Senin, 20/4/26 | 01:13 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Persoalan “ini” dan “itu” di dalam Berbagai Konteks

Minggu, 19/4/26 | 21:49 WIB
Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan)

Kata ini dan itu merupakan dua kata yang sederhana dan sering digunakan oleh pengguna bahasa Indonesia (baik penutur asli, maupun penutur asing yang belajar bahasa Indonesia). Dua kata ini adalah istilah yang sangat umum di dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kata ini dan itu berperan sebagai kata petunjuk yang juga termasuk ke dalam kelas kata pronomina. Dengan demikian, kata-kata tersebut bisa menduduki unsur subjek atau objek di dalam kalimat. Berikut ini adalah contoh-contoh penggunaannya yang sangat sederhana:

  • Ini adalah buku.
  • Itu adalah sepeda adik saya.
  • Saya suka ini.
  • Saya memilih itu.

Kata ini dan itu tidak hanya bisa berdiri sendiri layaknya pronomina yang lain (saya, aku, kamu, dan sebagainya), tetapi juga bisa dilekatkan dengan nomina (kata benda) lainnya untuk memfokuskan benda tersebut (atau mengidentifikasi secara spesifik). Pada intinya, ketika kata ini dan itu dilekatkan pada benda lain, fungsinya tidak jauh berbeda dengan kata petunjuk. Keberadaan kata ini dan itu di dalam sebuah kalimat memiliki peran yang sangat besar. Oleh karena itu, ketika kata-kata tersebut luput atau lupa disertakan, cakupan konteksnya akan menjadi sangat berbeda. Mari perhatikan dua kalimat berikut:

  • Semangka tidak manis.
  • Semangka ini tidak manis.
  • Semangka itu tidak manis.

Kalimat pertama tidak memiliki kata ini dan itu, sedangkan kalimat kedua dan ketiga memakai kata ini dan itu. Tiga kalimat yang menjadi contoh di atas memiliki cakupan konteks yang berbeda. Kalimat pertama (tanpa kata ini dan itu) membuat ruang lingkup semangka yang dimaksud tidak terbatas. Artinya, semangka yang dimaksud adalah “semangka pada umumnya”, atau bisa juga bermakna “semua semangka”. Akan tetapi, ketika ditambah dengan kata ini dan itu (kalimat kedua dan ketiga), semangka yang dimaksud hanya semangka yang ditunjuk, bukan pada umumnya. Oleh sebab itu, kalimat kedua dan ketiga bisa diterima secara kontekstual, sedangkan kalimat pertama tidak. Hal ini disebabkan, pada umumnya buah semangka memiliki rasa yang manis.

Jika dilihat dari segi harfiah makna pronominanya, kata ini dan itu hanya dibedakan oleh jarak antara si pembicara dengan hal yang dimaksud. Kata ini digunakan untuk benda yang posisinya dekat dengan pembicara, sedangkan kata itu digunakan untuk benda atau hal yang posisinya jauh dari pembicara (baik secara fisik, maupun secara konteks). Berikut adalah contoh-contoh kalimatnya:

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Makna Idiom “Keras Kepala” dari Presiden Prabowo untuk Iran

Minggu, 12/4/26 | 23:00 WIB
Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Metatesis, Sumber Kreativitas Bahasa Sepanjang Masa

Minggu, 05/4/26 | 10:05 WIB
  • Saya tidak bisa menggunakan komputer ini. (Pembicara dan komputer berada dalam jarak yang dekat)
  • Komputer itu tiba-tiba meledak saat saya menghidupkannya. (Pembicara dan komputer berada dalam jarak yang jauh).)

Kata ini dan itu menunjukkan bahwa di dalam bahasa Indonesia, konteks kalimat sangat terikat dengan pembicara. Artinya, posisi “dekat” dan “jauh” hanya diukur dari titik pembicara, bukan pendengar atau lawan bicaranya. Artinya lagi, jika suatu benda yang ditunjuk berada di dekat pembicara, tetapi jauh dari lawan bicaranya, benda tersebut tetap diwakilkan dengan kata ini. Hal itu juga berlaku sebaliknya. Jika posisi benda yang dimaksud berada jauh dari pembicara, tetapi dekat dengan lawan bicaranya, benda tersebut tetap diwakilkan dengan kata itu. Konteks semacam ini bisa jadi berbeda dengan bahasa lain. Ada bahasa yang juga mempertimbangkan posisi lawan bicaranya, seperti bahasa Korea. Di dalam bahasa Korea, ada tiga kata petunjuk, yaitu 이 (i), 그 (geu), dan 저 (jho). 이 (i) digunakan untuk menunjuk benda yang dekat dengan pembicara. 그 (geu) digunakan untuk menunjuk benda yang jauh dari pembicara, tetapi dekat dengan lawan bicara. 저 (jho) digunakan untuk menunjuk benda yang sama-sama jauh dari pembicara dan lawan bicara. Akan tetapi, sesungguhnya bahasa Indonesia juga memiliki tiga kata petunjuk dari segi posisi yang lebih difokuskan pada “lokasi”, yaitu sini, sana, dan situ. Kata sini menunjukkan lokasi yang dekat dengan pembicara, sedangkan kata sana dan situ menunjukkan lokasi yang jauh dari pembicara.

Sebagian ulasan tentang bahasa Indonesia menginformasikan bahwa kata sana dan situ memiliki perbedaan. Kata sana lebih tertuju pada lokasi yang tidak terlihat (tidak terjangkau oleh mata pembicara dan lawan bicara, seperti luar kota, luar negeri, dan sebagainya), sedangkan kata situ adalah posisi yang jauh, tetapi masih bisa dilihat oleh pembicara dan lawan bicara. Akan tetapi, ulasan ini tentunya masih harus dianalisis lebih mendalam lagi. Terkait dengan hal ini, posisi sana dan situ juga dipengaruhi oleh lawan bicara, sama halnya dengan ini dan itu. Pengguna bahasa Indonesia, ketika menulis surat yang tidak resmi, biasanya menggunakan kalimat “Bagaimana kabarmu di sana? Aku di sini baik-baik saja”. Hal ini menunjukkan bahwa pemilihan kata di sini dan di sana, ditentukan oleh posisi pembicara, bukan posisi orang yang membaca surat tersebut. Meskipun posisi surat sudah ada di tangan pembaca, kalimatnya tetap “Bagaimana kabarmu di sana?” yang mengindikasikan bahwa tempat si penerima surat “jauh” dari si pembicara (dalam hal ini si penulis). Dengan demikian, kita bisa menarik kesimpulan bahwa di dalam bahasa Indonesia, posisi pembicara atau penulis sangat penting di dalam konteks kalimat, sedangkan lawan bicara tidak memiliki peran yang sama.

Kembali ke persoalan makna kata ini dan itu, ternyata kata-kata tersebut juga memiliki perbedaan (bukan hanya tentang jarak secara fisik). Kata itu bisa digunakan untuk menanyakan maksud atau definisi suatu hal, seperti contoh pertanyaan “Apa yang dimaksud dengan digital marketing?” bisa diganti dengan pertanyaan “Apa itu digital marketing?” Di sisi lain, pertanyaan tersebut akan terasa aneh jika diganti dengan “Apa ini digital marketing?” Hal tersebut menunjukkan bahwa makna “jarak yang jauh” yang dimiliki oleh kata itu mengarahkan pada batas yang sangat luas, termasuk definisi, hal-hal baru yang tidak begitu familier (sehingga tidak bisa menggunakan kata ini sebagai kata ganti petunjukknya), termasuk konjungsi (kata penguhubung).

Beberapa kata penghubung menggunakan kata itu, seperti oleh sebab itu, oleh karena itu, dan berbeda dengan itu. Berbagai konjungsi yang telah dituliskan tersebut, terasa kurang berterima jika diganti dengan frasa oleh sebab ini, oleh karena ini, dan sebagainya. Dengan demikian, cakupan kata itu tidak hanya berlaku dalam konteks fisik (nyata), tetapi juga dalam konteks yang sangat luas. Di dalam dunia kepenulisan, kata itu cenderung lebih banyak digunakan karena ketika membicarakan suatu topik dianggap menjadi hal yang “besar” dan “jauh” dari lingkungan kecil di sekitar pembicara. Dari artikel ini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa kata ini dan itu merupakan dua kata yang sederhana, tetapi memiliki cakupan yang sangat luas dan perannya sangat penting di dalam konteks kalimat. Jika dua kata tersebut luput digunakan, konteks kalimat menjadi tidak berbatas.

Tags: #Reno Wulan Sari
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Menemukan Waktu dalam Langkah

Berita Sesudah

Memaknai Ulang Sukses dalam Film “Tunggu Aku Sukses Nanti”

Berita Terkait

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Makna Idiom “Keras Kepala” dari Presiden Prabowo untuk Iran

Minggu, 12/4/26 | 23:00 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Idiom “keras kepala” menjadi viral karena diucapkan...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Metatesis, Sumber Kreativitas Bahasa Sepanjang Masa

Minggu, 05/4/26 | 10:05 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Lebaran selalu identik dengan kue. Kue-kue dimasukkan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Popularitas Kata “Eskalasi” dalam Perang Iran versus AS-Israel

Minggu, 15/3/26 | 23:00 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Bahasa adalah representasi dari semiotika...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

Minggu, 08/3/26 | 23:23 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan Prodi S2 & S3 Linguistik Universitas Andalas) Orang Minangkabau...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Minggu, 01/3/26 | 14:29 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Di laman Klinik...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa minggu terakhir dunia digital dihebohkan oleh...

Berita Sesudah
Batu dan Zaman

Memaknai Ulang Sukses dalam Film “Tunggu Aku Sukses Nanti”

POPULER

  • Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari ‘Rakyat’ ke ‘Masyarakat’: Pergeseran Kata dan Ideologi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Bahasa Indonesia Formal dan Informal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026