
Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)
Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali Ramadan datang. Ia seolah mengingatkan saya kembali tentang arti sabar. Bukan melalui nasihat yang panjang, melainkan melalui pengalaman yang saya jalani hari demi hari selama berpuasa. Dari pagi hingga menjelang senja, saya belajar menahan lapar dan haus, menahan emosi, juga menahan berbagai keinginan yang biasanya terasa begitu mudah dipenuhi.
Dalam perjalanan waktu itulah saya sering menyadari bahwa sabar bukan sekadar kata yang sering kita dengar, melainkan sebuah latihan batin yang pelan-pelan membentuk cara kita memandang diri sendiri dan kehidupan. Dari pengalaman menjalani hari-hari puasa itu pula saya semakin memahami bahwa sabar sering terdengar sebagai kata yang besar, bahkan terasa berat diucapkan. Namun dalam kenyataannya, sabar justru tumbuh dari hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ketika saya menapaki waktu dari pagi hingga menjelang senja dengan menahan lapar dan haus, di situlah kesabaran perlahan dilatih. Menjelang magrib, ketika waktu terasa berjalan sedikit lebih panjang dari biasanya, saya belajar bahwa menunggu adalah bagian dari latihan itu. Pada saat-saat seperti itulah saya menyadari bahwa puasa bukan sekadar menahan diri secara fisik, melainkan juga menata hati agar tetap tenang hingga tiba waktunya berbuka.
Puasa, bagi saya, juga menghadirkan ruang untuk merenung tentang banyak hal dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hari-hari yang dilalui dari sahur hingga menjelang berbuka, ada semacam jeda yang membuat saya lebih peka terhadap diri sendiri, bagaimana menahan keinginan, menjaga emosi, dan menjalani waktu dengan lebih tenang. Dari situ saya sering merasa bahwa puasa bukan hanya urusan menahan lapar dan haus, tetapi juga kesempatan untuk merapikan kembali cara kita menjalani hari-hari.
Tentu saja perjalanan itu memiliki tujuan yang jelas. Ramadan tidak berlangsung tanpa akhir. Setelah hari-hari yang dilalui dengan kesabaran dan pengendalian diri, akan tiba satu hari yang selalu dinanti dengan penuh kegembiraan, Idulfitri. Hari itu terasa seperti sebuah jeda yang hangat, sebuah momen untuk merasakan lega sekaligus syukur setelah menempuh perjalanan puasa selama sebulan penuh.
Idulfitri sering disebut sebagai hari kemenangan. Tapi kemenangan di sini bukan seperti menang lomba lari yang ada medali dan podium. Kemenangan ini lebih bermakna. Ia hadir ketika kita berhasil melewati hari-hari puasa, ketika kita belajar menahan diri, ketika kita menyadari bahwa ternyata kita mampu sedikit lebih sabar daripada biasanya.
Sering kali kemenangan hadir dengan cara yang tenang, tapi penuh kegembiraan. Ia terasa dalam perjalanan Ramadan yang kita lalui dengan sabar menjalankan puasa dan menunaikan berbagai ibadah dengan penuh harap. Kini Ramadan perlahan mendekati ujungnya, sementara Idulfitri menanti dengan suasana yang selalu membawa syukur dan kehangatan. Barangkali di situlah makna kemenangan itu berdiam, pada perjalanan ibadah yang telah dilalui, pada kesabaran yang tumbuh perlahan di dalam diri, dan pada harapan agar segala amal yang kita kerjakan selama Ramadan diterima dengan penuh rahmat.





