Minggu, 01/3/26 | 03:43 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Syarat Sebuah Paragraf yang Ideal

Minggu, 22/6/25 | 20:22 WIB
Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)

Mengenal syarat paragraf yang ideal dalam membuat karangan atau menulis adalah pengetahuan dasar yang amat penting dalam menulis. Seorang penulis mestilah mempunyai cukup bekal dalam menulis. Ibarat prajurit yang hendak perang, seorang penulis harus siap dengan berbagai pengetahuan seputar kebahasaan, termasuk pengetahuan tentang paragraf sebagai senjata dalam menulis.

Penulis yang mempunyai cukup pengetahuan seputar kebahasaan akan percaya diri saat menuangkan ide-ide atau gagasan dalam bentuk tulisan. Tulisan yang tercipta akan mudah dipahami dan enak dibaca saat seorang penulis mempunyai cukup ilmu dalam menulis. Tulisan tersebut akan menemui pembacanya dengan cara yang indah, enak dibaca, dan mudah dipahami. Lalu bagaimana prosesnya tulisan yang indah, enak dibaca, dan mudah dipahami tersebut sampai di hadapan pembaca? Sebelum sampai di hadapan pembaca lain, pembaca pertama sebuah tulisan adalah penulisnya sendiri. Penulis bukan hanya sebagai pencipta ide atau gagasan, melainkan juga sebagai  pembaca pertama sebelum tulisan dibaca oleh orang lain. Sebagai pembaca pertama, seorang penulis berperan sebagai evaluator dan juga editor bagi tulisannya sendiri.

Dari proses pembacaan pertama tersebut muncul penilaian (evaluasi), apakah sebuah tulisan layak atau tidak hadir di ruang publik atau layak atau tidak untuk dikonsumsi oleh khalayak (pembaca). Apakah perlu revisi? Apakah ada kesalahan ejaan, tanda baca, tata kalimat, dan juga tata paragraf? Apakah ada yang salah dengan diksi atau pilihan kata atau kesalahan tata kalimat dan jalinan paragraf yang membentuk kesatuan ide dalam membentuk sebuah teks atau wacana. Proses penilaian itu yang mesti dimiliki oleh seorang penulis agar dapat memperbaiki tulisannya sendiri.

Pembahasan seputar penilaian atau kelayakan sebuah tulisan untuk hadir di ruang publik jarang dijadikan topik pembicaraan yang serius. Padahal, proses ini merupakan bagian penting yang harus dilalui oleh setiap penulis. Proses penilaian terhadap kelayakan tulisan dinamakan proses penyuntingan (editing/proofreading). Contoh proses penyuntingan ini misalnya seperti pengecekan dan perbaikan tanda baca dan ejaan yang salah, perabikan pilihan kata yang tidak tepat, pengecekan dan perbaikan penggunaan frasa, tata kalimat, dan pembentukan paragraf yang keliru untuk menghasilkan makna yang tepat dan sesuai dengan harapan.  Selama ini, topik-topik kepenulisan hanya berbicara tentang cara menggali ide dalam menulis dan hal-hal menarik untuk ditulis. Proses bagaimana sebuah tulisan dapat hadir ke hadapan pembaca dan harus melalui tahapan apa saja, hal itu sering luput atau jarang dibicarakan. Oleh sebab itu, kesalahan-kesalahan kecil dalam menulis cukup sering terjadi. Kesalahan kecil itu berdampak besar terhadap proses melahirkan sebuah tulisan dan juga berdampak besar terhadap pembentukan keterampilan seorang penulis. Akibatnya, seorang penulis tidak terlatih dalam hal penggunaan bahasa. Salah satunya tidak terlatih dalam membuat paragraf yang ideal. Kesalahan kecil yang sering terjadi dalam pembentukan paragraf adalah syarat jumlah kalimat untuk sebuah paragraf yang ideal.

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB
Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB

Sebuah paragraf bukan hanya tumpukan teks semata yang tidak bermakna, melainkan jalinan kata, frasa, dan kalimat yang bernilai dan bermakna dalam menyampaikan pesan dan nilai-nilai kepada pembaca. Oleh sebab itu, sebuah paragraf dituntut untuk memperhatikan relasi kohesi dan koherensi. Kohesi (kesatuan) dan koherensi (kepaduan) bertugas untuk memberi makna dan nilai pada sebuah teks atau wacana. Pemahaman tentang kohesi dan koherensi harus dimiliki oleh seorang penulis untuk mempertimbangkan keberadaan pembacanya agar ide-ide tersampaikan ke hadapan pembaca dengan cara yang santun, elegan, dan mudah dipahami. Penulis yang mempertimbangkan keberadaan pembaca patuh dan taat pada kaidah kebahasaan yang baik dalam menulis, termasuk patuh dalam menyiapkan sebuah paragraf yang baik.

Lalu apa yang dimaksud dengan paragraf yang baik? Widjono (2012:222) mendefinisikan paragraf sebagai satuan bahasa tulis yang terdiri atas beberapa kalimat yang tersusun secara terpadu, runtut, logis, dan merupakan kesatuan ide yang tersusun secara lengkap dan utuh. Paragraf juga didefinisikan sebagai  bagian dari suatu karangan yang terdiri atas sejumlah kalimat untuk mengungkapkan satuan informasi  dengan pikiran utama sebagai topik dan pikiran penjelas sebagai pendukung dan pengendali pengembangan topik.

Paragraf yang baik mempunyai ciri-ciri yang dapat diidentifikasi dengan mudah. Ciri-ciri pertama adalah dari segi cara penulisan, kalimat pertama dimajukan lima ketukan ke dalam. Ciri-ciri ini terdapat pada paragraf yang paling umum digunakan dan ciri-ciri yang lain kalimat pertama dimulai dengan huruf kapital dengan rata kiri dan kanan. Penandanya hanya dapat dilihat dari pengelompokkan teks-teks. Ciri-ciri kedua adalah setiap paragraf menggunakan pikiran utama yang dinyatakan dalam kalimat topik dan setiap paragraf hanya mempunyai satu kalimat topik. Ciri-ciri ketiga adalah menggunakan ide penjelas yang dinyatakan dengan kalimat penjelas. Ciri-ciri keempat adalah bahwa seluruh kalimat dalam sebuah paragraf memiliki hubungan saling mengait yang ditandai oleh penggunaan konjungsi (kata hubung), substitusi (penggantian), pronomina (kata ganti),  elipsis (pelesapan), dan sebagainya.

Bagian yang sering keliru dialami oleh para penulis adalah tentang penggunaan jumlah kalimat dalam sebuah paragraf. Ada yang menggunakan satu atau dua kalimat panjang dan sudah menjadikannya dalam satu paragraf, lalu ada juga yang membuat dua kalimat panjang dalam satu paragraf dengan maksud membaginya atas satu kalimat topik dan satu kalimat penjelas. Namun, jumlah paling ideal dan dianggap memenuhi syarat untuk disebut paragraf adalah tiga sampai dengan tujuh kalimat. Jumlah tersebut terdiri atas satu kalimat topik yang berisi gagasan utama dan didukung oleh beberapa kalimat penjelas yang berisi ide-ide penjelas. Demikian ulasan sederhana mengenai syarat ideal sebuah paragraf untuk diingat dan dijadikan pedoman dalam menulis. Semoga bermanfaat.

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Belajar dari Menunggu

Berita Sesudah

Kehadiran Tokoh Nasional Tingkatkan Promosi Budaya Tabuik Pariaman

Berita Terkait

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa minggu terakhir dunia digital dihebohkan oleh...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Setelah kapitil, masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan definisi...

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Bon atau Bien? Dua Kata yang Sering Tertukar, tetapi Tidak Pernah Sama

Minggu, 01/2/26 | 14:54 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Bon dan bien adalah dua kosakata dalam bahasa Prancis yang...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Berbagai Istilah Tempat Perbelanjaan dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 25/1/26 | 17:00 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Berbelanja merupakan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Suatu sore, adik perempuan saya mendatangi saya dan berkata “Uni sudah...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Minggu, 11/1/26 | 09:57 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Tiba-tiba warganet Indonesia heboh...

Berita Sesudah
Kehadiran Tokoh Nasional Tingkatkan Promosi Budaya Tabuik Pariaman

Kehadiran Tokoh Nasional Tingkatkan Promosi Budaya Tabuik Pariaman

POPULER

  • Perhatikan Masjid hingga Dampak Bencana, Firdaus Gugah Warga Lubuk Alung Lewat Safari Ramadan

    Perhatikan Masjid hingga Dampak Bencana, Firdaus Gugah Warga Lubuk Alung Lewat Safari Ramadan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dua Orang Tewas di Konsesi PT Bina, Warga Desak Disnaker Evaluasi Standar K3

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Allah dan Orang Tua dalam Bisnis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjanjikan, Walnag Sipangkur Ajak Pemuda Kelola Jagung di Lahan Tidur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Realitas Kekuasaan Budaya Politik Elite di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber Bersama Wartawan, Kapolres Dharmasraya: Sinergi adalah Kunci

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024