Belajar dari Taiwan


Oleh:
Wizri Yasir

Ketua Umum DPD BKPRMI*
Lima Puluh Kota
.

Tidak banyak orang di dunia membicarakan Taiwan dalam menangani wabah Covid-19. Mereka merupakan Negara tersendiri, punya Pemerintahan dan Presiden sendiri, walaupun banyak yang tidak mengakuinya, mungkin saja didasarkan pada sebuah kepentingan politik.

Namun kita tidak membahas itu. Kita belajar bagaimana mereka membuat dunia terkagum atas tindakan mereka mengatasi penyebaran Covid-19. Sehingga ada yang menyebut Taiwan sebagi Pahlawan Coronavirus.

Taiwan sampai hari ini adalah negara paling sedikit terjangkit Coronavirus di dunia. Walaupun berbatasan langsung dengan China yang diklaim sebagai npusat Penyebaran virus tersebut, terutama Wuhan. Berdasarkan rilis WHO, warga Taiwan yang terjangkit hanya 429 orang, dengan kematian 6 orang. Dan beberapa hari terakhir ini yang menggembirakan adalah nol kasus baru yang terkonfirmasi.

Tidak ada karantina (Lockdown) atau PSBB layaknya Indonesia. Sekolah sekolah tetap buka, denyut ekonomi terus berlanjut, pasar, mall, tempat wisata dan rekreasi tetap buka. Bahkan stadion olahraga tetap menggelar pertandingan.

Lantas apa yang mereka lakukan sampai sedemikian rupa. Perkembangan kasus menjadi nol.

Kunci utama mereka adalah sosial dan physical distancing. Rakyat Taiwan sadar dan menganggap Coronavirus Diseases (Covid-19) berbahaya. Mereka saling bantu satu sama lain agar semua orang menggunakan masker.

Semenjak kasus merebak di Wuhan, mereka negara pertama yang menutup penerbangan dari China, terutama dari Wuhan. Mereka juga negara pertama yang melakukan tes terhadap warganya.

Dan hebatnya, mereka melakukannya sendiri alias tanpa bantuan negara lain di dunia. Karena mereka tidak diakui sebagai sebuah negara termasuk oleh WHO. Sehingga tak banyak yang bisa membantu. Dengan kata lain mereka memang sendiri melakukannya.

Hari ini mereka sebagai negara demokratis dan terbuka seperti ungkapan presidennya, Tsai Ing Wen, sudah membantu negara lain seperti Amerika, Jepang, Pilipina, Negara di Afrika dan Fiji untuk menangani masalah Covid-19.

Terlepas dari itu semua, kita perlu belajar ke Taiwan. Bagaimana mereka tidak melakukan Karantina/Lockdown/PSBB, sementara pasar, tempat rekreasi, sekolah dan pusat ekonomi lainnya tetap buka.

Kuncinya memang tingkat kepatuhan masyarakat dalam melakukan anjuran pemerintah terkait sosial distancing dan physical distancing agar penyebaran lokal bisa dihambat. Mereka juga tidak panik sehingga wabah tidak mudah berkembang.

Begitu juga dengan tugas Negara. Hentikan sementara semua akses masuk darat, laut, dan udara dari semua negara/daerah yang sudah terjangkit. Kalau sudah terlanjur Lockdown/Karantina/PSBB, penuhilah hak warga untuk mendapatkan pelayanan dari negara yang dicintainya terutama persoalan hidup dan kehidupan yang layak.

Semoga, dengan tingkat kepatuhan semua elemen yang merasa menjadi bagian dari NKRI ini, Coronavirus segera berlalu.(*)

*BKPRMI:
Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia

Comment