
Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)
Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah dalam jarak dekat, seperti dari rumah ke kedai di ujung gang. Bahkan untuk jarak yang singkat, sepeda motor lebih sering dipilih daripada melangkah kaki. Pandangan ini kemudian berubah ketika saya kembali menjadi mahasiswa lagi di tempat yang jauh dari rumah.
Di kampus baru ini, berjalan kaki menjadi bagian dari keseharian. Saya biasa berpindah dari asrama ke fakultas, dari perpustakaan ke kantin, hingga antar gedung dengan langkah kaki. Jaraknya cukup jauh dan kadang melelahkan. Namun, dari kebiasaan sederhana itu, saya mulai melihat hal-hal yang sebelumnya jarang saya perhatikan. Perlahan, jalan pun terasa seperti ruang belajar yang tenang.
Di sela langkah itu, saya mulai memperhatikan hal-hal sederhana yang dulu sering terlewat. Daun jatuh, perubahan warna langit, dan orang-orang yang berjalan dengan ritmenya masing-masing. Suasananya tenang, tanpa klakson dan tanpa tergesa-gesa. Langkahnya berulang, tetapi selalu terasa berbeda.
Yang berubah bukan hanya jarak, tetapi cara saya memandang waktu. Dulu terasa serba cepat, kini lebih lapang. Berjalan kaki mengingatkan saya bahwa tidak semua hal perlu dipercepat. Ada yang justru lebih baik dijalani pelan agar terasa utuh.
Saya sering teringat kebiasaan di kampung. Untuk jarak sekitar seratus meter, saya biasa memilih kendaraan. Kini saya berjalan lebih jauh setiap hari. Bukan karena terpaksa, melainkan karena sudah terbiasa dan mulai menikmatinya.
Berjalan kaki bukan sekadar cara berpindah tempat. Ia menjadi cara sederhana untuk memberi ruang pada diri sendiri. Tanpa suara mesin dan tanpa banyak gangguan, langkah terasa lebih tenang dan pikiran menjadi lebih jernih. Dari situ saya belajar satu hal sederhana. Perjalanan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Justru dari langkah kecil yang dijalani dengan tenang, arah menjadi lebih jelas dan perjalanan terasa lebih berarti.
Pada akhirnya, berjalan kaki mengajarkan saya untuk berdamai dengan ritme yang tidak selalu cepat. Ia tidak menawarkan hasil yang segera, tetapi menghadirkan kesadaran yang perlahan tumbuh. Di setiap langkah yang tampak biasa, ada kesempatan untuk memahami hidup dengan cara yang lebih tenang dan jernih. Mungkin memang demikian adanya, bahwa dalam kesederhanaan langkah, kita justru menemukan arah yang selama ini kita cari tanpa tergesa.




