Jakarta, Scientia – Persaingan masuk dunia kerja formal melalui jalur aparatur sipil negara (ASN) dan badan usaha milik negara (BUMN) kian ketat. Data Badan Kepegawaian Negara (BKN) mencatat, rekrutmen calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2024 diikuti sekitar 3,9 juta pelamar yang berebut 250 ribu formasi. Artinya, satu posisi diperebutkan oleh sekitar 15 orang.
Situasi serupa terjadi pada rekrutmen BUMN. Informasi terbaru menyebutkan jumlah pendaftar pada 2025 mencapai 1,4 juta orang, dengan rasio persaingan yang jauh lebih ketat. Kondisi ini membuat banyak mahasiswa tingkat akhir dan lulusan baru menghadapi ketidakpastian dalam menentukan arah karier.
Di tengah tekanan tersebut, muncul inisiatif anak muda yang menawarkan alternatif jalur karier di luar arus utama. Komunitas Green Jobs Career Indonesia (GJCI) hadir untuk mengenalkan peluang kerja di sektor teknologi dan ekonomi hijau yang dinilai akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan.
GJCI digagas oleh dua lulusan perguruan tinggi asal Padang yang kini berkarier di Jabodetabek, yakni Azizah Zurinada, lulusan Teknik Lingkungan Universitas Andalas yang bekerja sebagai Sustainability Analyst, serta Denzi Mohammed, alumni Politeknik Negeri Padang yang berprofesi sebagai Junior Technician di perusahaan energi.
Komunitas ini aktif dalam satu tahun terakhir dengan fokus pada edukasi publik, terutama mahasiswa, terkait peluang karier di sektor hijau. Mereka menilai, orientasi karier yang terlalu terpusat pada sektor pemerintahan dan korporasi konvensional membuat banyak lulusan melewatkan peluang lain yang sebenarnya tengah tumbuh.
Sejumlah sektor mulai menunjukkan potensi besar, seperti energi terbarukan, pengelolaan limbah, pertanian berkelanjutan, transportasi ramah lingkungan, hingga jasa konsultasi berbasis keberlanjutan. Di saat yang sama, arus investasi global juga mengarah pada sektor-sektor tersebut.
Pemerintah Indonesia pun mulai menyiapkan kerangka pengembangan sumber daya manusia untuk mendukung transisi ini. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) telah merilis Peta Jalan Pengembangan Tenaga Kerja Hijau Indonesia 2025, yang menjadi dasar strategi penguatan tenaga kerja di sektor ekonomi hijau.
Merespons perkembangan itu, GJCI menggelar berbagai kegiatan edukasi dan kolaborasi lintas sektor, terutama di wilayah Jabodetabek. Azizah, yang juga aktif sebagai Youth Advocate for Green Workforce, menyebut edukasi menjadi langkah awal untuk memperluas akses informasi bagi generasi muda.
“Banyak mahasiswa belum melihat sektor hijau sebagai pilihan karier yang konkret, padahal peluangnya sudah mulai terbuka,” ujar Founder GJCI, Azizah.
Langkah GJCI juga mendapat perhatian dari mitra internasional. Baru-baru ini, komunitas tersebut terlibat dalam peluncuran Green Engineering Hub, sebuah direktori kerja sama berbasis digital antara Uni Eropa dan Pemerintah Indonesia untuk pengembangan talenta di bidang teknologi berkelanjutan.
Peluncuran itu menghadirkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Ahmad Najib Burhani, serta Regional Director CIRAD Jean-Marc Roda. Inisiatif ini diharapkan mempercepat terbentuknya ekosistem teknologi hijau yang inklusif.
GJCI diharapkan berperan dalam memperluas jangkauan informasi dan membuka akses yang lebih merata terhadap peluang kerja di sektor hijau. Di tengah ketatnya persaingan kerja konvensional, sektor ini mulai dilihat sebagai alternatif yang tidak hanya menjanjikan, tetapi juga relevan dengan arah pembangunan global.(yrp)
