Senin, 25/5/26 | 02:14 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Bahasa Estetik dalam Luka “Gaza Tak Pernah Sunyi” Karya Hardi

Senin, 25/5/26 | 00:01 WIB
Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)

Di tanah ini, sejarah bukan hanya di buku. Ia hidup mengalir dalam darah dan menanti untuk diceritakan kembali suatu hari nanti (Hardi, 2025:86).

Kutipan pembuka di atas merupakan salah satu bahasa estetik (indah) yang menggugah dalam novel Gaza Tak Pernah Sunyi.  Immanuel Kant dalam bukunya Critique of Judgement (1790) mendefinisikan estetik sebagai akar pemikiran yang mengarah pada kesadaran yang memandang pengalaman estetika sebagai sesuatu yang mesti murni, mendalam, tanpa pamrih, dan tidak mengacu pada realitas moral eksternal (unsur ekstrinsik).

Novel Gaza Tak Pernah Sunyi yang ditulis oleh Hardi, nama pena Prof. dr. Hardisman, seorang guru besar dan juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Andalas memiliki bahasa yang estetik. Penderitaan rakyat Gaza yang tak putus-putus hingga saat ini dan masih terus berlanjut hingga sekarang akibat invasi yang dilakukan oleh Israel diceritakan penulis dengan bahasa yang estetik dan menyentuh. Hal itu menunjukkan situasi yang paradoks. Novel yang diterbitkan oleh Onepeach.Media di Jakarta pada Agustus 2025 itu mendeskripsikan penderitaan, kesedihan, dan luka rakyat Gaza akibat perang dengan diksi-diksi yang memiliki makna estetik, mendalam, berlapis, dan menyentuh. Novel tersebut hadir seperti sebuah paradoksitas yang disajikan ke hadapan pembaca. Bahasanya yang menyentuh dan kisahnya yang penuh luka.

Cara penyajian realitas kehidupan dalam novel tersebut sesuai dengan definisi karya sastra sebagai tulisan imajinatif yang menggunakan bahasa yang estetik (indah) sebagai medium untuk mengungkapkan realitas sosial. Engleton mendefinisikan karya sastra sebagai karya tulisan dengan bahasa yang halus (belle letters) atau karya sastra yang mencatatkan bentuk bahasa yang dipadatkan, didalamkan, dibelitkan, dipanjangkan, diterbalikkan, dan dijadikan ganjil (menarik). Semi (1985) mendefinisikan karya sastra sebagai  suatu bentuk dan hasil kerja seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupan dan  menggunakan bahasa sebagai mediumnya.

BACAJUGA

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Konteks Kata “Kali” dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 17/5/26 | 13:37 WIB
Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Cerita Mahasiswa Arab tentang Bahasa Indonesia

Senin, 27/4/26 | 06:18 WIB

Gaza adalah sebuah paradoksitas penderitaan dan kegetiran tentang tanah Gaza yang tak pernah sunyi oleh dentuman bom, dengung drone, ledakan tembakan, sirine mobil ambulance, suara roda-roda tank baja Israel, lemparan batu anak-anak Palestina yang disebut intifadah, dan juga suara azan yang terus berkumandang di tengah perang, seperti yang terlihat pada kutipan Novel Gaza Tak Pernah Sunyi berikut:

“Gaza tak pernah benar-benar sunyi. Suara azan dari menara masjid dengan deru pesawat pengintai di langit. Di luar jendela, suara drone mendengung di langit Gaza (Hardi, 2025:98).   

Di Gaza, tanah adalah penjara terbuka. Penduduk tidak bisa keluar sesuka hati, Pekerjaan nyaris tak ada. Nelayan dibatasi dan hanya boleh melaut beberapa mil. Adrian mencatat, dunia menyebutkanya blokade (Hardi, 2005:99).

Gaza bukan hanya tentang peluru atau blokade, melainkan juga tentang manusia yang menolak dilupakan, menolak tunduk, dan memilih bertahan. (Hardi 2025:97)

Malam itu Rafah dingin meskipun ada bara yang menyala dalam dadanya. Bukan sekadar amarah, melainkan sesuatu yang lebih dalam, lebih tua, dan lebih purba. Panggilan. Meskipun ia bukan bagian dari sejarah luka mereka. Adrian menarik napas panjang. Ia bukan bagian dari negeri ini ataupun dari sejarah mereka. Setidaknya secara darah. Namun, malam itu ia tahu bahwa kemanusiaan tak mengenal garis batas negara ataupun warna paspor (Hardi, 2025: 87).

Meskipun berkisah tentang perang yang mengerikan, penuh penderitaan, dan kesedihan, diksi atau pilihan kata yang digunakan penulis seperti katarsis yang amat menyentuh dan melegakan. Kata-kata Gaza tak pernah benar-benar sunyi, di Gaza, tanah adalah penjara terbuka, Gaza bukan hanya tentang peluru atau blokade, melainkan juga tentang manusia yang menolak dilupakan, menolak tunduk, dan memilih bertahan, dan kemanusiaan tak mengenal garis batas negara ataupun warna paspor.

Sisi kemanusiaan pembaca disentuh dengan cara yang amat halus sehingga novel tersebut terasa lembut mengalir seperti air. Pembaca dapat menemukan rangkaian diksi yang epik, menarik,  dan hampir pada setiap halaman novel. Hal ini menunjukkan kepiawaian penulis dalam meramu bahasa sehingga dapat menghadirkan karya yang mengandung unsur dulce (menyenangkan) dan utile (bermanfaat) seperti yang diungkapkan Wellek dan Warren (1994) dalam buku Pengantar Teori Kesusasteraan.

Lalu Gaza Tak Pernah Sunyi turut hadir dengan cara yang berbeda menceritakan Gaza. Melalui tokoh utama Dokter Adrian, seorang dokter asal Sumatera Barat yang bertugas sebagai relawan di Gaza. Rasa kemanusiaan memanggil Dokter Adrian untuk datang ke Gaza demi mengobati orang-orang terluka akibat perang. Ia kemudian bertemu orang-orang Palestina yang membuat hatinya tersentuh, seperti Yousef, Layla, Umi Rami, Salim, Noura,Salma, dan lain-lain yang menjadi bagian perjalanan Dokter Adrian menyaksikan luka Palestina.

Melalui tokoh Dokter Adrian, penulis menggugah nurani pembaca untuk peduli, untuk bersyukur atas kehidupan yang nyaman di Indonesia yang merdeka, dan mengingatkan untuk tidak berkeluh kesah atas kehidupan. Lewat kisah penderitaan rakyat Palestina di Gaza, penulis menyadarkan pembaca secara halus, membangun kembali rasa peduli, simpati, dan empati terhadap penderitaan orang lain, mengingatkan tentang pentingnya pengorbanan, mengingatkan kembali tentang nilai-nilai kemanusiaan bahwa penindasan terhadap manusia lain adalah kejahatan kemanusiaan yang tidak bisa ditoleransi; invansi “pendudukan/penjajahan” terhadap bangsa lain tidak bisa dibenarkan. Kemerdekaan dan keadilan adalah milik semua bangsa, kesempatan hidup aman, nyaman, dan layak adalah hak setiap orang, termasuk hak rakyat Gaza di Palestina.

Novel Gaza Tak Pernah Sunyi membawa ingatan kita pada para penulis Indonesia lain yang juga menyuarakan derita rakyat Gaza, seperti penulis kakak-beradik Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia. Helvy Tiana Rosa menulis novel Hayya yang juga sudah difilmkan bersama Benny Arnas. Ia juga menerbitkan kumpulan cerpen berjudul Gaza Suatu Malam di Jakarta. Asma Nadia juga pernah menulis tentang Gaza dengan judul buku Sebelum Aku Tiada: Surat-Surat dari Gaza. Selain itu, ada novel berjudul Gaza Surat Cinta yang ditulis oleh Muhammad Husein Gaza serta novel berjudul Suara dari Gaza yang ditulis oleh Wahyudi Pratama. Buku kumpulan esai dari komunitas Satu Pena Sumbar juga berbicara tentang Gaza dengan judul Perang Pecah lagi di Gaza. Para penulis tersebut memanfaatkan bahasa untuk menyampaikan realitas sosial yang getir melihat penderitaan rakyat Gaza. Hal itu berakar dari rasa simpati dan juga empati yang besar terhadap kemanusiaan, keadilan, dan juga kelompok yang tertindas seperti rakyat Gaza.

Ketika manusia tak bisa lagi menghentikan perang dengan senjata dan perlawanan, karya sastra juga dapat berbicara dengan menjadikan kata-kata atau bahasa sebagai senjatanya. Melalui bahasa sastra yang indah dan halus, karya sastra menggerakkan, menyentuh sisi kemanusiaan, mengubah sudut pandang, memberikan penyadaran, dan menggugah sisi-sisi paling purba, sisi terdalam, dan sisi yang paling murni dari nurani manusia.

Pada akhirnya, bahasa diharapkan dapat menjadi perantara yang menegosiasikan agar perang dapat berhenti dan agar manusia dapat berbicara dari hati ke hati. Hal itu membuktikan  kekuatan (power) bahasa dalam mengontrol kehidupan sosial, seperti yang diungkapkan ahli wacana kritis, Norman Fairclough, bahwa bahasa tidak pernah netral. Bahasa padat dengan nilai-nilai. Fairclough membuktikan adanya potensi bahasa dalam praktik sosial. Bahkan, realitas sosial tersebut juga disajikan dalam bentuk tahun-tahun yang bersejarah dalam novel Gaza Tak Pernah Sunyi.

Tahun 1948, Gaza menjadi tanah dan negeri yang dikhianati, (Hardi, 2025:75)

Hari ini menjadi catatan awal sejarah, Rabu 9 Desember 1987, Intifadah pertama dimulai. (Hardi, 2025:102)

Awal 1988, ketika lorong-lorong kamp pengungsi Shati berbau asap ban terbakar. Dinding-dinding yang dipenuhi grafiti berbahasa Arab berisi kata-kata pembangkangan dan harapan.

Lagu We Will Not Go Down—song for Palestina yang ditulis oleh Michael Heart tahun 2009 —menyelinap lembut di antara debu dan deru seperti bisikan luka yang belum sembuh (Hardi, 2005: 89).

Gaza bukanlah luka pertama dan ia bagian dari gelombang trauma Panjang dan tahun 1967 adalah luka terdalamnya (Hardi, 20025:91)

Pada 28 September 2000, tatkala langit Yerusalem cerah, Ariel Sharon, tokoh kanan Israel, menaiki tangga Kompleks AL Haram Asy Syarif—Kompleks Masjid Al Aqsa—dengan kawalan 1000 tentara bersenjata (Hardi, 2025:107).

Dalam kutipan di atas, kita dapat melihat diksi-diksi menyentuh yang digunakan, seperti  tanah dan negeri yang dikhianati, intifadah pertama dimulai,  dinding yang dipenuhi grafiti berbahasa Arab berisi kata-kata pembangkangan dan harapan, lagu We Will Not Go Down menyelinap lembut di antara debu dan deru seperti bisikan luka yang belum sembuh, dan seterusnya. Diksi-diksi tersebut merepresentasikan luka yang amat menyentuh pembaca. Sebagai pembaca, kita seolah dapat merasakan kepedihan derita rakyat Gaza.

Derita rakyat Gaza dikisahkan dengan bahasa yang indah namun menyentuh dalam Gaza Tak Pernah Sunyi oleh Prof. Hardi, sama seperti banyak penulis lain yang menceritakan kembali tentang luka, tentang kejahatan kemanusiaan yang tiada henti, kezaliman manusia terhadap manusia lain, ribuan nyawa anak-anak hingga orang dewasa yang tidak berdosa.

Akhir kata, gelanggang kesusasteraan seperti tidak akan lengang di Sumatera Barat dengan hadirnya penulis-penulis dari kalangan akademisi, seperti Prof. Hardi dengan novel Gaza Tak Pernah Sunyi. Tidak tertutup kemungkinan novel-novel lain juga akan lahir dari para akademisi Sumatera Barat yang lain. Ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, dan kecendekiaan yang mereka punya sangat bermanfaat untuk mencerahkan pembaca, seperti halnya Buaya Hamka yang juga seorang ulama, wartawan, penulis, politikus, jurnalis, dan sastrawan. Karya sastra merupakan sumber ilmu pengetahuan yang dapat memanusiakan manusia dan menghebatkan generasi muda di masa mendatang.

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Berita Terkait

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Konteks Kata “Kali” dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 17/5/26 | 13:37 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Kata kali dikenal...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Cerita Mahasiswa Arab tentang Bahasa Indonesia

Senin, 27/4/26 | 06:18 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Saat mengawas UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer)...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Persoalan “ini” dan “itu” di dalam Berbagai Konteks

Minggu, 19/4/26 | 21:49 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Kata ini dan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Makna Idiom “Keras Kepala” dari Presiden Prabowo untuk Iran

Minggu, 12/4/26 | 23:00 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Idiom “keras kepala” menjadi viral karena diucapkan...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Metatesis, Sumber Kreativitas Bahasa Sepanjang Masa

Minggu, 05/4/26 | 10:05 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Lebaran selalu identik dengan kue. Kue-kue dimasukkan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Popularitas Kata “Eskalasi” dalam Perang Iran versus AS-Israel

Minggu, 15/3/26 | 23:00 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Bahasa adalah representasi dari semiotika...

POPULER

  • Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

    Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumpah Pemuda: Tonggak Perkembangan Sastra Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Roni Aprianto Terpilih Aklamasi Jadi Ketua PWI Dharmasraya Periode 2026-2029

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Razia Tambang Timah Ilegal Hutan Lindung Belitung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wujudkan Progul Padang Juara Pemko Padang Jalin Kerjasama dengan Universiti Kuala Lumpur (UniKL) Malaysia Wujudkan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026