![Anggota DPRD Kota Padang Fraksi PKB, Yusri Latif. [foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/05/image_big_673dbb1961382.jpg)
Ketua DPC PKB Kota Padang, Yusri Latif, menilai usia Kota Padang yang telah mencapai 357 tahun seharusnya mencerminkan kematangan tata kelola pembangunan dan meningkatnya kualitas hidup masyarakat. Namun kenyataannya, hingga saat ini masyarakat dipaksa menanggung ketidakberdayaan akibat kondisi alam.
“Di usia yang sudah sangat matang ini, masyarakat seharusnya tidak lagi disibukkan dengan situasi tanggap darurat setiap kali hujan deras datang. Pemerintah semestinya mampu membawa masyarakat fokus pada peningkatan kualitas hidup, bukan terus-menerus berhadapan dengan bencana yang sama,” kata Yusri Latif.
Beberapa hari menjelang peringatan HJK ke-357, banjir kembali merendam sejumlah kawasan di Kota Padang setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut. Peristiwa itu menyebabkan aktivitas masyarakat terganggu dan memaksa pemerintah melakukan penanganan darurat.
Menurut Latif, kondisi tersebut harus menjadi bahan evaluasi serius bagi seluruh pemangku kepentingan. Ia mengatakan, pembangunan kota tidak cukup diukur dari bertambahnya infrastruktur atau banyaknya agenda seremonial, melainkan dari kemampuan pemerintah melindungi warganya dari risiko bencana.
“Ulang tahun kota bukan hanya soal pesta rakyat atau seremoni. Yang paling penting adalah memastikan warga merasa aman, nyaman, dan terlindungi. Itu ukuran keberhasilan sebuah kota,” ujarnya.
Legislator PKB itu juga menilai persoalan banjir tidak bisa lagi diselesaikan melalui langkah-langkah jangka pendek. Pemerintah Kota Padang perlu memperkuat sistem drainase, mengendalikan alih fungsi lahan, memperbaiki tata ruang, hingga memastikan normalisasi sungai berjalan secara konsisten.
Ia juga mendorong agar perencanaan pembangunan lebih berpihak pada kajian yang mendalam terkait antisipasi bencana bagi daerah rawan. Menurutnya, setiap proyek pembangunan harus mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan agar tidak memperbesar risiko banjir di masa mendatang.
“Kita ingin Padang tumbuh sebagai kota yang tangguh terhadap bencana. Jangan sampai setiap musim hujan masyarakat selalu dihantui kecemasan karena air kembali masuk ke rumah mereka,” katanya.
Di sisi lain, Latif mengajak semua pihak pada momentum Hari Jadi Kota Padang dijadikan titik balik untuk membangun kolaborasi antara pemerintah, DPRD, akademisi, komunitas, dan masyarakat dalam menyelesaikan persoalan banjir secara menyeluruh.
“Usia 357 tahun harus menjadi simbol kedewasaan kota dalam menyelesaikan persoalan mendasar. Sudah saatnya Padang keluar dari siklus banjir yang terus berulang dan bergerak menuju kota yang lebih aman, lebih tertata, dan lebih layak huni,” ujar dia.(yrp)







