Minggu, 19/4/26 | 09:28 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Mitos Menstruasi hingga Kini

Minggu, 06/11/22 | 09:59 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id)

 

Suatu hari, salah seorang sanak saudara berkunjung ke rumah saya. Ia berkunjung bersama anak perempuannya. Ketika itu, ia membawa kabar bahwa anak perempuannya yang berusia 10 tahun itu tengah menstruasi. Itu bukanlah kali pertama, yang artinya ia mendapat haid lebih cepat. Saya yang mendengar kabar itu merasa bahagia dan berencana bercerita banyak hal tentang haid dengan keponakan saya itu., tetapi ayahnya kemudian berkata, “Apa ini normal? Kok cepat sekali? Dia tidak sedang diguna-guna, kan? Saya curiganya begitu”.

Pernyataan itu ia ucapkan berkali-kali meskipun saya dan ibu mengatakan menstruasi yang datang lebih cepat sangatlah normal. Terlebih keponakan saya telah berusia 10 tahun, usia yang sangat wajar untuk haid. Sebab, menstruasi kali pertama umumnya dialami oleh perempuan di usia 10 hingga 15 tahun. Ia pun memiliki siklus haid yang normal dan teratur sejak pertama kali mengalaminya.

Rupanya mitos-mitos tentang menstruasi tidak dengan mudah bisa ditinggalkan. Sejak lama, menstruasi diidentikkan dengan simbol-simbol mitos. Darahnya misalnya, dalam anggapan sejarah dianggap tabu. Istilah yang terkait dengan peristiwa biologis ini juga beragam, seperti “datang bulan”, “tanggal merah”, “sedang kotor”, “kedatangan tamu”, “sedang libur”, “lagi dapet”, dan lain sebagainya.

Pada salah satu artikel berjudul “Teologi Menstruasi: Antara Mitologi dan Kitab Suci” yang ditulis Nasaruddin Umar, kata ‘tabu’ yang sering dikaitkan dengan menstruasi memunculkan “menstrual taboo”. Hal itu kemudian menjadi salah satu cikal-bakal langgengnya patriarki. Konsep menstruasi, bahkan dianggap sebagai kutukan dan berasal dari sesuatu yang gaib.

BACAJUGA

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

Dalam lintasan sejarahnya, sebagian kepercayaan mengamini bahwa darah menstruasi muncul bersamaan dengan terjadinya peristiwa dosa. Hal itu terkait pelanggaran yang dilakukan Hawa/Eva di surga yang mengakibatkan wanita akan menanggung 10 penderitaan, salah satunya ialah siklus menstruasi.

Namun, di dalam Al-Qur’an, terdapat pandangan yang optimis terkait haid. Bila sebelumnya perempuan haid tidak diperbolehkan berkumpul bersama keluarganya, bahkan masakannya tidak boleh dimakan, dalam Islam Nabi justru bersabda, “lakukanlah segala sesuatu (kepada istri yang sedang haid) kecuali bersetubuh”. Hal yang sebelumnya dianggap tabu bergeser menjadi hal yang dianggap alami.

Sebetulnya, saya tidak begitu yakin bila anggapan guna-guna terkait menstruasi yang dilontarkan ayah keponakan saya itu sebagai sisa-sisa dari kepopuleran menstrual taboo di masa dulu. Namun, tidak bisa dimungkiri pula bahwa menstrual taboo menimbulkan akibat yang mengakar dalam masyarakat. Mitos tertentu seringkali menyertai perempuan yang sedang haid. Ketika saya di sekolah menengah, saya menjumpai narasi bahwa aroma tubuh perempuan akan berbeda antara saat sedang haid atau tidak. Anehnya, aroma itu dipercaya hanya akan diketahui olah anak laki-laki.

Di sekolah dasar, adakalanya pula menstruasi dianggap sebagai penyakit yang menular. Anggapan itu menyebabkan anak laki-laki menjauhi teman perempuannya yang ia duga sedang haid. Di sekolah-sekolah biasanya siswi perempuan dikumpulkan secara khusus untuk menerima penyuluhan terkait reproduksi perempuan. Siswa laki-laki tidak diikutsertakan seolah mereka tidak perlu (boleh) tahu. Akibatnya, anggapan mereka yang keliru tentang menstruasi yang dialami teman perempuannya sulit diluruskan.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Mengenal Afiks ter- dalam Bahasa Indonesia

Berita Sesudah

Mengenal Predikasi dan Struktur Argumen dalam Klausa/Kalimat

Berita Terkait

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Berita Sesudah
Mengenal Predikasi dan Struktur Argumen dalam Klausa/Kalimat

Mengenal Predikasi dan Struktur Argumen dalam Klausa/Kalimat

Discussion about this post

POPULER

  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penulisan Huruf Kapital pada Peristiwa Bersejarah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “sudah” dan “telah”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Konsep Metafungsi dalam Wacana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Bahasa Indonesia Formal dan Informal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026