![Ketua fraksi PKB Ummat, Yusri Latif.[foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/09/IMG-20250728-WA00342.jpg)
Menurut Latif, persoalan yang terus berulang sejak 2019 itu tidak boleh dianggap sebagai hal biasa. Sebagai salah satu ikon wisata Kota Padang, Batu Malin Kundang seharusnya menjadi wajah pariwisata yang terawat, bukan justru memperlihatkan lemahnya pengelolaan infrastruktur.
“Kondisi ini sangat memprihatinkan. Setiap hujan deras kawasan Batu Malin Kundang tergenang hingga berhari-hari. Ini tentu mengganggu kenyamanan wisatawan dan mencoreng citra pariwisata Kota Padang,” kata Latif kepada Scientia.
Latif meminta Dinas Pariwisata Kota Padang tidak hanya fokus pada promosi destinasi wisata, tetapi juga memastikan seluruh fasilitas penunjang berfungsi dengan baik. Menurutnya, pengelolaan destinasi harus dibarengi dengan pemeliharaan yang rutin agar persoalan seperti genangan tidak terus berulang.
Selain itu, ia juga meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Padang mengevaluasi pembangunan pembatas kawasan serta sistem drainase yang ada. Ia menilai, jika saluran pembuangan tidak mampu mengalirkan air secara optimal, maka perlu dilakukan perbaikan bahkan redesain agar mampu menampung debit air saat hujan.
“PUPR harus mengevaluasi pembangunan pembatas dan sistem drainasenya. Jangan sampai pembangunan fisik justru menghambat aliran air sehingga kawasan wisata berubah menjadi kolam setiap kali hujan,” ujarnya.
Politisi PKB itu menegaskan, anggaran yang telah digunakan untuk penataan kawasan wisata harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan wisatawan. Karena itu, ia meminta dinas terkait segera turun ke lapangan untuk mencari akar persoalan dan menyiapkan solusi permanen.
“Kita tidak ingin persoalan ini terus berulang. Pemerintah harus hadir dengan langkah konkret karena Batu Malin Kundang merupakan aset wisata yang menjadi kebanggaan Kota Padang,” katanya.
Sebelumnya, pantauan Scientia.id di lokasi menunjukkan sebagian Batu Malin Kundang terendam genangan air. Warga setempat mengaku kondisi tersebut selalu terjadi setiap hujan lebat dan membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga hari untuk surut apabila cuaca kembali cerah. Mereka juga menilai sistem pembuangan air di kawasan tersebut tidak berfungsi optimal sehingga genangan terus berulang.(yrp)

![Ketua DPC PKB Kota Padang, Yusri Latif.[foto : sci/yrp]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_5991-rotated-e1762746522212-120x86.jpg)

![Ketua DPC PKB Kota Padang, Yusri Latif.[foto : sci/yrp]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_5991-rotated-e1762746522212-350x250.jpg)

![Anggota DPRD Kota Padang, Fraksi PKB, Yosrizal Efdendi.[foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/10/image_big_673dbcd0679c4-350x250.jpg)


