Senin, 16/2/26 | 23:18 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Puisi “Aku” dalam Perjuangan

Minggu, 05/9/21 | 07:00 WIB

Rizky Amelya Furqan, S.S., M.A.
(Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

 

Puisi menjadi bagian dari karya sastra yang sering dibicarakan dan ditulis oleh banyak orang. Menurut Riffatere, puisi selalu berubah-ubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan konsep estetiknya (1978:1). Melihat perkembangan puisi, ada dua klasifikasi puisi secara umum, yaitu puisi lama dan puisi baru. Pantun, syair, gurindam, dan sebagainya merupakan bagian dari kelompok puisi lama. Sedangkan puisi baru adalah puisi-puisi yang ditulis oleh penulis-penulis yang sudah dikenal oleh banyak orang seperti saat ini, serta penulisan puisi baru tidak lagi terikat dengan aturan bait ataupun rima.

Salah satu penulis puisi baru Indonesia adalah Chairil Anwar. Chairil Anwar adalah seorang sastrawan pada angkatan 45 yang dianggap memunculkan kebaruan pada gaya penulisan puisi pada saat itu sehingga ia dianggap sebagai pelopor angkatan 45. Sastrawan kelahiran 26 Juli 1922 ini meninggal di Jakarta pada tanggal 28 April 1949 pada usia 27 tahun. Penulis puisi dengan julukan “Si Binatang Jalang” ini telah berkecimpung kurang lebih tujuh tahun dengan puisi. Banyak sajak yang telah ditulis oleh Chairil Anwar. Dalam buku Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 yang ditulis oleh H.B. Jassin dijelaskan ada 94 sajak Chairil Anwar yang telah dikumpulkan. Pada buku tersebut dijelaskan 94 sajak tersebut ada beberapa di antaranya yang merupakan sajak saduran dan terjemahan.

BACAJUGA

Skizofrenia antara Bahasa dan Realitas

Skizofrenia antara Bahasa dan Realitas

Minggu, 14/9/25 | 15:33 WIB
Memori Kolektif Warisan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto

Memori Kolektif Warisan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto

Minggu, 06/10/24 | 06:53 WIB

Terlepas dari temuan terkait beberapa puisi yang ditulis Chairil Anwar adalah saduran atau terjemahan, seperti yang disampaikan H.B. Jassin dalam bukunya. Pada beberapa puisi yang ditulis oleh Chairil Anwar terlihat bahwa dalam penulisannya ia masih dipengaruhi oleh kontrol Jepang sehingga bahasa yang digunakan terkesan lebih halus dibandingkan dengan penulis sebelumnya. Bahasa yang digunakan oleh Chairil Anwar dalam menulis puisi dianggap lebih hidup.

Salah satu puisi Chairil Anwar yang terkenal adalah puisi “Aku”

Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu taun lagi

Dari puisi yang ditulis Chairil Anwar pada Maret 1943 ini, dijelaskan bahwa sebuah perjuangan harus diselesaikan hingga tuntas. Puisi ini tidak bisa terlepas dari unsur penjajahan karena pada saat itu adalah saat Jepang masih berkuasa. Hal inilah yang mengakibatkan dalam puisi tersebut masih tergambar ada unsur nasionalisme sekaligus individualis.

Jika bait pertama dan kedua dikaitkan dengan kondisi negera pada saat itu, akan ditemukan juga unsur nasionalis yang terkandung dalam bait tersebut. Secara harfiah nasionalis berarti orang yang memperjuangkan kepentingan bangsanya. Hal ini digambarkan oleh Chairil Anwar dengan kata tidak akan terprovokasi dengan apa pun. Hal inilah yang dilakukan oleh pemuda Indonesia pada saat memperjuangkan kemerdekaan, bahkan ketika terjadi perbedaan pendapat terkait waktu memproklamasikan kemerdekaan Indonesia sehingga terjadi peristiwa Rangesdengklok.

Melihat puisi yang ditulis oleh Chairil Anwar, ia dianggap mempunyai ideologi individualisme. Individualisme dianggap sebagai kelas yang menginginkan kebebasan. Dengan demikian, ia bisa mengakses apa pun, di manapun, dan kapan saja. Hal tersebut juga tergambar dalam puisi Aku yang ditulisnya, yaitu dia ingin menikmati kebebesan tanpa diintervensi oleh siapa pun dan dalam keadaan apa pun.

Pada puisi tersebut juga dapat dilihat bahwa ada proses memisahkan diri yang dilakukan oleh Chairil Anwar. Hal ini tergambar dalam bait berikutnya yang mengatakan bahwa dia adalah binatang jalang dari kumpulan orang yang terbuang. Binatang jalang mengibaratkan pada sosok yang rendah dan dari kumpulan orang terbuang berarti dikucilkan oleh masyarakat. Namun, tidak terjadi kegentaran terhadap hal tersebut yang tergambar pada bait berikutnya. Jika, hal ini dikaitkan dengan nasionalisme, terlihat bagaimana tidak ada rasa takut yang dirasakan oleh Chairil Anwar walaupun dia dalam keadaan dikucilkan dan dianggap sebagai kaum rendahan.

Bait selanjutnya menjelaskan bahwa Chairil Anwar akan tetap dengan dirinya sampai kapan pun. Hal ini, menggambarkan bahwa individualisme mendominasi Chairil Anwar. Ada ketidakpedulian yang tertanam dalam puisi tersebut sekaligus bagaimana ia bertahan dengan prinsip yang ditanamkan tanpa mempedulikan resiko yang akan diperoleh. Namun, tidak bisa langsung disimpulkan bahwa Chairil Anwar adalah seorang individualis sepenuhnya. Hal ini terlihat dalam sajak-sajak Chairil Anwar Menghembuskan Jiwa, Semangat dan Cita-cita Muda dalam Artian Segar-bugar, Hidup dan Menggerakkan.

Pada hakikatnya, angkatan 45′ tidak bisa terbebas dari nasionalisme karena baru terbebas dari penjajahan. Hal tersebut yang mempengaruhi Chairil Anwar menulis puisi perjuangan. Kemudian, individualisme yang ada pada diri Chairil Anwar tidak sama dengan individualisme Barat. Hend Mayer berpendapat bahwa Chairil Anwar individualis, tetapi masih merasa dirinya terasing. Hal ini terjadi karena Chairil Anwar lahir dan besar di Indonesia yang masih menganggap individualisme hanyalah sebuah ide yang tidak bisa direalisasikan sehingga banyak unsur yang tidak mendukung sepenuhnya perihal paham individualisme yang dianut oleh seseorang.

Tags: #Rizky Amelya Furqan
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-Puisi Mhd. Irfan

Berita Sesudah

Salah Kaprah dengan Kata Sedikit, Mungkin, dan Kebetulan

Berita Terkait

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” dari Perspektif Psikoanalisis

Minggu, 15/2/26 | 17:22 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   Robohnya Surau Kami merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh...

Perspektif Ekologis dalam Berbahasa

Ancaman Ekologis Krisis Air dari Tren Penggunaan AI di Media Sosial

Minggu, 15/2/26 | 17:14 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Kecerdasan buatan artificial inteligence (AI) secara luas telah digunakan dalam...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa yang Membentuk Cara Kita Membenci

Minggu, 01/2/26 | 15:17 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik Universitas Andalas)   Kebencian jarang lahir dari kekosongan. Ia tumbuh pelan-pelan, disirami kata-kata, dipupuk...

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Minggu, 01/2/26 | 15:10 WIB

Oleh: Rosidatul Arifah (Mahasiswi Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif LPK FIB Universitas Andalas)   Pembahasan mengenai perempuan sering...

Pemilu Indonesia: Antara Demokrasi Substantif dan Demokrasi Prosedural

Pemilu Indonesia: Antara Demokrasi Substantif dan Demokrasi Prosedural

Selasa, 27/1/26 | 18:38 WIB

Oleh: Firnanda Amdimas (Mahasiswa Jurusan Hukum, Universitas Muhammad Natsir Bukittinggi)   Pemilihan umum (pemilu) merupakan pilar utama demokrasi di Indonesia....

Batu dan Zaman

Baju Berani Loppy: Mengelola Kecemasan Melalui Sastra Anak

Senin, 26/1/26 | 06:34 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa  (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)  Selama ini, sastra anak kerap diposisikan sebagai...

Berita Sesudah
Jelajah Kata: Ramadhan atau Ramadan?

Salah Kaprah dengan Kata Sedikit, Mungkin, dan Kebetulan

Discussion about this post

POPULER

  • Perspektif Ekologis dalam Berbahasa

    Ancaman Ekologis Krisis Air dari Tren Penggunaan AI di Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” dari Perspektif Psikoanalisis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gubernur Sumbar Turun ke Lapangan, Pastikan Pembenahan Sungai dan Air Bersih di Padang Berjalan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Pintar, Cerdas, Pandai, Cakap, Cerdik, dan Mahir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024