Padang, Scientia – Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menegaskan perubahan serius dalam pola peredaran narkotika di wilayahnya. Jika sebelumnya Sumbar dikenal sebagai daerah lintasan, kini provinsi itu telah menjadi target peredaran yang menyasar remaja hingga wilayah pedesaan.
Pernyataan itu disampaikan Mahyeldi saat Safari Ramadan di Masjid Agung Nurul Islam, Kota Sawahlunto, Selasa, 3 Maret 2026. Ia menyebut, tren pengungkapan kasus dalam beberapa tahun terakhir menjadi indikator kuat bahwa jaringan narkotika mulai menjadikan Sumbar sebagai pasar.
“Sumbar tidak lagi hanya menjadi tempat lewat. Kita sudah menjadi sasaran peredaran narkotika. Ini harus menjadi peringatan serius bagi kita semua,” kata Mahyeldi.
Ia mencontohkan pengungkapan kasus dalam kurun satu bulan terakhir, di mana aparat berhasil menyita lebih dari 6,4 kilogram sabu dan menangkap lima tersangka. Menurut dia, jumlah tersebut menunjukkan besarnya ancaman yang dihadapi.
Mahyeldi mengingatkan, satu kilogram narkotika berpotensi merusak hingga 10 ribu orang. Dengan jumlah barang bukti yang diungkap, ia menilai ribuan generasi muda berada dalam risiko.
“Bayangkan berapa generasi muda yang terancam jika ini tidak kita cegah bersama,” ujarnya.
Menurut Mahyeldi, dampak narkotika tidak hanya pada kesehatan, tetapi juga menghancurkan masa depan generasi muda dan melemahkan ketahanan sosial masyarakat. Karena itu, ia menekankan pentingnya langkah pencegahan dan pemberantasan yang dilakukan secara serius, terkoordinasi, dan berkelanjutan.
Ia meminta seluruh kepala daerah di Sumbar, baik bupati maupun wali kota, untuk aktif memantau perkembangan situasi di wilayah masing-masing. Setiap indikasi peredaran, kata dia, harus segera dilaporkan agar dapat ditangani secara terpadu.
Mahyeldi juga mendorong penguatan program pencegahan hingga ke tingkat paling bawah, termasuk nagari dan desa, melalui gerakan Nagari Bersih dari Narkoba (Bersinar).
“Pencegahan harus konsisten, masif, dan terstruktur hingga ke nagari dan desa,” kata dia.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Sumbar, Mursalim, menambahkan bahwa upaya menekan laju peredaran narkotika perlu dibarengi dengan edukasi yang berkelanjutan, terutama bagi generasi muda.
Ia mendorong pembentukan dan penguatan relawan anti-narkoba di setiap nagari, desa, dan kelurahan. Selain itu, pendekatan berbasis kearifan lokal dinilai penting dengan melibatkan peran wali nagari, niniak mamak, serta tokoh masyarakat.
“Jika ditemukan indikasi peredaran gelap narkotika, segera laporkan kepada aparat berwenang agar dapat ditindaklanjuti secara cepat dan tepat,” ujar Mursalim.
Melalui sinergi antara pemerintah, aparat penegak hukum, dan masyarakat, Pemerintah Provinsi Sumbar berharap dapat memperkuat ketahanan sosial sekaligus menekan peredaran narkotika yang kian meluas.(yrp)
![Ketua DPW PKB Sumbar, Firdaus.[foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/04/IMG_49952-120x86.jpg)

![Ketua DPW PKB Sumbar, Firdaus.[foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/04/IMG_49952-350x250.jpg)






