
Dharmasraya, Scientia.id — Sebanyak 17 kontingen mengikuti Pawai Budaya Nagari Sikabau, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya, Kamis (27/8/2026).
Pawai budaya tersebut mengambil titik awal di Pasar Sikabau. Selanjutnya, para peserta berjalan beriringan melewati Jalan Lintas Sunatra dan berakhir di Koperasi Sawit Pusako Niniak Mamak Sikabau.
Sebanyak 17 kontingen yang ambil bagian berasal dari sejumlah jorong se-Nagari Sikabau, sekolah PAUD, TK dan SD, serta komunitas Suku Anak Dalam (SAD) yang bermukim di kawasan hutan ulayat Nagari Sikabau.
Keikutsertaan komunitas SAD menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan tersebut. Selain menampilkan keberagaman masyarakat Nagari Sikabau, kehadiran mereka juga membawa pesan terkait keberadaan dan keberlangsungan kehidupan komunitas SAD di wilayah tersebut.
Salah seorang peserta pawai dari komunitas SAD, Agus Prianto, mengatakan pihaknya tetap mendukung perjuangan Niniak Mamak Nagari Sikabau terkait persoalan lahan yang saat ini menjadi sengketa.
Menurut Agus, dukungan tersebut diberikan karena komunitas SAD telah lama bermukim di wilayah Nagari Sikabau dan kawasan tersebut menjadi bagian dari ruang kehidupan mereka.
“Kami tetap mendukung Niniak Mamak Sikabau karena kami bertempat di situ. Kami bergabung dengan Sikabau karena tinggal di wilayah Sikabau,” ujarnya.
Agus berharap persoalan lahan yang terjadi tidak sampai mengancam keberlangsungan kehidupan komunitas SAD. Ia juga berharap ada penyelesaian yang dapat memberikan kepastian dan tidak menimbulkan gugatan maupun persoalan baru bagi masyarakat.
“Kalau bisa dibantu, kami terima bantuan seperti apa pun. Supaya tidak ada gugatan,” tuturnya.
Senada, komunitas SAD Nasir menambahkan keberadaan komunitas SAD di kawasan hutan tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun dan bahkan telah melewati beberapa generasi.
Ia juga mengatakan keberadaan mereka di kawasan tersebut berkaitan dengan arahan Niniak Mamak Sikabau yang sejak lama menempatkan komunitas SAD di wilayah tersebut.
“Sudah sangat lama, sudah tidak tahu berapa generasi. Yang jelas sudah sekian puluhan tahun,” katanya.
Nasir menegaskan bahwa kelompok SAD yang mendiami lahan sengketa dengan PT KBL tersebut akan terus mendukung Niniak Mamak Sikabau terkait persoalan mafia tanah ini yang membuat konflik di ruang hidup komunitas SAD.
“Kami akan mendukung,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Koperasi Sawit Pusako Niniak Mamak Sikabau, Herianto Dt. Mandaro, menyampaikan bahwa Pawai Budaya Nagari Sikabau bukan hanya menjadi ajang menampilkan keberagaman budaya, tetapi juga momentum untuk memperkuat persatuan masyarakat.
Ia berharap seluruh elemen masyarakat Nagari Sikabau dapat bangkit dan bersatu dalam menjaga wilayah serta kepentingan nagari.
“Kami berharap seluruh elemen Nagari Sikabau bangkit bersatu untuk sama-sama menjaga keutuhan nagari dan tetap mempertahankan persatuan,” katanya.
Terkait persoalan lahan, Herianto menyebut terdapat sekitar 2.300 hektare lahan yang menurut pihaknya saat ini menjadi bagian dari persoalan dengan sebuah perusahaan.
Ia berharap pemerintah dapat hadir untuk mencari penyelesaian melalui langkah-langkah yang baik, adil, serta tidak merugikan masyarakat.
“Harapan kami kepada pemerintah, mari kita selesaikan bersama dengan langkah-langkah yang baik, dengan cara-cara yang adil, dan tidak merugikan kami,” ujarnya.
Pawai Budaya Nagari Sikabau pun berlangsung sebagai ruang kebersamaan masyarakat, sekaligus memperlihatkan keberagaman unsur masyarakat yang hidup di Nagari Sikabau, termasuk komunitas SAD yang telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat setempat. (*)









