Senin, 20/4/26 | 06:36 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Grup Obrolan Keluarga

Minggu, 04/2/24 | 11:12 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Berdasarkan pengamatan yang tentu saja tidak begitu mendalam, kehadiran grup obrolan keluarga dapat dikatan cukup unik. Selain unik, kehadirannya juga memiliki karakteristik yang berbeda antara grup obrolan keluarga satu dengan grup obrolan keluarga yang lainnya. Karakteristik tidak hanya dimiliki oleh suatu grup, tetapi juga diisi oleh anggota dengan karakter dan kecenderungan yang juga beragam.

Saya memiliki grup keluarga yang dapat dikatakan cukup aktif beroperasi. Hampir setiap hari selalu saja ada notifikasi yang saya terima. Grup yang beranggotakan 36 orang tersebut (dan sepertinya akan selalu bertambah dari waktu ke waktu) memiliki anggota dengan profesi dan usia yang beragam, mulai dari lansia hingga anak-anak yang masih muda belia.

BACAJUGA

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salah satu anggota keluarga menjadi yang paling aktif membagikan informasi setiap hari. Hal itu membuat ruang obrolan tidak pernah sepi, sebab ada pula anggota keluarga lainnya yang aktif merespons setiap informasi yang dibagikan. Saya sendiri lebih cenderung menjadi pembaca diam, kecuali informasi tersebut benar-benar menarik perhatian saja. Sesekali saya juga ikut serta membagikan informasi yang saya kira penting. Biasanya informasi tersebut berkaitan dengan anggota keluarga lainnya.

Dibandingkan grup obrolan keluarga beberapa teman yang saya kenal, grup yang saya punya dapat dikatakan cukup interaktif. Salah seorang teman memiliki grup keluarga yang bisa dikatakan hampir tidak ada gunanya. Sejak pertama kali dibuat, grup tersebut tidak memiliki obrolan lain selain obrolan berbunyi, “Grup ini dibuat untuk ruang diskusi keluarga kita!” yang dikirim oleh admin grup. Namun, menurut cerita teman saya itu, tidak pernah ada diskusi dalam ruang obrolan tersebut hingga anggotanya meninggalkan grup satu persatu.

Lain pula ceritanya dengan grup obrolan keluarga teman yang lainnya. Grup keluarga yang ia miliki sangat aktif. Akan tetapi aktif menyebarkan informasi yang tidak jelas sumbernya. Hal ini membuat teman saya mendapat pekerjaan tambahan tanpa bayaran, yaitu sibuk membuat klarifikasi dan mengingatkan semua anggota grup agar tidak menelan mentah-mentah informasi atau konten yang diterima.

Suatu hari ia menerima video pendek dalam ruang obrolan keluarga. Video itu berisikan informasi bahwa sosis berasal dari daging babi yang digiling secara bulat-bulat dalam kondisi hidup memakai sebuah mesin. Padahal potongan video tersebut dicomot dari salah satu adegan film yang pernah ditonton oleh teman saya. Hari itu ia sibuk meluruskan info yang kadung diedarkan oleh anggota keluarganya. Hari-hari menjelang pemilu ini tampaknya ia semakin sibuk. Sebab setiap informasi bohong yang beredar musti diberantas dan dapat dimulai dari keluarga terdekat.

Teman yang lain memiliki grup obrolan keluarga yang juga unik. Grup tersebut digunakan oleh keluarga membagikan informasi sehari-hari karena mereka tinggal berjauhan. Suatu hari ayahnya mengabarkan bahwa mereka memiliki dua anggota kelaurga baru yang baru saja lahir. Teman saya agak heran, sebab anak-anak ayahnya hingga sanak saudara yang lain tidak ada yang sedang hamil. Rupanya yang dimaksud oleh ayahnya ialah kelahiran dua ekor anak kucing. Sang ayah pun meminta pendapat terkait nama yang bagus untuk diberikan pada dua ekor kucing mungil tersebut.

Begitulah gurp obrolan keluarga tersebut, berbagai pesan yang disampaikan, berbagai pula pemaknaan dari pembacanya. Hal itu menciptakan ruang untuk diskusi yang hidup dan interaksi yang beragam, yang pada gilirannya memperkaya hubungan keluarga serta membangun pemahaman yang lebih dalam antara anggota keluarga.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Kata “dalem“ dan Pronomina Serapan dalam Bahasa Indonesia

Berita Sesudah

Grup Obrolan Keluarga

Berita Terkait

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Berita Sesudah
Cerpen “Jangan Marahi Aku Ibu” Karya Guswita dan Ulasannya Oleh Dara Layl

Cerpen "Jangan Marahi Aku Ibu" Karya Guswita dan Ulasannya Oleh Dara Layl

Discussion about this post

POPULER

  • Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari ‘Rakyat’ ke ‘Masyarakat’: Pergeseran Kata dan Ideologi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Bahasa Indonesia Formal dan Informal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026