
Oleh: Aldrizi Salsabila 1; Ike Revita 2; Fajri Usman 3; Sawirman 4
(Mahasiswa dan Dosen Program Studi Magister Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)
Feminisme dalam budaya visual saat ini telah menjadi topik penting dalam perbincangan tentang representasi gender dalam media massa. Fotografi digital di platform media sosial, terutama Instagram, berfungsi sebagai saluran utama untuk menampilkan citra perempuan dan isu-isu kesetaraan gender. Sebagai platform berbagi foto, Instagram memberikan ruang bagi individu atau galeri seni untuk menyebarkan karya yang mengangkat perspektif feminis. Salah satu akun yang menonjol dalam hal ini adalah @darwistriadiartgallery, yang memamerkan berbagai karya fotografi dengan tema feminisme. Artikel ini menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes untuk menganalisis citra feminisme yang dibentuk dalam foto-foto digital yang dipublikasikan di akun tersebut.
Roland Barthes, seorang ahli teori budaya, mengembangkan konsep semiotika yang menekankan peran tanda dalam komunikasi visual. Dalam pandangan Barthes, sebuah gambar dapat dianalisis melalui tiga tingkatan makna, yaitu: denotasi, konotasi, dan mitos. Denotasi merujuk pada makna yang tampak langsung dalam gambar, sementara konotasi melibatkan interpretasi lebih dalam berdasarkan konteks, dan mitos mengacu pada makna ideologis atau sosial yang dibentuk oleh budaya tertentu (Barthes, 1957). Pendekatan ini merujuk untuk menganalisis lebih lanjut bagaimana foto-foto di akun Instagram @darwistriadiartgallery menyampaikan pesan feminisme, baik yang tampak jelas maupun yang tersirat.
Pada tingkat denotatif, foto-foto yang diunggah di akun @darwistriadiartgallery menampilkan perempuan dalam berbagai pose dan situasi. Beberapa gambar memperlihatkan perempuan dengan latar belakang alam, beberapa di antaranya mengenakan pakaian tradisional maupun modern. Foto-foto tersebut menggambarkan perempuan dalam posisi yang kuat dan mandiri, terlibat aktif dalam aktivitas sehari-hari, atau bahkan tampil dalam potret intim yang menunjukkan variasi tubuh dan ekspresi wajah. Secara harfiah, gambar-gambar ini menampilkan perempuan sebagai subjek utama, yang mencerminkan berbagai peran dan identitas yang bisa dimiliki oleh perempuan.
Pada tingkat konotasi, foto-foto tidak hanya menggambarkan perempuan, tetapi juga menyimpan makna simbolis yang lebih dalam. Sebagai contoh, foto yang menampilkan perempuan dengan pakaian tradisional sering kali dipadukan dengan latar belakang alam atau struktur sosial yang menggambarkan hubungan perempuan dengan tanah atau budaya lokal. Dalam konteks, perempuan digambarkan sebagai penjaga tradisi dan budaya, yang tidak hanya menjalankan peran domestik, tetapi juga menjadi agen perubahan dalam mempertahankan warisan budaya.
Foto lainnya menampilkan perempuan dalam busana modern atau dengan aksesori mencolok, menyampaikan pesan bahwa perempuan adalah individu yang berdaya dan bebas memilih identitasnya sendiri. Selain itu, penggambaran perempuan dalam berbagai pose yang penuh percaya diri dan ekspresif menekankan narasi bahwa perempuan dapat mengekspresikan diri tanpa ada batasan atau stereotip. Ini menjadi simbol pembebasan dari peran tradisional yang sering membatasi perempuan, baik dalam keluarga maupun masyarakat (Butler, 1999). Dalam foto-foto ini, perempuan tidak hanya dilihat sebagai objek pemenuhan estetika, tetapi juga sebagai subjek yang memiliki hak untuk menentukan pilihan hidupnya.
Pada tingkat mitos, foto-foto di akun @darwistriadiartgallery menciptakan narasi ideologis yang kuat mengenai perempuan dan feminisme. Mitos ini berkaitan dengan pembentukan identitas perempuan yang mandiri dan setara dengan laki-laki. Dalam budaya visual Indonesia yang seringkali masih dipengaruhi oleh norma patriarkal, foto-foto ini menjadi bentuk perlawanan terhadap konstruksi sosial yang membatasi peran perempuan. Sebagai contoh, perempuan yang tampil kuat, mandiri, dan berani berada di ruang publik menjadi simbol pemberdayaan perempuan yang menentang dominasi maskulinitas.
Foto-foto yang menampilkan perempuan dengan ekspresi wajah yang tegas atau penuh keyakinan juga memperkuat mitos tentang perempuan yang memiliki suara dan kekuatan untuk menentukan jalan hidupnya. Hal ini berkontribusi pada perubahan persepsi masyarakat terhadap perempuan, yang sebelumnya dianggap hanya sebagai pendamping atau penopang dalam struktur sosial yang didominasi laki-laki, kini dipandang sebagai individu yang memiliki kendali atas hidupnya dan mampu menjalani hidup dengan penuh kekuatan (Mulvey, 1975).
Melalui pendekatan semiotika Roland Barthes, foto-foto yang diposting di akun Instagram@darwistriadiartgallery tidak sekadar menyajikan representasi visual perempuan, tetapi juga menciptakan wacana feminisme yang kuat. Pada level denotasi, foto-foto ini menampilkan keragaman peran dan ekspresi perempuan. Di level konotasi, gambar-gambar tersebut mengandung simbol-simbol yang lebih dalam, seperti kebebasan dan pemberdayaan perempuan. Pada tingkat mitos, foto-foto ini mengembangkan narasi mengenai perlawanan terhadap stereotip gender serta menegaskan peran perempuan dalam membentuk masa depan yang lebih adil. Dengan demikian, akun @darwistriadiartgallery tidak hanya berfungsi sebagai platform untuk menampilkan karya seni fotografi, tetapi juga sebagai saluran untuk menyampaikan pesan-pesan feminis yang relevan dalam konteks sosial saat ini.








