
Padang, Scientia.id – Upaya pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana di Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, terus digerakkan melalui program pemberdayaan berbasis potensi lokal. Melalui Program Mahasiswa Berdampak, tim mahasiswa Universitas Andalas yang tergabung dalam LAPIAK NAGARI—diusulkan oleh HIMASEKTA FP-UNAND—menghadirkan dua program strategis, yakni budidaya hidroponik dan inovasi olahan jengkol.
Program tersebut dirancang tidak hanya sebagai pelatihan sesaat, melainkan sebagai model pemberdayaan berkelanjutan dengan pendampingan teknis, penguatan kapasitas masyarakat, serta dukungan pemasaran. Dua rangkaian kegiatan dilaksanakan secara bertahap pada 10 dan 11 Februari 2026 dengan melibatkan masyarakat dari RT 01 hingga RT 04.
Kegiatan diawali dengan sosialisasi dan pelatihan budidaya hidroponik yang dihadiri perwakilan lurah, para Ketua RT 01–04, serta sekitar 20 warga yang akan menjadi pengelola awal instalasi. Turut hadir dosen Departemen Sosial Ekonomi Pertanian (SOSEK) Universitas Andalas dan narasumber teknis dari Hidrofarm. Pada kesempatan tersebut, instalasi hidroponik diserahkan secara simbolis kepada masyarakat.
Warga memperoleh pembekalan menyeluruh mulai dari proses pembibitan, penggunaan media tanam, pengelolaan nutrisi dan pemantauan kadar PPM, hingga teknik panen serta strategi pemasaran hasil produksi. Program ini mendapat sambutan positif karena pascabencana sebagian lahan warga tidak lagi produktif, sehingga sistem hidroponik dinilai menjadi solusi pertanian yang adaptif terhadap keterbatasan lahan.
Salah seorang Ketua RT menyampaikan bahwa kehadiran hidroponik memberi harapan baru bagi masyarakat. “Kami merasa program ini tepat dengan kondisi kami sekarang. Setelah lahan rusak, sulit bagi warga untuk kembali bertani seperti biasa. Hidroponik ini menjadi jalan baru untuk bangkit,” ujarnya.
Tim mahasiswa menegaskan bahwa program tidak berhenti pada tahap serah terima. Monitoring dan pendampingan berkala akan dilakukan di setiap RT guna memastikan instalasi berjalan optimal serta membantu warga apabila menghadapi kendala teknis maupun pemasaran.
Sehari setelah kegiatan hidroponik, program dilanjutkan dengan penguatan agroindustri jengkol yang dilaksanakan di area PLTA Batu Busuk. Kegiatan ini dihadiri Ketua RW, perwakilan RT, sekitar 15 warga, serta dosen SOSEK Universitas Andalas sebagai narasumber teknis.
Sosialisasi tidak hanya membahas keripik jengkol tradisional, tetapi juga inovasi kerupuk jengkol berbasis olahan giling yang dipadukan dengan bahan tambahan sehingga menghasilkan variasi rasa dan bentuk yang lebih modern serta memiliki daya saing pasar lebih luas. Materi yang disampaikan mencakup pemilihan bahan baku berkualitas, teknik perendaman untuk mengurangi aroma menyengat, proses pengolahan, pengembangan varian rasa, hingga strategi pengemasan dan pemasaran, serta dilanjutkan dengan praktik langsung.
Salah seorang peserta berharap produk tersebut dapat berkembang menjadi ikon kuliner khas Batu Busuk. “Kalau ini dikembangkan secara serius, kerupuk jengkol bisa menjadi oleh-oleh khas dari sini. Kami ingin punya produk yang membanggakan,” tuturnya.
Baca Juga: LAPIAK Nagari 2026, Mahasiswa UNAND Perkuat UMKM Jengkol Batu Busuk
Melalui Program Mahasiswa Berdampak ini, tim LAPIAK NAGARI menegaskan komitmen pendampingan dari hulu hingga hilir, mulai dari produksi, pengolahan, hingga pemasaran. Dengan mengintegrasikan hidroponik sebagai solusi pertanian adaptif dan inovasi olahan jengkol sebagai penguatan agroindustri lokal, mahasiswa Universitas Andalas berupaya mendorong kebangkitan ekonomi masyarakat Batu Busuk secara bertahap dan berkelanjutan. (*)








