Sabtu, 25/4/26 | 23:42 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Menjadi Orang Tua Tidak Sempurna

Minggu, 09/6/24 | 10:45 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Akhir-akhir ini saya cukup sering mimpi buruk. Mimpi itu sering pula membuat terbangun dini hari seperti pada pukul 2 atau pukul 4. Kadang waktu-waktu tersebut dapat saya manfaatkan untuk hal-hal berguna, kadang pula tidak. Saya melanjutkan tidur dan terbangun esok paginya dengan tubuh serta pikiran yang penat.

Ada satu dua hal yang saya khawatirkan belakangan ini. Saya kira, inilah yang menjadi penyebab seringnya mimpi-mimpi buruk berkunjung dan membuat tidur tidak nyenyak. Saya terlalu mengkhawatirkan pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul di kepala, seperti “bagaimana kelak saya menjadi ibu?”, “bisakah saya melakukannya?”

BACAJUGA

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Saya sering menaruh rasa kagum kepada ibu-ibu yang begitu cekatan meskipun ia adalah ibu baru. Selain cekatan, mereka juga menjadi ibu yang tampak kuat dan sabar. Di mana orang-orang ini belajar? Buku apa yang ia baca? Kelas parenting seperti apa yang ia ikuti? Begitulah saya bertanya-tanya.

Untuk mengalihkan rasa khawatir dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak saya punya jawabannya, saya memerlukan hal-hal yang menenangkan, menghibur, dan kadang pula lucu. Beberapa hari lalu saya berhasil menuntaskan sebuah gambar yang membuat perasaan di hari itu menjadi positif. Beberapa hari setelahnya saya menemukan sebuah lagu dan drama pendek. Setelahnya saya membaca ulang beberapa buku yang pada awalnya untuk mencari hal lain yang tak berhubungan dengan kekhawatiran saya.

Dari pembacaan ulang di beberapa bagian buku itu, saya menemukan refleksi diri yang sebelumnya mungkin tak terpikirkan. Buku pertama yang saya baca di hari itu ialah Akhir Pejantanan Dunia karya Ester Lianawati. Saya membaca subbab “Membongkar Peran Ibu”. Di sana ada subjudul lagi dengan judul “Kenarsisan Cinta Ibu”. Menjadi ibu yang narsistik hanya akan berujung pada ibu beracun dan buas.

Lianawati menegaskan bahwa perempuan perlu menerima bila mengandung dan melahirkan tidak serta merta membuatnya memiliki hak dan ikatan yang lebih dari ayah terhadap anak. Hal itu bukan berarti pula mengenyampingkan kebanggaan dan kebahagiaannya atas pengalaman unik yang tidak dirasakan oleh ayah. Yang berbahaya dari itu ialah ibu yang narsistik. Ibu yang merasa paling tahu dan paling berhak atas anak yang ia lahirkan dan mengerdilkan peran ayah.

Bagian inilah yang menjadi refleksi diri bagi saya. Saya berpikir bahwa sayalah yang paling bertanggung jawab bila tiba waktunya melahirkan dan mengasuh. Saya memberi tuntutan pada diri sendiri untuk melakukannya dengan sempurna tanpa cela. Keibuan saya harus dipandang sebagai sesuatu yang menakjubkan, teladan, dan panutan. Tentu saja pemikiran ini akan membuat saya menjadi ibu beracun, baik untuk anak maupun untuk diri sendiri.

Racun itulah yang telah saya rasakan meski belum mengalami keseluruhan proses menjadi ibu. Saya menuntut diri untuk serba bisa, cekatan, kuat, dan sabar seperti yang sering saya saksikan di linimasa media sosial. Inilah yang pada akhirnya menimbulkan kekhawatiran hingga berujung munculnya mimpi buruk. Padahal ada pasangan untuk melakukan peran itu secara proporsional dan menghayatinya secara positif.

Menutup aktivitas membaca buku di hari itu saya membolak balik kembali Aku, Meps, dan Beps karya Reda Gaudiamo. Menarik dan lucu sekali membaca tulisan Soca tentang kelebihan dan kekurangan kedua orang tuanya. Mepsnya adalah orang yang suka marah-marah, tidak sabaran, dan pelupa. Akan tetapi di balik itu, ia adalah Meps yang suka senyum, bercanda, bercerita, dan pandai bernyanyi. Begitu pula dengan ayahnya yang suka bangun kesiangan dan lamban, tetapi ia sabar, pandai mencuci, dan menjahit.

Seketika saya teringat ibu saya. Beliau bukanlah sosok ibu yang sempurna. Akan tetapi kekurangannya tidak mengurangi rasa hormat dan kagum saya padanya. Kiranya, membaca ulang dan berujung refleksi diri seperti ini pada akhirnya terasa menenangkan. Saya merasa bahwa menjadi orang tua yang sempurna agaknya mustahil dan tidak perlu dipaksakan hingga menuntut diri tanpa cela. Hal itu merupakan proses seumur hidup dan yang perlu diusahakan ialah kelak meninggalkan kenangan baik untuk anak-anak.

Tags: Lastry Monika
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Kaidah Peluluhan KTSP pada Awalan Me- untuk Gugus Konsonan

Berita Sesudah

Penggunaan Kata Suka yang Tidak Sederhana

Berita Terkait

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Berita Sesudah
Petinju dan Peninju; Manakah yang Benar?

Penggunaan Kata Suka yang Tidak Sederhana

Discussion about this post

POPULER

  • Bupati Annisa Hadiri Sosialisasi Pencabutan PBPH

    Bupati Annisa Hadiri Sosialisasi Pencabutan PBPH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PMII Diingatkan Tak Jadi Alat Politik, Mabincab Padang Soroti Pragmatisme Kekuasaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPP PKB Kantongi Hasil UKK, 15 Ketua DPC di Sumbar Segera Ditetapkan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cetak Generasi Emas Sawit, 114 Pemuda Dharmasraya Ikuti Sosialisasi Beasiswa SDM Perkebunan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Jenis-jenis Pola Pikir Manusia, Begini Penjelasan Para Ahli Psikologi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026