![Infografis Wabub Solok, H. Candra melarang masyarakat sebarkan foto dan video tak pantas korban galodo.[foto:ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260922-WA0042.jpg)
Imbauan itu disampaikan Candra di tengah penanganan bencana galodo yang menerjang sejumlah wilayah Kabupaten Solok pada Senin malam, 21 September 2026. Selain menyebabkan kerusakan dan kepanikan, bencana tersebut juga meninggalkan duka dan trauma bagi masyarakat terdampak.
Menurut Candra, situasi bencana tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan martabat korban. Perkembangan teknologi memang membuat informasi, foto, dan video dapat tersebar dalam hitungan detik. Namun, kecepatan menyebarkan informasi harus tetap dibarengi pertimbangan terhadap dampaknya.
“Jangan sebarkan. Jagalah martabat korban,” kata Candra.
Ia meminta masyarakat berhenti sejenak sebelum mengunggah ataupun meneruskan foto dan video korban. Menurut dia, masyarakat perlu mempertimbangkan apakah konten tersebut benar-benar dibutuhkan untuk kepentingan penanganan bencana atau justru berpotensi menambah luka bagi korban dan keluarganya.
Candra menilai informasi mengenai bencana tetap penting disebarkan, terutama yang berkaitan dengan lokasi pengungsian, kebutuhan bantuan, kondisi jalan, proses evakuasi, serta informasi resmi pemerintah.
Namun, menurut dia, penyebaran gambar korban dalam kondisi yang tidak layak untuk konsumsi publik merupakan persoalan berbeda.
“Tidak semua yang kita lihat harus kita bagikan. Tidak semua yang viral harus kita teruskan,” ujarnya.
Ia mengatakan, di balik setiap foto korban terdapat manusia yang sedang menghadapi musibah. Ada keluarga yang menunggu kabar, orang tua yang kehilangan anak, maupun anak yang menanti kepastian mengenai keluarganya.
Karena itu, masyarakat diminta tidak menjadikan penderitaan korban sebagai materi untuk mengejar perhatian, komentar, atau jumlah tayangan di media sosial.
Candra juga mengingatkan adanya batas antara dokumentasi bencana dan eksploitasi penderitaan korban. Dokumentasi dapat membantu proses penanganan dan penyampaian informasi, tetapi publikasi tetap harus mempertimbangkan privasi serta kondisi keluarga korban.
“Korban bencana bukan objek tontonan. Mereka adalah manusia yang sedang menghadapi masa yang berat,” katanya.
Bencana galodo di Kabupaten Solok hingga Selasa, (22/9), masih dalam penanganan pemerintah dan tim gabungan. Pendataan korban, evakuasi, serta penanganan masyarakat terdampak terus dilakukan.
Dalam kondisi tersebut, Candra mengajak masyarakat menggunakan media sosial untuk memperkuat penanganan bencana, bukan memperluas penderitaan korban.
Ia meminta warga memilih informasi yang bermanfaat untuk dibagikan dan menghindari unggahan yang dapat mempermalukan atau melukai keluarga korban.
“Yang dibutuhkan korban adalah pertolongan. Yang dibutuhkan keluarga adalah ketenangan. Yang dibutuhkan masyarakat adalah informasi yang benar,” ujarnya.
Candra berharap masyarakat dapat menunjukkan empati melalui tindakan sederhana, termasuk tidak mengunggah ulang foto atau video korban yang tidak pantas.
“Jangan sebarkan. Jaga privasi. Jaga martabat,” katanya.
Menurut dia, dalam situasi bencana, menjaga kehormatan korban merupakan bagian dari kemanusiaan yang tidak kalah penting dari upaya penyelamatan dan bantuan.
“Musibah bukan tontonan. Duka korban dan keluarga bukan konten,” tutupnya.(yrp)
![Rapat koordinasi di Posko Utama Tanggap Bencana Arosuka, Selasa, (22/9)[foto:ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260922-WA0020-120x86.jpg)
![Evakuasi Jenazah Daffi Arrahman setelah ditemukan.[foto:ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260922_1730382-120x86.jpg)
![Rapat koordinasi di Posko Utama Tanggap Bencana Arosuka, Selasa, (22/9)[foto:ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260922-WA0020-350x250.jpg)
![Evakuasi Jenazah Daffi Arrahman setelah ditemukan.[foto:ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260922_1730382-350x250.jpg)
![Proses pencarian korban galodo Kecamatan Gunung Talang, Kabuptaen Solok oleh tim SAR. [foto:ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260922-WA0156-350x250.jpg)
![Daffi Arrahman (21) korban terseret arus galodo di Kayu Aro, Kabupaten Solok pada Senin malam, (22/9).[foto:ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20260922_142012-350x250.jpg)


