Sabtu, 18/4/26 | 10:28 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Melangkah Pelan dalam Dunia Pernaskahan: Catatan dari Masterclass Naskah Sumatera

Minggu, 03/8/25 | 21:28 WIB

Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand)

 

Menjadi peserta Masterclass Naskah Sumatera yang diadakan oleh SOAS University of London di Padang adalah pengalaman baru bagi saya terkait dunia pernaskahan. Tak pernah saya bayangkan bahwa pertemuan ini akan membuka jendela baru tentang khazanah intelektual Nusantara, khususnya Sumatera, dengan mendalam.

Hari pertama, Rabu 23 Juli, kami berkumpul di Tyche Meeting Room, Hotel Mercure Padang. Sebelum sesi dimulai, kami diminta untuk menuliskan nama masing-masing dalam aksara Arab-Melayu—hal yang tampak sederhana, tetapi rupanya tak semudah itu bagi saya. Saya sempat ragu dan kebingungan, untung saja seorang panitia dengan sigap membantu saya menuliskannya.

BACAJUGA

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

Momen ini menjadi pembuka yang menarik, semacam pengantar bahwa peserta benar-benar disambut dalam kelas yang bakal lekas dimulai. Setelah registrasi dan sambutan, peserta diarahkan untuk berkenalan dengan cara yang unik. Siapapun yang ditunjuk harus memperkenalkan peserta lain yang ia kenal, lalu menyebutkan setidaknya tiga hal terkait dirinya. Selepas itu, kegiatan masuk ke sesi lingkar baca, sebuah pendekatan membaca naskah secara berkelompok yang membuat saya merasa menjadi bagian dari komunitas pembaca, bukan sekadar peserta pasif.

Membaca dengan pelan, membaca dengan lambat, kira-kira itulah pesan Mulaika Hijjas saat memulai sesinya. Kata-kata ini membawa angin segar dan menenangkan hati saya yang sudah lama tidak membaca Arab Melayu ini.

Hal menarik lainnya, suasana masterclass ternyata tidak seformal yang saya bayangkan sebelumnya. Saya sempat membayangkan pertemuan ini akan berlangsung dengan khidmat dan penuh kesunyian akademik. Tapi ternyata, atmosfernya jauh lebih santai. Seorang teman saya bahkan sempat berbisik sambil tersenyum, “Mereka kok lucu sekali,” merujuk pada para pemateri yang ekspresif dan menghindari kesan formal yang dingin.

Kesan santai ini sangat membantu mencairkan suasana dan mempererat interaksi antar peserta, apalagi peserta berasal dari latar belakang yang sangat beragam—ada yang telah bertahun-tahun berkecimpung dalam dunia naskah, ada pula pemula seperti saya yang baru pertama kali menyentuh naskah secara langsung.

Dalam sesi lingkar baca, kami membaca naskah Arab-Melayu secara berkelompok. Naskah-naskah tersebut ditransliterasikan ke dalam huruf Latin, lalu didiskusikan maksud dan maknanya secara bersama. Sebagai pemula, saya mengalami tantangan dalam membaca naskah tersebut.Ketika teman-teman dalam kelompok saya sudah menyelesaikan dua kalimat, saya masih berkutat menerka-nerka kata ketiga. “Kenapa mereka tidak menerapkan kata Mulaika tadi?” begitulah ucap saya dalam hati. Entahlah, mungkin saja membaca secepat itulah yang dimaksud membaca pelan dan lambat. Membaca aksara Arab-Melayu ternyata bukan perkara mudah—ia butuh ketekunan, kejelian, dan keberanian untuk terus mencoba.

Namun di tengah rasa tertinggal itu, ada juga momen lucu dan membesarkan hati. Pernah beberapa kali saya berhasil membaca satu atau dua kata terlebih dahulu sebelum yang lain. Rasanya seperti menang undian kecil—ada kegembiraan yang menggelitik dan rasa percaya diri yang tiba-tiba tumbuh. Meskipun hanya satu atau dua kata, pencapaian kecil itu menjadi penyemangat tersendiri.

Saya belajar bahwa dalam dunia pernaskahan, setiap langkah, sekecil apa pun, adalah bagian penting dari proses yang lebih besar. Setiap kesulitan justru membawa rasa ingin tahu baru, dan setiap keberhasilan kecil memberi alasan untuk terus belajar. Sesi berikutnya tak kalah menarik. Bacaan hikayat bersama Alan Darmawan menghidupkan kisah-kisah lama yang ternyata masih memiliki gema hingga hari ini.

Kami membaca Hikayat Pelanduk Jenaka, sebuah hikayat yang mengandung cerita lucu dan penuh kelicikan cerdik. Namun, membaca bagian awal hingga pertengahan naskah ini cukup menantang—baik karena kompleksitas bahasanya maupun struktur naratifnya yang belum langsung tampak jenaka. Justru di bagian akhir-lah cerita menjadi terang dan jenakanya benar-benar terasa. Di sanalah klimaks kisah terbangun dan tawa muncul secara alami dari pembaca.

Keesokan harinya, Kamis 24 Juli, kami mengunjungi Museum Adityawarman untuk melihat langsung koleksi naskah yang disimpan di sana. Ini menjadi pengalaman yang sangat nyata: menyaksikan naskah sebagai artefak, bukan sekadar teks. Sesi praktik membaca naskah di museum semakin memperdalam pengalaman saya dalam memahami bentuk fisik dan kondisi naskah asli. Di penghujung acara, sesi pertanyaan penelitian yang dipandu oleh Mulaika Hijjas mendorong kami untuk mulai memikirkan kemungkinan arah studi lebih lanjut di bidang ini.

Masterclass ini bukan hanya memberi saya pengetahuan baru, tetapi juga semangat dan kepercayaan diri. Bahwa meskipun saya melangkah lebih lambat dari yang lain, saya tetap melangkah. Dunia pernaskahan adalah dunia yang sabar—ia memberi ruang bagi siapa saja yang mau belajar dan mencintai teks. Dan bagi saya, inilah awal perjalanan yang tak akan pernah saya lupakan.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

PSP Padang Kalahkan Kompak FC 2-1, Poin Naik Jadi 7

Berita Sesudah

HUT Lubuk Basung ke-32 Dimeriahkan Gowes Adventure “Lubas Bangkit” 2025

Berita Terkait

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Berita Sesudah
HUT Lubuk Basung ke-32 Dimeriahkan Gowes Adventure “Lubas Bangkit” 2025

HUT Lubuk Basung ke-32 Dimeriahkan Gowes Adventure “Lubas Bangkit” 2025

POPULER

  • Afrina Hanum

    Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Bahasa Indonesia Formal dan Informal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Politisi ke Negarawan, Halim Iskandar Tekankan Arah Kaderisasi PKB di Muscab Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Konsep Metafungsi dalam Wacana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KAN Pauh Kamba Diduga Cegah Pencalonan Warga, Status Adat Jadi Penghalang Pilwana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026