Senin, 05/10/26 | 00:28 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Dunia Online dan Kosakata Baru

Minggu, 04/10/26 | 22:11 WIB
Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Manajer Akademik dan Dosen Linguistik FIB UNAND)

Kehadiran ojek online merupakan sebuah fase baru dalam dunia ekonomi Indonesia. Tiba-tiba ribuan orang berprofesi sebagai ojek online. Profesi baru pun lahir, yakni driver online. Biar bergengsi, harus menggunakan bahasa Inggris karena ketika memakai sopir digital atau sopir daring, rasanya lucu juga.

Ini sekaligus menjadi fase baru bahwa profesi menjadi tukang ojek itu bergengsi. Bukannya malu dan merasa rendah diri, ribuan orang menunjukkan bahwa mereka bangga mengenakan jaket hijau. Hingga muncul slogan, “Hijaukan Jakarta”. Maknanya bukan berarti ribuan tanaman tumbuh di Jakarta, tetapi dari atas langit, ribuan orang berkendara berjaket hijau, menunjukkan “kami ada”. Kami merujuk kepada driver ojek online.

Sejak saat itu, sebuah komunikasi digital pun lahir. Orang-orang tidak perlu khawatir berada di rumah saja. Mereka tinggal membuka aplikasi, driver online akan datang menjemput. Mereka tinggal memilih menu, makanan pun akan datang ke rumah. Mereka tinggal memilih jasa kirim paket, barang akan diantar dari satu rumah ke rumah yang lain. Begitu dahsyatnya ojek online—mengubah dunia yang awalnya konvensional menjadi dunia yang serba digital.  Akibatnya, sejumlah kata muncul dan dipasangkan dengan kata online, seperti rapat online, diskusi online, seminar online, pembelajaran online, pendaftaran online, media online, berita online, toko online, dan konten online.

Leksikon online ini kemudian menjadi bencana bagi Indonesia. Kosakata Indonesia seperti dijajah oleh bangsa asing. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Republik Indonesia pun berusaha menyelamatkan kosakata bahasa Indonesia. Leksikon online dicarikan padanannya hingga muncullah daring. Upaya ini berhasil sehingga sejumlah leksikon hadir dan berpasangan dengan kata daring untuk menggantikan kata online. Sejumlah kata yang sudah berpasangan dengan kata online diganti berpasangan dengan kata daring sehingga lahirlah rapat daring, diskusi daring, seminar daring, pembelajaran daring, pendaftaran daring, media daring, berita daring, toko daring, dan konten daring.

BACAJUGA

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Istilah Uang Pemasukan

Minggu, 27/9/26 | 10:16 WIB
Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

“Nominalisasi” dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis

Minggu, 20/9/26 | 18:23 WIB

Upaya ini berhasil. Masyarakat tidak canggung menggunakan kata daring. Namun, upaya melahirkan kata baru dengan menggunakan kata online tidak pernah berhenti. Masyarakat Indonesia memang sangat kreatif, khususnya yang berdampak ekonomi. Karena jumlah anak di Indonesia selalu meningkat dan dunia online menyuguhkan tontonan singkat yang dapat meningkatkan dopamin atau hormon kebahagiaan, sasarannya pun berubah. Dari orang-orang dewasa, kini menyasar anak-anak balita, anak-anak, dan remaja.

Di meja makan, anak usia satu tahun sudah dibungkam dengan (katanya) tontonan edukasi, mulai dari CoComelon, Pinkfong, Numberblocks, hingga Tayo. Para orang tua menganggap ini hiburan untuk anak karena hanya sebuah animasi. Namun, para orang tua lupa bahwa anak-anak mereka sudah diasingkan. Komunikasi antara orang tua dan anak tidak lagi pada tatapan mata dan sentuhan tangan, tetapi sodoran handphone (hape). Sodorkan hape, anak diam. Padahal, inilah awal mula anak-anak mengalami speech delay. Mereka terlambat berbicara karena komunikasi antara bahasa ibu yang diterima anak bukan lagi bahasa daerah, melainkan bahasa CoComelon, Pinkfong, Numberblocks, dan Tayo.

Orang tua juga tidak sadar bahwa tontotan CoComelon, Pinkfong, Numberblocks, hingga Tayo merupakan pintu masuk bagi anak yang dalam masa pertumbuhan menjadi anak-anak yang kecanduan konten digital. Dari fase mampu berhadapan dengan ibu dalam waktu berjam-jam menjadi anak yang hanya betah bertahan 1 menit berkomunikasi dengan ibu, ayah, kakak, dan adik. Satu menit sosial, sisanya online.

Tak heran bahwa kemudian orang-orang yang duduk di kafe kemudian sibuk dengan ponsel masing-masing. Mereka memastikan semua aktivitas terunggah ke dunia daring, baru kemudian membicarakan, menertawakan, dan merasakan kebahagiaan dengan apa yang sudah dilihat dari unggahan. Ini pula kemudian menjadikan sekelompok orang berteman karena leksikon baru lainnya dari online, yaitu game online. Sekelompok anak muda duduk di taman, di kafe, dan di kelas, hingga kakak adik dan para sepupu duduk di meja makan hanya untuk memastikan mereka berada dalam game online.

Kalau ada yang bertanya, bagaimana cara menyatukan komunikasi antara dua orang anak kecil usia sekolah dasar? Berilah mereka hape, tunggulah 5 menit, mereka akan akrab dan membicarakan game online yang dimainkan. Namun, cobalah tanpa hape, hingga satu jam pun, mereka akan diam-diam saja, bahkan merengek kepada orang tua untuk meminjam hape. Mengapa? Bagi mereka, ini sebuah kesempatan. Ketika orang tua bertemu temannya, mereka punya waktu untuk masuk ke dunia online, khususnya game online. Orang tua butuh waktu berbicara, mereka punya waktu untuk berselancar.

Namun, banyak yang kemudian tidak menyadari, dunia hiburan ini kemudian merenggut masa depan anak muda yang sedang duduk di perkuliahan. Seorang balita satu tahun dengan dopamin CoComelon, kemudian menjadi pencinta game online, lalu terjebak pada dunia baru yang tidak akan pernah mereka sadari kemudian, yakni judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol). Dua frasa ini kemudian menjadi frasa paling mengerikan saat ini yang mampu merenggut dopamin atau hormon kebahagiaan seseorang.

Judi online atau judol menawarkan kebahagiaan sesaat karena mereka berpikir ada kemungkinan ribuan peluang untuk menjadi pemenang dengan taruhan uang. Padahal, hanya lempar koin yang mempunyai peluang 50%, sedangkan game online lainnya mempunyai peluang lebih kecil, bahkan ada yang hanya memiliki peluang menang 0,1 persen, seperti lotre. Ketika uang yang dipertaruhkan hilang, tentu ada upaya untuk mendapatkan kembali. Caranya, bertaruh kembali. Itulah mengapa kemudian hadir frasa pinjaman online atau pinjol sebab uang yang dimiliki memiliki keterbatasan.

Sadar atau tidak, dua frasa ini merupakan lingkaran setan yang tidak akan pernah berhenti. Setiap yang memulai, pasti akan berakhir dengan rasa penyesalan, kekhawatiran, kegelisahan, tekanan batin, hingga sebuah frasa bunuh diri. Kecuali bagi orang-orang yang mempunyai iman, keluarga dan lingkungan yang mendukung, mereka bisa terlepas dari frasa ini.

Di sinilah kemudian seseorang perlu diedukasi bahwa leksikon online tidak selamanya menawarkan hormon kebahagiaan, tetapi pada suatu masa juga dapat merenggut hormon kebahagiaan. Kita harus memilih berhenti. Mengedukasi anak-anak muda dan orang-orang di sekitar kita itu sebuah kewajiban bahwa jangan pernah mencoba memulai game online dengan menggunakan uang. Kuasa berada di tangan kita. Kita harus mengendalikan dunia online, jangan sampai dunia online mengendalikan kita.

Tags: #Ria Febrina
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Wawako Padang Hadiri Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tingkat Kota Padang.

Berita Sesudah

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Berita Terkait

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Istilah Uang Pemasukan

Minggu, 27/9/26 | 10:16 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Forein Studies, Korea Selatan) Di dalam kehidupan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

“Nominalisasi” dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis

Minggu, 20/9/26 | 18:23 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Nominalisasi adalah proses mengubah kata kerja menjadi kata...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Humor Profesor Linguistik

Minggu, 13/9/26 | 21:55 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Linguistik dan Manajer Akademik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) “Mengapa orang yang pensiun...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Prompt AI dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis

Minggu, 06/9/26 | 23:00 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Saat ini, AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Perbedaan kata Pas, Cocok, Sesuai, dan Relevan

Minggu, 30/8/26 | 16:13 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies) Kata pas, cocok, sesuai, dan...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Psikologi Bahasa: Kompetisi dan Kolaborasi

Minggu, 16/8/26 | 22:38 WIB

Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Universitas Andalas baru saja menyambut...

Berita Sesudah
Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

POPULER

  • Lele Raksasa (Foto: Ist)

    Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rocky di Ketinggian 30.000 Kaki

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026