Selasa, 10/3/26 | 15:42 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home DAERAH

Gempuran Hiburan Modern, Dendang Saluang Kian Terlupakan

Jumat, 03/3/23 | 10:49 WIB

Padang, Scientia.id – Sumatera Barat dikenal dengan kekayaan seni budayanya, salah satunya dendang saluang—sebuah bentuk kesenian tradisional yang memadukan tiupan alat musik saluang dengan lantunan syair panjang penuh makna. Kesenian ini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau selama ratusan tahun. Namun kini, gaung dendang saluang kian sayup, tergerus oleh perkembangan zaman dan gempuran hiburan-hiburan modern yang lebih populer di kalangan generasi muda.

Dulu, dendang saluang mengisi malam-malam masyarakat Minang dengan suara khas dan alunan syair mendalam yang menyentuh jiwa. Acara-acara seperti “malam saluang” atau “baralek dendang” menjadi ajang berkumpulnya warga dari berbagai usia untuk menikmati cerita yang disampaikan dalam irama yang mendayu. Kini, kegiatan semacam itu makin jarang ditemukan. Tempat-tempat yang dulu menjadi pusat pentas dendang saluang mulai sepi, bahkan banyak yang berhenti menyelenggarakan acara secara rutin.

Peneliti sejarah dan seni, Yose Hendra mengatakan dendang saluang dahulu bukan semata alat hiburan bagi warga. Dendang saluang dulunya menjadi pengantar malam yang sakral dan penuh makna. Lagu-lagu dendang saluang tak hanya meninabobokan, tapi juga menyampaikan petuah, sejarah, dan kritik sosial secara halus.

BACAJUGA

Ketua DPRD Kota Padang Muharlion menerima LKPJ Wali Kota Padang Tahun 2025

DPRD Padang Gelar Rapat Paripurna Penyampaian LKPJ TA 2025

Senin, 09/3/26 | 18:51 WIB
Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir menyampaikan, Nota Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun 2025 dalam Rapat Paripurna DPRD Kota Padang, Senin (9/3/2026).

Wawako Padang Sampaikan LKPJ Tahun 2025 Komitmen Transparan dan Bertanggung Jawab Terhadap Anggaran

Senin, 09/3/26 | 17:34 WIB

“Ada petuah, sejarah dan kritik sosial yang melekat di dalamnya,” katanya kepada Scientia, Jumat (3/3/2023).

Namun menurutnya, semua itu sekarang telah bergeser. Kondisi ini tak lepas dari berubahnya cara masyarakat, khususnya anak muda, dalam menikmati hiburan. Dunia digital menawarkan beragam konten instan, cepat, dan visual yang dianggap lebih menarik. Musik pop, hip-hop, K-Pop, dan konten hiburan daring seperti TikTok dan YouTube telah menjadi konsumsi utama.

“Akibatnya, kesenian tradisional seperti dendang saluang dianggap “jadul” atau tidak relevan dengan selera zaman sekarang,” tambahnya.

Padahal, dendang saluang bukan hanya sekadar hiburan. Ia menyimpan nilai-nilai lokal, petuah-petuah hidup, hingga kritik sosial yang dibalut dalam syair panjang. Dalam satu sesi pertunjukan, pendendang bisa menyampaikan cerita tentang cinta, perjuangan, sejarah nagari, bahkan peringatan moral bagi pendengar. Namun karakter ini justru menjadi tantangan tersendiri di era digital, ketika perhatian orang mudah teralihkan dan durasi konsumsi konten makin pendek.

Tak hanya dari segi penikmat, tantangan juga datang dari segi pelaku seni. Semakin sedikit generasi muda yang tertarik mempelajari saluang dan seni berdendang. Dendang saluang memerlukan waktu belajar yang panjang, kemampuan menghafal syair, serta teknik pernapasan khusus untuk meniup saluang tanpa henti. Proses ini tentu tak semudah membuat konten viral dalam 15 detik. Akibatnya, regenerasi pelaku seni hampir mandek. Banyak grup kesenian tradisional yang kini beranggotakan orang-orang tua, tanpa penerus yang siap melanjutkan estafet budaya.

Lingkungan Tak Mendukung

Di sisi lain, lingkungan sekitar pun tak selalu mendukung upaya pelestarian. Minimnya ruang tampil, keterbatasan dukungan dari pemerintah, hingga kurangnya apresiasi masyarakat membuat posisi dendang saluang makin terpinggirkan. Bahkan di beberapa daerah, anak-anak muda yang mencoba belajar saluang dianggap aneh atau tidak keren oleh teman sebayanya. Stigma ini tentu menjadi penghalang besar dalam menumbuhkan minat terhadap kesenian warisan leluhur.

Jika tren ini terus berlanjut, dikhawatirkan dendang saluang akan benar-benar lenyap dari peradaban. Kesenian yang dahulu menjadi jantung budaya Minangkabau, perlahan hanya akan menjadi catatan dalam buku sejarah, dikenang namun tidak lagi hidup. Sebuah ironi, mengingat Minangkabau adalah salah satu daerah dengan kebudayaan lisan yang kuat dan sarat makna.

“Ini harus kita waspadai, jangan sampai seni tradisi lisan ini hilang tergerus zaman dan cuma menjadi sejarah,” ujar Yose.

Meski begitu, masih ada secercah harapan. Digitalisasi dan media sosial yang selama ini dianggap sebagai penyebab lunturnya tradisi, sebenarnya bisa menjadi jembatan pelestarian. Jika dikemas dengan pendekatan baru, dendang saluang berpotensi menjangkau audiens yang lebih luas, bahkan lintas daerah dan negara. Konten edukatif, pertunjukan daring, atau kolaborasi dengan genre musik modern bisa menjadi cara untuk memperkenalkan kembali kesenian ini kepada generasi muda.

Namun langkah tersebut tentu memerlukan komitmen bersama. Mulai dari komunitas seni, lembaga pendidikan, hingga pemerintah daerah harus saling bersinergi. Dendang saluang perlu diberikan ruang hidup baru, baik secara fisik maupun digital. Tanpa itu, dendang saluang hanya akan menjadi gema sunyi di kampung-kampung yang perlahan dilupakan, kehilangan makna dan pendengarnya.

“Perlu upaya yang kuat baik dari pemerintah, pegiat seni dan budaya dan juga generasi muda untuk kembali menghidupkan kesenian dendang saluang agar bisa terus hidup dan bertumbuh,” pungkasnya.

Kesenian tradisional seperti dendang saluang bukan sekadar hiburan tempo dulu. Ia adalah bagian dari jati diri dan kearifan lokal yang seharusnya tetap hidup di tengah kemajuan zaman. Saat dunia bergerak cepat, mungkin sudah waktunya kita melambat sejenak—dan kembali mendengar dendang yang pernah membentuk jiwa budaya kita. (Ram)

Tags: Dendang saluangKesenianSumbar
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pajak Jadian

Berita Sesudah

Eksistensi Perempuan dalam Film Dear David (2023)

Berita Terkait

Ketua DPRD Kota Padang Muharlion menerima LKPJ Wali Kota Padang Tahun 2025

DPRD Padang Gelar Rapat Paripurna Penyampaian LKPJ TA 2025

Senin, 09/3/26 | 18:51 WIB

Ketua DPRD Kota Padang Muharlion menerima LKPJ Wali Kota Padang Tahun 2025 PADANG, Scientia---- - DPRD Kota Padang menggelar sidang...

Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir menyampaikan, Nota Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun 2025 dalam Rapat Paripurna DPRD Kota Padang, Senin (9/3/2026).

Wawako Padang Sampaikan LKPJ Tahun 2025 Komitmen Transparan dan Bertanggung Jawab Terhadap Anggaran

Senin, 09/3/26 | 17:34 WIB

Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir menyampaikan, Nota Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun 2025 dalam Rapat Paripurna DPRD Kota Padang,...

Safari Ramadhan 1447 H  Pimpinan DPRD Padang Salurkan Bantuan   dan Serap Aspirasi Akar Rumput

Safari Ramadhan 1447 H Pimpinan DPRD Padang Salurkan Bantuan  dan Serap Aspirasi Akar Rumput

Senin, 09/3/26 | 12:04 WIB

      PADANG, Scientia---- - Momentum Ramadan 1447 H menjadi ajang bagi jajaran legislatif di Kota Padang untuk turun...

PKDP Sumbar Perkuat Silaturahmi Perantau Pariaman Lewat Buka Puasa Bersama

PKDP Sumbar Perkuat Silaturahmi Perantau Pariaman Lewat Buka Puasa Bersama

Sabtu, 07/3/26 | 19:18 WIB

Padang, Scientia - Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Persatuan Keluarga Daerah Pariaman (PKDP) Sumatera Barat menggelar buka puasa bersama di Rumah...

Mudik Lebaran 2026, Sumbar Terapkan Pembatasan Truk dan One Way di Lembah Anai

Mudik Lebaran 2026, Sumbar Terapkan Pembatasan Truk dan One Way di Lembah Anai

Sabtu, 07/3/26 | 15:56 WIB

Padang, Scientia - Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menyiapkan sejumlah kebijakan pengaturan lalu lintas selama masa arus mudik dan arus balik...

Perum Bulog Akan Bangun Gudang Logistik di Dharmasraya

Perum Bulog Akan Bangun Gudang Logistik di Dharmasraya

Sabtu, 07/3/26 | 06:45 WIB

Dharmasraya, Scientia.id – Upaya jemput bola yang dilakukan Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani, ke pemerintah pusat kembali membuahkan hasil. Dalam...

Berita Sesudah
Peran Latar Tempat dalam Perfileman Horor Indonesia

Eksistensi Perempuan dalam Film Dear David (2023)

POPULER

  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKDP Sumbar Perkuat Silaturahmi Perantau Pariaman Lewat Buka Puasa Bersama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Inspirasi Menu Buka Puasa Enak: Dari Takjil Manis Hingga Lauk Gurih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • BPASN Perkuat Pemecatan ASN Dharmasraya Anike Maulana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Ganti Engkau, Kau, Dia, dan Ia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026