinasty (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas)   Bayangkan seorang anak rantau yang akhirnya mampu...

Berita Sesudah

Pilkada Pandemi

Discussion about this post

POPULER

  • Kasat Lantas Polres Pariaman, IPTU Afrizal Sahar.[foto:ist]

    Satlantas Polres Pariaman Siap Laksanakan Operasi Patuh Singgalang 2026, Kerahkan 26 Personel

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hari Kedua OPS, Polisi Pariaman Prioritaskan Edukasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Anak Disabilitas di Pessel Belum Tuntas, Keluarga Pertanyakan Penanganan Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tim Resmob Polda Sumbar Tangkap Judi Online di Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Kota Padang Kawal Hak Pasien dan Nasib Driver Maxim, 10 Tuntutan Jadi Agenda Penting

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firdaus: Patuhi Aturan Lalu Lintas, Keselamatan Bukan Sekadar Hindari Tilang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yusri Latif Dukung Pelestarian Silat Tradisi, Jaga Warisan Budaya Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026