Jumat, 23/10/26 | 13:30 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Memaknai Ulang Sukses dalam Film “Tunggu Aku Sukses Nanti”

Minggu, 19/4/26 | 22:16 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa
(Dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas) 

 

Idulfitri merupakan frasa  bahasa Arab, terdiri dari kata id berasal dari ya’uudu artinya kembali dan al fitri memiliki makna suci atau bersih. Adapun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, id berarti perayaan, dan fitri bermakna kembali ke fitrah. Dengan demikian, frasa Idulfitri tidak hanya bermakna kembali kepada kesucian, tetapi juga merupakan sesuatu yang dirayakan umat Islam setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan. Karena jatuh pada tanggal merah, perayaan Idulfitri juga kerap menjadi momen untuk mengunjungi sanak saudara. Berbagai pertanyaan seputar kehidupan saling dilontarkan untuk menyambung jarak. Sebuah fenomena yang sangat lumrah terjadi di Indonesia ketika bersilaturahmi. Tidak jarang hal ini menjadi momok ketika momen Idulfitri digunakan untuk adu pencapaian atau perbandingan antarsaudara. Hal ini dialami Arga, tokoh utama dalam film Tunggu Aku Sukses Nanti yang rilis pada Maret 2026.

BACAJUGA

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Minggu, 18/10/26 | 16:21 WIB
Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Minggu, 18/10/26 | 15:52 WIB

Arga terpaksa mengurut dada karena ditanyakan hal yang sama setiap tahunnya, tentang status pekerjaan dan penyebab terlalu lama menganggur. Bukannya Arga tidak melakukan usaha, tetapi memang rezeki belum menghampiri. Setelah mencari ke sana ke mari, akhirnya Arga mendapatkan pekerjaan sebagai agen properti. Ia bekerja sungguh-sungguh. Namun, setelah sukses dan berhasil menaikkan perekonomian keluarga, mengapa Arga tidak merasa puas? Film ini tidak hanya bercerita tentang perjuangan dalam meraih kesuksesan, tetapi juga tentang bagaimana kesuksesan itu kemudian dijadikan alat pemuas ego. Semakin seseorang mengejar hal-hal yang berada di luar diri, semakin ia menjauh dari dirinya sendiri. Motivasi terbesar Arga dalam mencari pekerjaan tidak didasarkan pada pencapaian dan aktualisasi diri, tetapi pada upaya mendapatkan validasi dari orang-orang yang selalu merendahkannya.

Pada dasarnya, sudah sepatutnya seseorang mengejar sebuah validasi. Sejak kecil, manusia dikondisikan untuk mencari pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Permasalahan terjadi ketika seseorang tidak mampu memvalidasi dirinya sendiri, sehingga muncul perasaan tidak cukup. Kecenderungan seseorang untuk mencari validasi eksternal tidak tumbuh begitu saja. Selama hidupnya, Arga terbiasa melihat keluarganya direndahkan oleh sanak-saudaranya yang lebih mapan. Akhirnya, ia meyakini bahwa nilai dirinya ditentukan oleh pengakuan orang-orang, sehingga merasa harus membuktikan bahwa dirinya layak.

Akibatnya, berbagai pencapaian yang sudah diraih terasa tidak berarti apabila dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. Walaupun sudah mampu memberi, ia tetap dianggap kurang. Kepercayaan diri yang dibangun dengan susah payah setelah berhasil menaikkan perekonomian dan derajat keluarga seketika runtuh karena komentar-komentar sambil lalu. Inilah pergulatan terbesar dalam diri Arga: perasaan tidak berharga di hadapan orang lain.

Arga berpikir bahwa ia harus bekerja lebih giat lagi untuk membuktikan kesuksesannya. Ia berhasil. Namun, hal itulah yang justru membuatnya kehilangan arah. Fokus Arga yang semula bertujuan menaikkan taraf hidup, perlahan bergeser menjadi bentuk ambisi dan mengikis koneksinya dengan orang-orang di sekitarnya. Hal ini terlihat pada kandasnya hubungannya dengan Andin yang sudah terjalin selama empat tahun, juga renggangnya persahabatannya dengan Fanny, sahabat masa kecilnya. Tanpa sadar, ambisi Arga untuk membuktikan diri membuatnya mengorbankan orang-orang yang selama ini selalu hadir untuknya.

Dalam upaya mencari pengakuan dan membuktikan diri, terkadang seseorang cenderung berfokus pada sisi buruk dari dirinya yang menjadi penyebab luka. Pada Arga, luka tersebut muncul dalam sosok Tante Yuli yang tidak henti-henti berkomentar apa saja. Arga menyimpan rasa marah, sehingga ia tidak pernah memberi ruang untuk melihat sisi lain dari tantenya itu. Di balik nyinyirnya, Tante Yuli ternyata adalah orang yang paling peduli, mengikuti perkembangan keponakannya, serta membantu Arga diam-diam. Namun, hal itu justru baru disadari Arga setelah tantenya meninggal karena ia telah mencap Tante Yuli buruk. Terkadang, seseorang harus kehilangan terlebih dahulu untuk dapat benar-benar melihat segala sesuatu yang selama ini tertutup oleh luka dan ego.

Kematian Tante Yuli membuat Arga sadar bahwa kasih sayang tidak selalu hadir dalam bentuk pujian dan sanjungan. Arga terlalu sibuk mencari pengakuan dari luar, sehingga ia lupa bahwa pengakuan sejati sesungguhnya berasal dari penerimaan terhadap diri sendiri. Kesuksesan kerap diidentikan dengan pencapaian lahiriah seperti pekerjaan dan penghasilan. Namun, melalui Tunggu Aku Sukses Nanti, makna sukses didefinisikan ulang sebagai proses menerima, menjalani proses, serta memahami bahwa kelayakan seseorang tidak ditentukan oleh penilaian orang lain.

Pada akhirnya, Arga yang selama ini diam-diam menantikan pengakuan dari keluarga memahami bahwa ia selalu memiliki tempat untuk pulang, di mana ia akan selalu dicintai dan diterima tanpa syarat, bahkan ketika keadaan tidak berpihak padanya. Sebab fitri merupakan salah satu sifat dasar yang dimiliki setiap manusia, maka kebahagiaan sejati sesungguhnya ketika seseorang dapat menerima dirinya secara utuh, jauh sebelum pengakuan dari luar itu didapat.  Maka dalam konteks ini, frasa Idulfitri tidak  hanya bermakna perayaan, tetapi juga momen untuk kembali, kepada keluarga dan diri sendiri.

Tags: #Andina Meutia Hawa
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Persoalan “ini” dan “itu” di dalam Berbagai Konteks

Berita Sesudah

Dari ‘Rakyat’ ke ‘Masyarakat’: Pergeseran Kata dan Ideologi

Berita Terkait

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Minggu, 18/10/26 | 16:21 WIB

Oleh: Lili Herlina (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas) Ketika membicarakan masalah pertanian, perhatian sering kali tertuju pada...

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Minggu, 18/10/26 | 15:52 WIB

Oleh: Puspandhari Ilsa Pinasty (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas)   Bayangkan seorang anak rantau yang akhirnya mampu...

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB

Taufiq Muhammad Akbar ‎Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas (UNAND) Undang-undang berubah, Pasal diperbaiki, Ancaman pidana disesuaikan, Istilah hukum diperbarui. Tetapi...

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Ilustrasi: Hukum dan regulasi hanyalah pagar luar, namun kesadaran dan etika digital masyarakat adalah benteng utama yang sesungguhnya dalam menangkal...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa, Miskomunikasi, dan Konflik Rumah Ibadah

Senin, 12/10/26 | 06:40 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Bahasa memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman, hubungan sosial, dan sikap...

Penentu Arah Perubahan Zaman

Penentu Arah Perubahan Zaman

Minggu, 11/10/26 | 20:39 WIB

Oleh: Arza Kailla Chaerani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Dunia terus berubah, begitu pula cara manusia memahami identitas,...

Berita Sesudah
Dari ‘Rakyat’ ke ‘Masyarakat’: Pergeseran Kata dan Ideologi

Dari ‘Rakyat’ ke ‘Masyarakat’: Pergeseran Kata dan Ideologi

POPULER

  • Perluasan Area Perkebunan, Kabupaten Solok Siap jadi Lumbung Kopi dan Kakao Nasional

    Perluasan Area Perkebunan, Kabupaten Solok Siap jadi Lumbung Kopi dan Kakao Nasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa 5.000 Hektare Tanah Ulayat di Dharmasraya Digugat, Penggugat Tuntut Ganti Rugi Rp1,3 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hari Santri, Firdaus: Momentum Perkuat Peran Santri Membangun Peradaban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jangan Lewatkan! DPP Iluni UNP Bakal Gelar Temu Akbar Lintas Angkatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pelantikan DPD KNPI, Bupati Dharmasraya Ajak Pemuda Bersinergi dengan Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidak Bupati Dharmasraya, Lahan dan Hutan Terbakar Sudah Ditanami Sawit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026