
Oleh: Fatin Fashahah
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)
Semua pekerjaan yang tiada habisnya itu akan menghampakan dia sehingga tidak akan pernah ada ruang untuk berpikir. Mungkinkah dunia begitu takut pada pikiran perempuan? Betulkah pikiran perempuan akan menjelma bom waktu yang akan meledakkan dunia? – Cerpen Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara.
Perempuan kerap ditempatkan dalam posisi yang tidak setara dengan laki-laki, terutama dalam masyarakat yang masih kuat dipengaruhi sistem patriarki. Ketimpangan tersebut tidak hanya tampak dalam ranah publik, tetapi juga mengakar dalam kehidupan domestik dan relasi keluarga. Berbagai karya sastra merekam realitas ini dengan menjadikan perempuan sebagai subjek yang mengalami penindasan, pembatasan, dan pembungkaman. Dalam konteks inilah feminisme hadir sebagai respons kritis terhadap struktur sosial yang timpang. Feminisme berangkat dari kesadaran bahwa perempuan sering mengalami eksploitasi dan penindasan, sekaligus sebagai upaya untuk mengakhiri kondisi tersebut (Fakih, 1999: 79).
Cerpen “Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara” karya Ni Komang Ariani menggambarkan bagaimana perempuan dapat terbelenggu oleh peran domestik, tekanan keluarga, serta nilai-nilai patriarki yang telah dinormalisasi. Untuk menganalisis cerpen ini secara mendalam, dibutuhkan pandangan tokoh penting dalam feminisme sastra, salah satunya adalah pandangan Virginia Woolf. Dalam karyanya yang berjudul “Room of One’s Own”, Woolf menekankan bahwa untuk mendapatkan kekebasan sejati, perempuan membutuhkan pendidikan, uang, dan ruang pribadi. Yang di maksud Woolf dengan “uang dan ruang” adalah kemandirian material dan kebebasan intelektual, dua hal yang tidak pernah benar-benar dimiliki oleh tokoh utama, Dinaya.
Dinaya adalah perempuan berpendidikan dengan gelar sarjana hukum dan berprofesi sebagai dosen. Pendidikan yang seharusnya membebaskan justru menjadi ancaman bagi orang tua dan suaminya. Orang tua Dinaya hanya memandang gelar akademik sebagai simbol gengsi sosial, bukan sebagai sarana pembentukan kesadaran intelektual. Mereka menolak perubahan cara berpikir Dinaya yang lahir dari pendidikan tersebut. Sikap serupa juga ditunjukkan oleh suaminya, Ghana, yang merasa terancam oleh kecerdasan dan kemandirian Dinaya.
Dalam perspektif feminisme eksistensial Simone de Beauvoir, kondisi ini menunjukkan bagaimana perempuan kerap dihalangi untuk menjadi subjek yang otonom. Beauvoir menyatakan bahwa perempuan harus mampu menentukan hidupnya sendiri tanpa dikendalikan oleh orang lain. Menjadi “diri” berarti berani mengekspresikan pikiran, memilih jalan hidup, dan mewujudkan eksistensinya sebagai manusia yang setara dengan laki-laki. Dinaya, dalam hal ini, gagal memperoleh kebebasan eksistensial karena hidupnya dikontrol oleh keluarga dan suami.
Cerpen ini memperlihatkan paradoks sosial. Saat perempuan diperbolehkan mengenyam pendidikan tinggi, tetapi kebebasan yang lahir dari pendidikan tersebut justru dibatasi. Menurut Woolf, kebebasan berpikir sangat bergantung pada kondisi material. Ketika Dinaya dipaksa berhenti bekerja sebagai dosen, ia kehilangan sumber penghasilan, ruang intelektual, serta martabat sosialnya. Kehilangan kemandirian ekonomi membuatnya semakin rentan terhadap kontrol dan dominasi keluarga.
Dalam masyarakat patriarki, perempuan yang tidak mandiri secara finansial sering kali kehilangan hak untuk bersuara. Dinaya tidak hanya kehilangan pekerjaan, tetapi juga kehilangan ruang batin untuk berkembang. Hidupnya dipenuhi pekerjaan domestik yang tak pernah selesai, hingga pikirannya dikuras habis oleh rutinitas rumah tangga. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung berubah menjadi penjara yang mengekang kebebasan intelektualnya.
Patriarki dalam cerpen ini tidak ditampilkan melalui kekerasan fisik, melainkan melalui tekanan sosial, pengaturan peran gender, dan pembungkaman yang bersifat simbolik. Ghana tidak perlu melakukan kekerasan secara langsung karena status sosialnya sebagai laki-laki dan aparatur negara sudah cukup untuk menegaskan superioritasnya. Lebih ironis lagi, ibu Dinaya justru turut melanggengkan budaya patriarki dengan merendahkan dan menekan anaknya sendiri. Fenomena ini menunjukkan patriarki yang terinternalisasi, ketika perempuan ikut menindas perempuan lain karena dibesarkan dalam sistem nilai yang sama.
Cerpen “Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara” merepresentasikan realitas perempuan yang terbelenggu oleh sistem patriarki melalui pembatasan ruang, kemandirian ekonomi, dan kebebasan berpikir. Melalui perspektif Virginia Woolf dan Simone de Beauvoir, dapat disimpulkan bahwa penindasan terhadap perempuan tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik, tetapi juga melalui pengaturan peran domestik dan pembungkaman intelektual. Pendidikan seharusnya menjadi sarana pembebasan perempuan, bukan alat kontrol. Oleh karena itu, kemandirian ekonomi dan ruang pribadi merupakan syarat penting bagi perempuan untuk meraih kebebasan intelektual dan eksistensialnya. Cerpen ini sekaligus menjadi kritik terhadap masyarakat yang masih takut pada pemikiran perempuan dan berupaya membungkamnya.








