Jumat, 23/1/26 | 22:38 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Rahasia di Balik Semangkuk Mi Rebus

Minggu, 10/8/25 | 19:24 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Sore itu, hujan mengguyur tanpa henti sejak siang, menebar hawa dingin yang merayap masuk hingga ke dalam rumah. Suara rintik yang berpadu dengan angin membuat suasana kian syahdu. Di tengah udara yang lembap dan perut yang mulai meronta, hanya satu hal yang terlintas di pikiran, semangkuk mi rebus hangat.

Memasak mi rebus, bagi saya, punya tantangan tersendiri. Saya menyebutnya “mudah-mudah sulit”. Dibilang mudah, karena di balik plastik kemasan sudah tertera petunjuk memasaknya, tapi sulitnya terletak pada rasa. Entah mengapa, meski sudah mengikuti instruksi dengan patuh, rasanya tetap belum mampu menandingi mi rebus ala warung yang sering saya nikmati. Ada sensasi gurih dan nikmat yang seolah hanya dimiliki oleh tangan-tangan terlatih dari dapur warung itu. Saya yakin pasti ada resep rahasia di balik kelezatannya.

BACAJUGA

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB
Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Pernah suatu kali saya mencoba “memperbaiki” rasa itu dengan berbagai tambahan. Saya tumis bawang putih, bawang merah, kemduian meneteskan sedikit minyak sayur, lalu memasukkan potongan sawi dan daun bawang agar kuahnya lebih harum dan enak. Bahkan, saya tambahkan telur dan sedikit lado giliang untuk memperkaya rasa.

Meski aromanya sudah cukup menggoda, tetap saja, lidah saya tahu bahwa kreasi ini masih kalah saing dengan yang dijual di warung. Mi rebus ala saya ini pun kuahnya masih ‘bercampur aduk” rasanya. Sepertinya ada rahasia yang belum saya kuasai, dan mungkin di sanalah letak pesona mi rebus ala warung yang sesungguhnya.

Saya kira selain bumbu yang digunakan, mungkin saja rahasianya ada pada peralatan dan cara memasak. Bisa saja panci yang digunakan bukan sekadar wadah juga menyimpan “memori rasa” dari lamanya ia digunakan. Selain itu, api kompornya pun menyala stabil, memelihara panas yang konsisten sehingga bumbu, mi, dan kuah berpadu dengan sempurna.

Sementara di rumah, saya memasak di panci kecil dengan kompor yang kadang nyalanya terlalu besar lalu tiba-tiba mengecil. Saat bawang yang saya tumis mulai harum, saya buru-buru menuangkan air karena takut gosong. Padahal di warung, aroma bawang itu seolah diberi waktu untuk matang hingga sempurna sebelum bertemu dengan bumbu lainnya. Mungkin memang ada seni yang tak tertulis di balik semangkuk mi rebus dari warung itu.

Akhirnya, semangkuk mi rebus di rumah tetaplah menjadi “obat” lapar di tengah hujan sore, meski rasanya belum mampu menandingi buatan warung. Uapnya yang mengepul, aroma bawang yang samar-samar tercium, dan kuah panas yang menyalurkan hangat ke seluruh tubuh, seakan menghadirkan rasa syukur sederhana. Bahwa di luar sana hujan mungkin tak kunjung reda, tapi di meja makan, ada sepiring kecil kebahagiaan yang siap untuk saya nikmati.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Dua Perangkat Nagari Diduga Berselingkuh, Warga Siguntur Heboh

Berita Sesudah

Bukittinggi Meriah, Ribuan Pelari Ramaikan Police Women Run 2025

Berita Terkait

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Jika Renyah dapat dianalogikan, ia bukan ruang yang hadir dengan suara lantang atau pernyataan yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Waktu Tak Menunggu

Minggu, 07/12/25 | 22:22 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya sering bangun tergesa, seolah pagi datang lebih cepat dari dugaan. Waktu terus berjalan...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Hujan yang Merawat Diam

Minggu, 23/11/25 | 19:52 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Hujan selalu punya cara sederhana untuk membuat saya berhenti sejenak. Di antara rintik yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tentang Usaha yang Tidak Terlihat

Minggu, 09/11/25 | 20:13 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam setiap pertandingan olahraga selalu ada dua kemungkinan, menang atau kalah. Dari kejauhan semuanya...

Berita Sesudah
Police Woman Run 2025.[foto : ist]

Bukittinggi Meriah, Ribuan Pelari Ramaikan Police Women Run 2025

POPULER

  • Diksi Cantik sebagai Identitas Perempuan di Instagram

    Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Personifikasi dalam Puisi “Lukisan Berwarna” Karya Joko Pinurbo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berbagai Istilah Urutan Waktu dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Dukung Persiapan Jemaah Haji Kota Padang 1447 Hijriah Sebanyak 193 Orang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Persoalan Ketersediaan Air Bersih Kota Padang Butuh 228 Sumur Bor

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Sawah ke Timeline: Kisah Kata “Ani-ani” yang Berubah Arti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024