
Oleh: Indri Rahmadani
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)
Sastra anak tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan karakter dan pengembangan. Salah satu karya yang menunjukkan fungsi tersebut adalah cerpen anak “Hasrat George” yang dimuat dalam majalah Bobo. Sastra anak adalah karya sastra yang disusun sesuai dengan dunia anak sehungga mampu memberikan pengalaman estetis sekaligus pemahaman edukatif bagi pembacanya (Nurgiantoro, 2018). Cerpen ini mengisahkan tentang perjalanan George Federick Handel, seorang anak yang memiliki kecintaan besar terhadap musik meskipun harus menghadapi penolakan dari ayahnya yang menginginkan ia menjadi dokter. Melalui kisah yang sederhana ini, pengarang berhasil menyampaikan pesan tentang kegigihan, ketekunan, keberanian dalam memperjuangkan cita-cita. Menariknya, kekuatan cerpen di sini tidak hanya dari amanat yang disampaikan, tetapi juga pada penggunaan bahasa yang membangun keindahan dan daya tarik cerita. Oleh karena itu, cerpen ini dapat dikaji melalui pendekatan stilistika yang menyoroti aspek kebahasaan, seperti diksi, gaya bahasa, citraan, dan struktur kalimat.
Dari aspek diksi, pengarang cenderung menggunakan kata-kata yang sederhana dan mudah dipahami oleh pembaca anak-anak. Pilihan kata seperti belajar, bermain, berlari, dan mendengar merupakan kosakata yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kesederhanaan diksi tersebut yang membuat cerita mudah diikuti dan pesan yang terkandung di dalamnya dapat diterima dengan baik oleh pembaca. Hal ini sejalan dengan pendapat (Nurgiantoro, 2018) bahwa bahasa dalam sastra anak sebaiknya menggunakan pilihan kata yang sesuai dengan perkembangan bahasa anak agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik.
Salah satu diksi yang menarik perhatian dari cerpen ini adalah penggunaan kata kendati. Kata ini muncul dalam kalimat, “Kendati George menekuni pelajaran di sekolah, tetapi niatnya untuk menjadi pemain musik amat membara” dan “Kendati begitu ia mencobanya.” Secara makna, kata kendati berarti meskipun atau walaupun. Dalam bahasa Indonesia masa kini, khususnya dalam komunikasi sehari-hari, penggunaan kata kendati sudah jarang ditemukan. Masyarakat lebih sering menggunakan kata meskipun, walaupun, atau meski karena dianggap lebih akrab dan praktis. Oleh sebab itu, penggunaan kata kendati dalam cerpen ini menunjukkan adanya perbedaan gaya bahasa antara karya sastra anak pada masa lalu dan bahasa yang lazim digunakan saat ini. (Chaer, 2014) menjelaskan bahwa perkembangan bahasa dipengaruhi oleh perubahan frekuensi penggunaan.
Dari sudut pandang stilistika, pemilihan kata kendati memberi kesan formal, santun, dan lebih literer dibandingkan sinonimnya. Kata tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penghubung antar klausa, tetapi juga membantu membangun suasana naratif yang lebih elegan. Kehadirannya menunjukkan bahwa majalah Bobo pada masa itu tidak hanya bertujuan menghibur pembaca anakanak, tetapi juga memperkenalkan kosakata yang lebih beragam. (Ratna, 2009) menyatakan bahwa setiap pilihan kata dalam karya sastra memiliki fungsi estetis yang membangun ciri khas pengarang.
Selain kendati, terdapat pula penggunaan kata hasrat pada judul cerpen. Penggunaan kata kendati juga memperlihatkan adanya perbedaan gaya bahasa antara cerita anak yang dimuat dalam Majalah Bobo pada masa lalu dengan cerita anak masa kini. Saat ini, banyak penulis lebih memilih menggunakan kosakata yang sangat dekat dengan bahasa lisan agar mudah dipahami oleh pembaca muda. Sebaliknya, cerita dalam Majalah Bobo masih mempertahankan penggunaan kosakata baku yang dapat memperkaya perbendaharaan kata pembacanya. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian (Prasetyo & Semarang, 2020) yang menyatakan bahwa cerita anak dalam Majalah Bobo tidak hanya menggunakan bahasa yang komunikatif, tetapi juga memperkenalkan kosakata yang memiliki nilai estetis sehingga mampu meningkatkan kemampuan berbahasa anak.
Pengarang juga menggunakan beberapa diksi yang bersifat deskriptif, seperti membara, jernih, mendayu-dayu, dan terengah-engah. Kata membara digunakan untuk menggambarkan semangat George yang tidak pernah padam meskipun menghadapi berbagai hambatan. Kata jernih dan mendayu-dayu digunakan ketika mendeskripsikan suatu organ yang dimainkan sehingga pembaca dapat membayangkan keindahan musik yang didengar George. Sementara itu, kata terengah-engah memberikan gambaran yang jelas mengenai kondisi George saat berlari mengejar kereta ayahnya. Penggunaan diksi-diksi tersebut menunjukkan kemampuan pengarang dalam membangun suasana dan emosi melalui pemilihan kata. Dari aspek bahasa, cerpen ini lebih dominan menggunakan bahasa denotatif daripada bahasa konotatif. Pengarang menyampaikan cerita secara langsung tanpa banyak menggunakan simbol atau ungkapan yang rumit. Pemilihan ini sangat sesuai dengan karakteristik pembacanya, yaitu anak-anak.
Menurut Nurgiyantoro (2018), penggunaan bahasa yang sederhana merupakan salah satu karakteristik sastra anak karena tujuan utama karya tersebut ialah menyampaikan cerita dan nilai moral tanpa menimbulkan kesulitan dalam memahami isi cerita. Meskipun demikian, terdapat unsur estetis yang muncul melalui penggunaan deskriptif dan penggambaran suasana. Misalnya pada kalimat, “Nada-nadanya jernih dan mendayu-dayu, mengisi udara yang jernih.” Kalimat tersebut menghadirkan citraan pendengaran yang kuat sehingga pembaca seolah-olah dapat mendengar alunan musik yang memikat perhatian George. Selain deskripsi, terdapat pula penggunaan repetisi atau pengulangan kata, misalnya pada kata jernih yang digunakan dua kali dalam satu kalimat. Pengulangan tersebut bukan merupakan kesalahan bahasa, melainkan strategi stilistika untuk memperkuat gambaran suasana dan mempertegas kesan keindahan musik. (Keraf, 2009) menjelaskan bahwa repetisi merupakan salah satu bentuk gaya bahasa yang digunakan untuk memberikan penekanan terhadap gagasan tertentu.
Aspek citraan menjadi salah satu unsur stilistika yang cukup menonjol dalam cerpen ini. Pengarang banyak memanfaatkan citraan pendengaran untuk memperkuat tema musik yang menjadi inti cerita. Suara organ gereja, latihan paduan suara anak-anak, dan alunan musik yang dimainkan George menjadi bagian penting dalam membangun imajinasi pembaca. Selain citraan pendengaran, terdapat pula citraan gerak yang tampak ketika George berlari mengejar kereta ayahnya. Penggambaran ini lah yang membuat cerita terasa lebih hidup dan dinamis.
Struktur kalimat yang digunakan pengarang cenderung sederhana dan efektif. Sebagian besar kalimat disusun dalam bentuk yang tidak terlalu panjang sehingga mudah dipahami oleh pembaca anak-anak. Contohnya tampak pada dialog-dialog seperti, “Ayah, saya ikut!” atau “Saya ingin mencobanya, Tuan.” Kalimat pendek tersebut membuat cerita mengalir cepat dan mudah diikuti oleh pembaca. Struktur kalimat yang sederhana membantu memperkuat karakter George sebagai anak yang jujut, polos, dan penuh semangat.
Dari segi penokohan, karakter George dibangun melalui tindakan dan perilakunya. Menurut (Nurgiantoro, 2018) teknik penokohon semacam ini disebut teknik dramatik, yaitu pengarang memperlihatkan karakter tokoh melalui tindakan dan perilakunya, bukan melalui penjelasan langsung. Pengarang tidak secara langsung menyatakan George adalah anak yang gigih dan pantang menyerah. Sebaliknya sifat tersebut ditunjukkan melalui berbagai peristiwa, seperti kebiasaannya mendengarkan permainan organ di gereja, keinginannya mengikuti ayahnya ke puri hingga keberaniannya berlari mengejar kereta. Teknik penokohan seperti ini membuat karakter George terasa lebih hidup dan meyakinkan.
Secara keseluruhan, cerpen Hasrat George memiliki kekuatan citraan yang terletak pada penggunaan diksi yang sederhana namun efektif, pemanfaatan citraan pendengaran yang kuat, struktur kalimat yang komunikatif, serta penggunaan kosakata yang memperkaya pengalaman berbahasa pembaca. Penggunaan kata kendati menjadi salah satu bukti bahwa cerpen ini menghadirkan ragam bahasa yang berbeda dengan bahasa populer masa kini. Kehadiran diksi tersebut tidak hanya penanda penghubung antar klausa tetapi juga memberikan nilai estetis dan menunjukkan karakteristik bahasa sastra anak pada masanya. Melalui perpaduan unsur-unsur kebahasaan tersebut, pengarang berhasil menyampaikan kisah inspirasi tentang perjuangan seorang anak dalam mewujudkan impiannya sekaligus menghadirkan pengalaman membaca yang menarik dan bermakna bagi pembaca.









