Sabtu, 26/9/26 | 22:23 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

AI Membuat Ghibli Tenar, Bagaimana dengan Hak Cipta?

Minggu, 27/7/25 | 14:21 WIB

Oleh: Adela Damanik
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia dan anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif (LPK) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)

 

Belakangan ini, jagat maya diramaikan oleh tren foto ala Ghibli style yang diciptakan oleh kecerdasan buatan (AI) khususnya platform chatbot yang sering kita sebut dengan ChatGPT. Ratusan bahkan ribuan gambar dengan gaya ala Studio Ghibli menghujani linimasa media sosial seperti Instagram, TikTok, X, hingga Facebook. Palet warna yang lembut dan karakter imut berwajah bulat, menarik perhatian kalangan muda. Para pengguna media sosial berlomba-lomba membuat foto bergaya Ghibli dan membagikannya di akun pribadi mereka. Namun, di balik pesona visual yang lucu, muncul pertanyaan: sejauh mana AI boleh ‘membajak’ hasil karya Studio Ghibli, dan di mana posisi hak cipta?

BACAJUGA

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Mengenal Polisemi dan Homonimi dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 20/9/26 | 15:43 WIB
Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Menyusuri Luka Kanak-kanak dalam Kumpulan Puisi “Belajar Menanggalkan Bulan”

Minggu, 13/9/26 | 22:05 WIB

Studio Ghibli sendiri telah berdiri sejak tahun 1985. Studio Ghibli didirikan oleh dua tokoh legendaris dalam dunia animasi Jepang, Miyazaki Hayao dan Takahata Isao sebagai animator dan sutradara bersama produser Suzuki Toshio. Miyazaki pernah menjadi sutradara film Lupin III: The Castle of Cagliostro (1979), kemudian Nausicaä of the Valley of the Wind (1984) yang diambil dari manga hasil ciptaan beliau sendiri. Kedua film ini menjadi batu loncatan bagi Miyazaki, Takahata, dan Suzuki dalam mendirikan Studio Ghibli. Itulah, Studio Ghibli akhirnya merilis film perdana mereka yang berjudul Castle in the Sky (1986) diikuti film My Neighbor Totoro (1988), Kiki’s Delivery Service (1989), dan Porco Rosso (1992) dan meraih kesuksesan pada masanya.

Seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), chatbot ChatGPT kini telah mencapai versi 4.0 dan pada Maret 2025 meluncurkan fitur multimodal terbarunya. Salah satu keunggulan utamanya adalah kemampuan untuk menghasilkan gambar bergaya secara instan seperti The Simpsons  Style, Looney Tunes Style, Pixar Style, Disney Classic Style, dan Ghibli Style. Ghibli style adalah salah satu tren yang cukup viral di kalangan anak muda zaman sekarang. Kita dapat menghasilkan foto gaya Ghibli cukup dengan memasukkan perintah dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris seperti, “ubah foto ini menjadi gaya  anime yang terinspirasi dari Studio Ghibli” atau “restyle this photo into anime style inspired by Studio Ghibli.” Fitur chatbot ini menuai banyak komentar negatif dari para penggemar setia Studio Ghibli. Mereka berpendapat bahwa penggunaan AI dalam meniru gaya Ghibli menunjukkan sikap kurang menghargai hasil karya animator aslinya. Ada yang mengatakan orang-orang yang membuat tren Ghibli style hanya fomo (Fear of Missing Out). Tak sedikit pula yang menilai bahwa teknologi ini merupakan bentuk plagiarisme atau pelanggaran hak cipta terhadap karya-karya Studio Ghibli.

Dilansir dari Dexerto, dalam rapat Komite Kabinet DPR Jepang pada 16 April, Masato Imai sebagai perwakilan dari Prefektur Gifu sekaligus anggota Partai Demokrat Konstitusional, menyampaikan bahwa penggunaan kecerdasan buatan (AI) tidak secara otomatis melanggar hak cipta jika hanya meniru gaya atau ide dari suatu karya. Jika konten yang dihasilkan AI terlalu mirip dan hasil gambar AI dikenali sebagai Ghibli itu sendiri, maka jelas hal tersebut bisa dianggap sebagai pelanggaran. Namun, menurut penulis, sesuatu yang diciptakan oleh sebuah kecerdasan buatan (AI) adalah sah atau legal, karena AI  hanyalah sebuah teknologi bukan manusia. Plagiarisme hanya dapat terjadi jika karya tersebut dibuat oleh manusia. Selain itu, hasil ciptaan AI tidak dapat sepenuhnya dianggap sebagai sebuah karya, karena tidak melibatkan proses kreatif manusia secara langsung.

Di balik berbagai kritikan negatif terhadap penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam menghasilkan gambar bergaya Ghibli, sebenarnya terdapat sisi positif yang bisa diambil. Salah satunya  adalah memperkenalkan kembali karya-karya Studio Ghibli kepada generasi muda yang mungkin belum familiar dengan animasi ini. Lewat tren foto ala Ghibli style yang viral di media sosial, banyak orang menjadi penasaran dan mulai mencari tahu lebih dalam tentang film-film Ghibli. Tak bisa dipungkiri, memang, Studio Ghibli sudah terkenal dari dulu, tetapi anak-anak Gen Alpha, masih ada yang belum kenal dengan karya-karyanya. Dengan kata lain, kehadiran AI justru bisa menjadi promosi gratis yang memperkenalkan Studio Ghibli kepada generasi baru. Studio Ghibli menjadi semakin populer, dan film-film lamanya kembali mendapatkan perhatian dari publik. Jadi, penggunaan AI sebenarnya tidak masalah selama penggunanya tidak mengklaim hasilnya sebagai karya pribadi.

Tags: #Adela Damanik
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Transitivitas dalam Perspektif Sintaksis Dixon

Berita Sesudah

Puisi-puisi Afny Dwi Sahira

Berita Terkait

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Mengenal Polisemi dan Homonimi dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 20/9/26 | 15:43 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Pernahkah Anda mendengar kalimat "kepala sekolah itu sedang memegang kepalanya...

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Menyusuri Luka Kanak-kanak dalam Kumpulan Puisi “Belajar Menanggalkan Bulan”

Minggu, 13/9/26 | 22:05 WIB

Oleh: Rosidatul Arifah (Alumni S1 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)  Awal September 2026 ini memberikan angin ceria pada...

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Modernisme dan Dunia yang Dinamis dalam Karya Sastra

Minggu, 13/9/26 | 09:35 WIB

Oleh: Maharani Syifa Ramadhan (Alumni Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Mahasiswa Program Magister Sastra Kontemporer, Universitas Padjajaran)   Modernisme...

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Minggu, 13/9/26 | 08:48 WIB

Oleh: Ahmad Hamidi dan Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)    Seekor anjing sedang menggonggong di...

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Minggu, 06/9/26 | 11:00 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Kata pulang merupakan kata yang sangat dekat dengan kehidupan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Jangan Tunggu Hutan Habis untuk Sadar

Minggu, 06/9/26 | 10:37 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik FIB Universitas Andalas) Kita sering baru mengingat hutan ketika bencana datang. Ketika hujan turun...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Afny Dwi Sahira

Puisi-puisi Afny Dwi Sahira

POPULER

  • Dampak Kecerdasan Buatan (AI) bagi Dunia Pendidikan di Indonesia

    Dampak Kecerdasan Buatan (AI) bagi Dunia Pendidikan di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rumah Dinas Wabup Solok Dibuka untuk Pengungsi, Warga Diminta Hindari Lokasi Rawan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Paket Data Masih Aktif, Telkomsel Blokir Internet karena Tagihan Pulsa Darurat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • RSAM Bukittinggi Butuh 500 Kantong Darah per Bulan, Golongan AB Paling Langka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diskriminasi dan Marginalisasi Tokoh Minke dalam Tetralogi Pulau Buru

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penayangan Film Sinematografi Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Andalas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penulisan Gelar dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026