Minggu, 01/2/26 | 17:12 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Bahasa yang Membentuk Cara Kita Membenci

Minggu, 01/2/26 | 15:17 WIB

Oleh: M. Subarkah
(Mahasiswa Magister Linguistik Universitas Andalas)

 

Kebencian jarang lahir dari kekosongan. Ia tumbuh pelan-pelan, disirami kata-kata, dipupuk kalimat, lalu menjelma sikap. Sebelum seseorang mengangkat tangan, sebelum jari menekan tombol “kirim” berisi hujatan, biasanya bahasa sudah lebih dulu bekerja. Kata-kata menyusun cara berpikir, membingkai realitas, dan tanpa disadari mengarahkan emosi kolektif ke satu titik, benci.

BACAJUGA

Puisi-puisi M. Subarkah

Budaya Overthinking dan Krisis Makna di Kalangan Gen Z

Minggu, 16/11/25 | 13:35 WIB
Puisi-puisi M. Subarkah

Ketika Bahasa Daerah Mulai Sunyi, Siapa yang Menjaga?

Minggu, 26/10/25 | 10:29 WIB

Di ruang publik hari ini, bahasa tak lagi sekadar alat komunikasi. Ia berubah menjadi senjata. Pilihan diksi dalam berita, unggahan media sosial, pidato politik, bahkan obrolan sehari-hari ikut menentukan siapa yang dianggap “kita” dan siapa yang dilabeli “mereka”. Dari sinilah kebencian sering kali berawal. Sebuah kelompok tidak langsung diserang secara fisik, melainkan lebih dulu direduksi lewat bahasa: disebut pemalas, radikal, tidak bermoral, tidak nasionalis, atau ancaman bagi tatanan.

Bahasa bekerja secara halus namun sistematis. Ketika satu kata diulang terus-menerus, maknanya mengeras. Ketika metafora tertentu dipakai berulang, cara pandang pun ikut terbentuk. Menyebut manusia sebagai “virus”, “beban”, atau “sampah sosial” bukan sekadar pilihan retoris, melainkan proses dehumanisasi. Pada titik itu, empati mulai terkikis. Membenci terasa wajar, bahkan sah.

Media sosial mempercepat proses ini. Algoritma menyukai emosi ekstrem, dan kebencian termasuk yang paling mudah dipantik. Bahasa provokatif lebih cepat menyebar dibanding bahasa reflektif. Kalimat pendek, kasar, dan penuh stigma justru mendapat panggung luas. Dalam pusaran ini, bahasa kehilangan fungsi etisnya dan berubah menjadi alat mobilisasi amarah. Orang tak lagi berdialog, melainkan saling melempar label.

Dunia politik pun tak luput dari persoalan serupa. Retorika “kami versus mereka” dipelihara lewat bahasa yang tampak sederhana, tetapi sarat makna ideologis. Istilah tertentu sengaja dipopulerkan untuk membentuk musuh bersama. Ketika bahasa dipakai untuk menyederhanakan realitas yang kompleks, publik digiring pada kesimpulan instan: siapa yang salah dan siapa yang pantas disalahkan. Kebencian pun menemukan legitimasi sosial.

Dari sudut pandang linguistik, kondisi ini menunjukkan bahwa bahasa bukan cermin pasif realitas, melainkan pembentuk realitas sosial. Cara kita menamai sesuatu memengaruhi cara kita memperlakukannya. Jika perbedaan terus-menerus dibingkai sebagai ancaman, kebencian akan terasa logis. Jika kritik selalu disamakan dengan pengkhianatan, dialog akan mati sebelum sempat tumbuh.

Masalahnya, banyak orang merasa netral saat menggunakan bahasa semacam itu. “Saya hanya mengutip”, “itu hanya bercanda”, atau “semua orang juga bilang begitu” sering dijadikan alasan pembenar. Padahal, bahasa tidak pernah benar-benar netral. Ia selalu membawa nilai, sikap, dan posisi tertentu. Diam terhadap bahasa yang melukai sama artinya membiarkan kebencian bekerja tanpa hambatan.

Kebencian yang dibentuk bahasa juga tidak selalu hadir secara kasar dan terang-terangan. Ia kerap menyelinap lewat bahasa yang tampak rapi, santun, bahkan intelektual. Jargon akademik, istilah teknokratis, atau bahasa kebijakan sering dipakai untuk menciptakan jarak emosional. Ketika penderitaan manusia direduksi menjadi angka statistik, atau kelompok tertentu dibicarakan semata sebagai “masalah sosial”, proses penyingkiran berlangsung secara senyap.

Di titik ini, pendidikan bahasa memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar mengajarkan tata kalimat dan ejaan. Literasi bahasa seharusnya menumbuhkan kepekaan etis: menyadari dampak kata sebelum ia diucapkan, memahami beban sejarah yang dibawa istilah tertentu, serta mampu membaca kepentingan di balik wacana yang beredar. Tanpa kesadaran itu, masyarakat berisiko melahirkan penutur yang fasih berbicara, tetapi abai pada luka yang ditinggalkan kata-katanya. Bahasa daerah dan bahasa ibu sebenarnya menyimpan pelajaran penting. Banyak tradisi lisan Nusantara menempatkan kata sebagai sesuatu yang dijaga kehormatannya. Petuah, pantun, dan peribahasa mengingatkan bahwa lidah bisa lebih tajam dari senjata. Ironisnya, di era digital yang serba cepat, kearifan semacam ini justru terpinggirkan oleh budaya reaktif dan instan. Kata dilepas tanpa jeda, tanpa sempat ditimbang maknanya.

Namun, bahasa juga menyimpan kemungkinan lain. Kata-kata yang sama kuatnya untuk membenci sejatinya mampu dipakai untuk memahami. Dengan kesadaran linguistik, publik dapat mulai bertanya, mengapa istilah ini digunakan, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang disisihkan. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini penting agar masyarakat tidak sekadar menjadi konsumen bahasa, melainkan subjek yang kritis. Mengubah cara kita berbicara bukan berarti meniadakan kritik atau perbedaan pendapat. Justru sebaliknya, bahasa yang bertanggung jawab membuka ruang debat yang sehat tanpa harus merendahkan martabat manusia. Kritik bisa tajam tanpa harus kejam. Ketidaksepakatan bisa keras tanpa harus memupuk kebencian.

Pada akhirnya, membenci sering kali terasa spontan, padahal sesungguhnya dipelajari. Bahasa menjadi ruang pertama tempat pembelajaran itu berlangsung. Jika ingin merawat ruang publik yang lebih manusiawi, pekerjaan awalnya sederhana sekaligus berat: merawat kata. Sebab dari kata-kata itulah cara kita memandang, menilai, dan memperlakukan sesama perlahan dibentuk entah menuju pemahaman, atau menuju kebencian.

Tags: #M. Subarkah
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Berita Terkait

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Minggu, 01/2/26 | 15:10 WIB

Oleh: Rosidatul Arifah (Mahasiswi Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif LPK FIB Universitas Andalas)   Pembahasan mengenai perempuan sering...

Pemilu Indonesia: Antara Demokrasi Substantif dan Demokrasi Prosedural

Pemilu Indonesia: Antara Demokrasi Substantif dan Demokrasi Prosedural

Selasa, 27/1/26 | 18:38 WIB

Oleh: Firnanda Amdimas (Mahasiswa Jurusan Hukum, Universitas Muhammad Natsir Bukittinggi)   Pemilihan umum (pemilu) merupakan pilar utama demokrasi di Indonesia....

Batu dan Zaman

Baju Berani Loppy: Mengelola Kecemasan Melalui Sastra Anak

Senin, 26/1/26 | 06:34 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa  (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)  Selama ini, sastra anak kerap diposisikan sebagai...

Aksen Tailan Sebagai Ruang Bermain Identitas

Aksen Tailan Sebagai Ruang Bermain Identitas

Minggu, 25/1/26 | 15:00 WIB

Oleh: Nurvita Wijayanti (Pemerhati bahasa dari Kepulauan Bangka Belitung) Apakah Anda pernah menemukan postingan di Instagram tentang bahasa lokal yang...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Meneroka Sejarah Bahasa Indonesia Hingga Kini

Senin, 19/1/26 | 19:43 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   Tanggal 4 November 2025 menjadi tanggal bersejarah untuk bangsa Indonesia...

Jejak Peranakan Tionghoa dalam Sastra Indonesia

Dinamika Masyarakat dalam Tradisi Basapa

Minggu, 04/1/26 | 22:15 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Setiap bulan Safar dalam kalender Hijriah, Ulakan di Pariaman,...

POPULER

  • Penertiban PETI Terus Berjalan, Puluhan Terduga Pelaku Diamankan

    Penertiban PETI Terus Berjalan, Puluhan Terduga Pelaku Diamankan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemerintah Pusat Alokasikan Rp2.6 Triliun untuk Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kelompok SAD Diduga Resahkan Warga, Tokoh Adat dan Aktivis Minta Oknum Diserahkan ke Hukum

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gubernur Sumbar Turun ke Lapangan, Pastikan Pembenahan Sungai dan Air Bersih di Padang Berjalan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemprov Sumbar Sanksi Denda PT TKA Rp737 Juta, ini Sebabnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bahasa yang Membentuk Cara Kita Membenci

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mahasiswa Unand Mulai Langkah Program Mahasiswa Berdampak, Jajaki Kerja Sama Pengabdian di Lambung Bukit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024