Padang, Scientia — Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjend) DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Zainul Munasichin, mengingatkan seluruh pimpinan dan kader PKB di Sumatera Barat agar tidak terjebak pada persaingan memperebutkan jabatan dalam struktur partai. Menurut dia, yang lebih penting adalah kemampuan kader mengambil peran strategis untuk membesarkan partai.
Pesan itu disampaikan Zainul saat membuka Rapat Formatur Penyusunan Calon Pengurus Dewan Pengurus Cabang (DPC) PKB se-Sumatera Barat.
Dalam arahannya, Zainul menegaskan bahwa posisi dan jabatan dalam organisasi jumlahnya terbatas, sementara ruang untuk berkontribusi melalui berbagai peran politik jauh lebih luas.
“Jabatan ketua hanya satu, sementara yang ingin menjadi ketua pasti banyak. Organisasi yang sehat pasti ada dinamika dan konflik. Yang menang bisa jumawa, yang kalah bisa kecewa. Tapi kalau yang dikedepankan adalah peran, maka jabatan apa pun tidak menjadi persoalan,” kata Zainul.
Ia menjelaskan, dalam banyak kasus politik, seseorang yang memegang jabatan belum tentu memiliki pengaruh besar. Sebaliknya, ada kader yang tidak menempati posisi strategis tetapi mampu memainkan peran penting dalam menentukan arah organisasi.
Menurut dia, pola pikir seperti itu perlu dibangun agar kader tidak melihat politik sebagai ruang yang semata-mata ditentukan oleh jabatan.
“Banyak orang memegang posisi, tetapi tidak bisa mengambil peran penting. Sebaliknya, ada yang tidak memegang posisi, tetapi perannya justru lebih besar dari mereka yang memiliki jabatan,” ujarnya.
Zainul meminta kader yang terpilih sebagai ketua DPC tidak bersikap berlebihan atas kemenangan yang diraih. Sebaliknya, kader yang tidak mendapatkan posisi penting diminta tidak berkecil hati.
“Jangan terlalu jumawa bagi yang terpilih menjadi ketua DPC. Bagi yang belum terpilih jangan frustasi. Bisa saja peran politik yang dimainkan justru lebih besar daripada ketua DPC itu sendiri,” katanya.
Ia mencontohkan dinamika yang sering terjadi di lembaga legislatif. Menurutnya, pemegang jabatan tertinggi tidak selalu menjadi sosok paling berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan.
“Kadang ada anggota dewan biasa yang justru menjadi rujukan dan tempat konsultasi sebelum keputusan penting diambil. Ini menunjukkan bahwa posisi tidak selalu menentukan dominasi seseorang,” ujarnya.
Lebih jauh, Zainul mengatakan pola pikir berbasis peran menjadi salah satu faktor yang membuat PKB terus mengalami peningkatan suara dan kursi legislatif di bawah kepemimpinan Muhaimin Iskandar.
Menurut dia, sejak 2009 hingga sekarang, PKB konsisten mengembangkan budaya berbagi peran dan akses politik sehingga kader memiliki ruang yang sama untuk berkembang.
“Nalar berbagi peran dan berbagi akses inilah yang terus dikembangkan PKB. Jangan ada pemikiran untuk menyingkirkan lawan politik di internal partai,” kata dia.
Dalam kesempatan itu, Zainul juga mengingatkan para ketua DPC agar tidak takut memberikan ruang kepada kader-kader potensial di daerah. Menurut dia, pemimpin yang baik justru harus mampu merangkul dan memberdayakan kader yang memiliki kapasitas.
“Kalau ada ketua DPC takut menjadikan seseorang sebagai sekretaris karena khawatir tersaingi, berarti belum layak menjadi ketua. Pemimpin tidak boleh takut dengan potensi kader yang ada di bawahnya,” ujarnya.
Selain itu, Zainul meminta seluruh anggota legislatif PKB di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota diakomodasi dalam struktur kepengurusan partai. Ia menilai keterlibatan anggota dewan dalam struktur inti akan memperkuat sinergi antara partai dan fraksi.
Menurut dia, anggota dewan idealnya menempati salah satu dari lima posisi strategis, yakni Ketua DPC, Sekretaris DPC, Bendahara DPC, Ketua Syuro, atau Sekretaris Syuro.
“Jangan sampai ada anggota dewan yang tidak masuk dalam lima posisi penting itu. Kalau ada anggota dewan tidak masuk struktur inti, yang rugi adalah partainya. Yang untung justru anggota dewannya karena tidak memiliki beban organisasi,” kata Zainul.(yrp)








