Jumat, 20/3/26 | 03:29 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Penggunaan Tanda Elipsis atau Istilah Titik-Titik

Minggu, 08/8/21 | 07:00 WIB
Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Jurusan Sastra Indonesia Unand dan Dosen Tamu di Busan University of Foreign Studies)

Tanda elipisis atau tanda baca dengan banyak titik seperti […] sering kita jumpai di berbagai tulisan, baik formal maupun nonformal, baik dalam situasi resmi maupun tidak resmi. Sejak hadirnya media sosial di tengah masyarakat, semakin banyak pula gaya penulisan dan pilihan kata yang menghiasi media sosial tersebut ketika seseorang menulis di laman facebook, twitter, instagram, whatsapp, dan sebagainya. Berbagai unggahan yang menampilkan tulisan tersebut, tidak jarang juga menyertai tanda baca elipsis atau yang lebih dikenal dengan istilah “titik-titik”. Penggunaan tanda elipsis pun beragam, ada yang ditulis dengan jumlah titik yang sedikit atau pendek, panjang, putus-putus, dan sebagainya. Sebagai contoh beberapa tulisan yang telah diamati:

  1. Aku ingin pergi tetapi ………
  2.  … ya, dia…… dia yang selalu ada di dalam pikiranku.
  3. Hai mentari pagi…….!

Contoh penggunaan tanda elipsis ini sering dijumpai di berbagai postingan di laman media sosial. Dari pengamatan sederhana yang sudah dilakukan, dapat disimpulkan fungsi tanda elipsis tersebut. Pertama, fungsi tanda elipisis yang panjang seolah perwakilkan ekspresi tuturan lisan yang dialihkan dalam bentuk tulisan. Ekspresi yang diwakilkan bisa beragam, seperti renungan panjang, pikiran yang tidak ada ujungnya, dan suara hati yang begitu dalam sehingga tidak bisa disampaikan dengan kata-kata, dan ekpresi hening tetapi maknanya belum selesai. Kedua, tanda elipsis juga kerap digunakan di akhir kalimat yang berbentuk syair (puisi atau pantun). Model yang kedua ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor juga. Faktor pertama, cara penulisan seperti ini sudah sering terjadi sehingga orang lain yang akan menulis syair juga melakukan hal yang sama. Cara semacam ini sudah familier di tengah masyarakat. Faktor kedua, mewakili bunyi pembacaan puisi. Tidak jarang pembacaan puisi memiliki berbagai nada. Ada pembacaan dengan nada yang panjang di akhir kata. Atas pemikiran tersebut, ketika seseorang menulis puisi, ia juga terpengaruh dengan pikiran tersebut. Bagian akhir dari puisi ini diharapkan akan bernada panjang sehingga perlu ditambah dengan tanda titik-titik yang juga panjang.

Namun demikian, penggunaan tanda elipsis sesungguhnya memiliki kaidah dan fungsi dalam penerapannya. Berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, tanda elipsis tersebut hanya memiliki tiga titik seperti […]. Titik yang berjumlah tiga tersebut tidak mengikuti nada, jumlah kata yang diwakilkan, dan sebagainya. Jika ada kata yang dihilangkan dalam sebuah kalimat, jumlah titik yang digunakan tetap tiga, tidak mengikuti panjang huruf dari kata yang dihilangkan tersebut. Penulisan tanda elipsis ini didahului dan diakhiri oleh spasi, dalam artian penulisannya ada diantara spasi jika ada di tengah kalimat, seperti contoh:

  1. Dia hanya ingin mengatakan bahwa … ah, sudahlah!
  2. Kegagalan ini disebabkan oleh … sepertinya tidak perlu dibahas lagi.

Akan tetapi, jika tanda elipsis tersebut diikuti oleh tanda titik [.] atau koma [,], tidak perlu menggunakan spasi yang membatasinya dengan koma [,] dan titik [.]. Tanda titik [.] yang ada di belakang tanda elipsis ini akan membuat titik-titik tersebut berjumlah empat seperti [….]. Tanda elipsis yang diikuti dengan titik selalu berada di akhir kalimat. Hal ini juga berlaku untuk tanda koma [,]. Tanda koma yang mengikuti tanda elipsis akan menjadi […,]. Sebagai contoh dapat dilihat pada kalimat-kalimat berikut:

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Popularitas Kata “Eskalasi” dalam Perang Iran versus AS-Israel

Minggu, 15/3/26 | 23:00 WIB
Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

Minggu, 08/3/26 | 23:23 WIB
  1. Nama ibukota Indonesia adalah …. (diakhiri titik)
  2. …, mereka pun tidak datang. (diakhiri koma)

Tanda elipsis ini sangat sering dijumpai pada soal-soal pelajaran dan ujian. Hal ini disebabkan salah satu fungsi tanda elipsis tersebut sebagai pengganti dari kata-kata yang dihilangkan, seperti dalam contoh soal-soal ujian berikut :

  1. Di bawah ini, termasuk jenis-jenis paragraf, kecuali ….
  2. Rani adalah mahasiswa yang pintar, … dia tidak aktif dalam berbagai kegiatan akademik. Lengkapilah kalimat tersebut dengan kata penghubung berikut!
  3. Nama mata uang negara Malaysia adalah ….

Fungsi kedua dari tanda elipsis adalah sebagai pengganti ujaran yang tidak selesai di dalam dialog. Contoh ini bisa kita temukan dalam novel, cerpen, naskah drama, dan sebagainya. Hal ini dapat dilihat dalam contoh dialog berikut!
“Saya tidak tahu tentang peristiwa itu.”
“Ya, tetapi kau berada di sana!”
“Benar, tetapi saya … ”
“Cukup! Tidak perlu banyak bicara.”
“Saya hanya … ”
“Cukup!”

Dari contoh tersebut, dapat dilihat bahwa ada kalimat-kalimat yang belum selesai diujarkan, tetapi sudah dipotong oleh dialog lainnya. Situasi seperti ini bisa diwakilkan dengan tanda elpisis. Namun demikian, masih banyak penulis yang menggunakan banyak tanda titik untuk situasi yang serupa. Hal ini juga berlaku untuk penulisan puisi yang sering disertakan dengan tanda titik yang panjang (melebihi 3 buah titik) dengan tujuan mencapai kesan makna tertentu.

Tags: #Reno Wulan Sari
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Fachri Hamzah

Berita Sesudah

Cerpen “Sepasang Jantung Hati yang Tertinggal” Karya Wizhafira dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Berita Terkait

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Popularitas Kata “Eskalasi” dalam Perang Iran versus AS-Israel

Minggu, 15/3/26 | 23:00 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Bahasa adalah representasi dari semiotika...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

Minggu, 08/3/26 | 23:23 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan Prodi S2 & S3 Linguistik Universitas Andalas) Orang Minangkabau...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Minggu, 01/3/26 | 14:29 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Di laman Klinik...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa minggu terakhir dunia digital dihebohkan oleh...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Setelah kapitil, masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan definisi...

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Bon atau Bien? Dua Kata yang Sering Tertukar, tetapi Tidak Pernah Sama

Minggu, 01/2/26 | 14:54 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Bon dan bien adalah dua kosakata dalam bahasa Prancis yang...

Berita Sesudah
Cerpen “Sepasang Jantung Hati yang Tertinggal” Karya Wizhafira dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Cerpen "Sepasang Jantung Hati yang Tertinggal" Karya Wizhafira dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Discussion about this post

POPULER

  • Diksi Cantik sebagai Identitas Perempuan di Instagram

    Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Hari Raya Idulfitri dan Lebaran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Ganti Engkau, Kau, Dia, dan Ia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengulangan Makna dalam Penggunaan Kata Berimbuhan Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasangan Kata “Bukan” dan “Tidak” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026