Sabtu, 11/7/26 | 06:09 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Ekspresi Puitik Penderitaan Palestina dalam Puisi “Tamimi” karya Bode Riswandi

Minggu, 06/7/25 | 11:11 WIB

Oleh: Aldi Ferdiansyah
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

 

Karya sastra adalah hasil proses kreatif yang ditulis oleh seorang pengarang menggunakan bentuk kata indah sehingga dapat menyentuh hati pembaca. Melalui rangkaian kata-kata yang indah dan penuh makna, sastra tidak sekadar menjadi media untuk bercerita, tetapi juga menjadi sarana untuk menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan, kritik sosial, dan renungan batin. Dengan kemampuannya menggugah emosi pembaca, karya sastra sering kali mampu menjembatani pemikiran sang pengarang dengan realitas yang lebih luas. Salah satu bentuk sastra yang paling ekspresif adalah puisi. Dalam bentuk yang padat dan simbolik, puisi menjadi ruang bebas bagi penyair untuk bermain dengan gaya bahasa dan menyampaikan pesan secara estetis.

BACAJUGA

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Senin, 06/7/26 | 05:56 WIB
Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Senin, 06/7/26 | 05:43 WIB

Puisi terkadang menyuarakan rasa simpati kita terhadap kejadian atau fenomena yang ada di kehidupan nyata. Melalui kekuatan bahasa, seorang penyair dapat menggugah kesadaran pembaca akan situasi-situasi yang mungkin luput dari perhatian. Tak jarang, puisi menjadi medium perlawanan sunyi terhadap ketidakadilan, penindasan, atau tragedi kemanusiaan. Dalam karya sastra, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan informasi, tetapi juga memiliki nilai keindahan atau estetika. Hal ini karena bahasa digunakan sebagai media untuk mengekspresikan perasaan dan gagasan pengarang. Penulis bebas menciptakan unsur keindahan, baik dari segi bentuk seperti pilihan kata, irama bunyi, susunan larik dan bait yang dapat dirasakan melalui pancaindra, maupun dari segi makna yang mampu menimbulkan beragam kesan atau gambaran saat dibaca atau didengarkan (Riyan Munajat, dkk, 2022: 22-38).

Penggunaan gaya bahasa dapat memperindah bentuk dan mempertajam pesan yang terdapat pada suatu karya. Sehingga, karya tersebut lebih bersifat interpretatif, kemudian pembaca dapat merasakan emosi dan menerima kesan tertentu dalam pengalaman membacanya. Seperti yang di ungkapkan oleh Nurgiantoro (2017:215) bahwa majas merupakan teknik pengungkapan bahasa, penggayabahasaan, yang maknanya tidak menunjuk pada makna harfiah kata-kata yang mendukungnya, melainkan pada makna yang ditambahkan atau makna yang tersirat. Berdasarkan sejumlah pendapat yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa adalah keterampilan penulis dalam mengungkapkan gagasan secara tidak langsung atau melalui makna konotatif.

Jika dibaca sekilas, Puisi “Tamimi” dalam Kumpulan puisi “Mereka Terus Bergegas” karya Bode Riswandi lahir dari keprihatinan mendalam terhadap tragedi kemanusiaan yang menimpa rakyat Palestina, khususnya anak-anak yang menjadi korban konflik berkepanjangan dengan Israel. Puisi ini merupakan bentuk simpati dan solidaritas kemanusiaan terhadap situasi yang memilukan. Anak-anak disana yang seharusnya menikmati masa kecil di taman bermain justru harus hidup dalam bayang-bayang kekerasan, kehancuran, dan kehilangan. Bode Riswandi, melalui puisi ini, menyuarakan jeritan hati mereka yang tak terdengar; mereka yang terampas hak dasarnya untuk hidup damai dan bermain bebas. Melalui pilihan kata yang penuh luka dan metafora yang kuat, puisi tersebut menjadi refleksi emosional sekaligus pengingat bahwa masih banyak anak-anak di luar sana yang tidak mengenal makna damai, apalagi bermain di taman dengan tawa yang merdeka.

Analisis Gaya Bahasa dalam Puisi Tamimi Karya Bode Riswandi

TAMIMI

Tak ada masa kanak-kanak di sini
Ruang main tersimpan rapi di perut bumi
Mimpi-mimpi kian asing dari sejumlah tidur
Yang kami sendiri lupa bagaimana mengingatnya

Tak ada selembar sapu tangan di sini
Air mata kami telah jadi logam dan baja
Bagi mereka yang fasih menarik pelatuk senjata

Jangan ajari bagaimana membela diri
Sejak dalam Rahim ibu,
Kami makin terbiasa mendengar
Dentuman rudal dan bunyi tembakan itu
Seperti lagu-lagu rakyat yang biasa
Kami nyanyikan di halaman rumah

Ketika bapak mati di tembak
Di lapangan terbuka, di antara lelaki-lelaki lain
Yang menggenggam batu di tangannya
Tak ada waktu bagi ibu untuk meratapinya
Ia akan terus mengupak perlawanan baru
Karena setiap seorang lelaki gugur
Di medan itu, darahnya akan cepat menyatu
Ke tubuh ibu, lalu lahirlah kami
Dengan tangan yang sedia mengepal

 2018

Puisi “Tamimi” ini menggambarkan kesengsaraan yang dialami oleh rakyat di Palestina akibat peperangan di wilayah mereka. Melalui puisi ini, Bode Riswandi ingin menunjukan rasa simpatik nya kepada rakyat terutama para anak kecil yang tidak berdosa. Adapun gaya bahasa yang ditemukan dalam puisi Tamimi, sebagai berikut.

Hiperbola

Tak ada masa kanak-kanak di sini
Ruang bermain tersimpan rapi di perut bumi
“Tak ada selembar sapu tangan di sini”

Hiperbola adalah gaya bahasa yang menyampaikan sesuatu secara berlebihan hingga melampaui kenyataan, sehingga kesannya menjadi tidak logis atau sulit diterima akal sehat. Seperti di larik kutipan (1) menyatakan bahwa tempat bermain anak-anak di Palestina sudah banyak hancur akibat pengeboman yang terjadi di Palestina. Situasi tersebut juga merenggut masa bahagia mereka yang seharusnya bermain dengan keluarga maupun teman. Larik (2) menyatakan bahwa ketidakadaan sapu tangan adalah bentuk keteguhan anak-anak di Palestina. Melebih-lebihkan untuk menegaskan bahwa tak ada waktu untuk menangis, karena kenyataan terlalu keras untuk meratap.

Personifikasi

Mimpi-mimpi kian asing dari sejumlah tidur
Yang kami sendiri lupa bagaimana mengingatnya

Gaya bahasa personifikasi menggambarkan benda-benda tidak bernyawa seolah-olah  memiliki sifat seperti manusia. Pada larik (2) “mimpi-mimpi” bisa menjauh atau menjadikan dirinya tidak dikenal lagi oleh anak-anak di Palestina, seperti seseorang yang berubah dan tak lagi akrab. Anak-anak disana selalu dihantui rasa cemas sehingga tidak pernah merasakan tidur lelap ataupun bermimpi.

Metafora
Air mata kami telah jadi logam dan baja
Bagi mereka yang fasih menarik pelatuk senjata

Metafora adalah gaya bahasa yang membandingkan dua hal atau objek secara implisit untuk menimbulkan kesan imajinatif yang kuat dalam pikiran, meskipun tanpa menggunakan pernyataan perbandingan secara langsung. Larik (4) memiliki metafora bahwa kesedihan mereka telah membatu, tidak lagi ditunjukkan dengan ratapan, tapi telah berubah menjadi ketegaran dan bahkan amarah yang siap melawan. Logam dan baja simbol kekuatan dan keteguhan yang mereka perlihatkan kepada pihak lawan.

Simile

Jangan ajari bagaimana membela diri
Sejak dalam Rahim ibu,
Kami makin terbiasa mendengar
Dentuman rudal dan bunyi tembakan itu
Seperti lagu-lagu rakyat yang biasa
Kami nyanyikan di halaman rumah”

Pada bait ketiga terdapat majas simile adalah gaya bahasa yang menggambarkan suatu kondisi dengan cara membandingkan satu hal dengan hal lain yang sebenarnya berbeda, namun secara sengaja dianggap serupa. Ciri khas dari majas ini adalah penggunaan kata-kata pembanding seperti: seperti, sebagai, ibarat, umpama, bak, laksana, atau serupa. Pada kutipan (5) memiliki arti mereka seolah tumbuh dengan seolah sudah terbiasa dengan kekacauan yang setiap hari terjadi di Palestina seperti kebiasaan yang mereka lakukan yaitu bernyanyi lagu rakyat. Dengan keadaan tersebut, mereka sudah siap membela diri demi wilayah dan negara dan cinta untuk orang terdekatnya.

Simbolik

Yang menggenggam batu di tangannya
Di medan itu, darahnya akan cepat menyatu
Ke tubuh ibu, lalu lahirlah kami
Dengan tangan yang sedia mengepal

Gaya bahasa simbolik merupakan bentuk ungkapan yang memanfaatkan lambang atau simbol untuk menyampaikan suatu pesan. Pesan tersebut bisa berupa ide, sindiran, hingga ungkapan persuasif seperti rayuan. Simbol-simbol yang digunakan bisa berasal dari hewan, tumbuhan, maupun benda lain, yang berfungsi untuk menyampaikan makna secara lebih halus dan tidak langsung. Pada larik kutipan (6) dan (7) terdapat kata yang berupa simbol, seperti batu, sebagai simbol dari perlawanan rakyat kecil yang bersenjata seadanya melawan senjata api. Darah sebagai simbol pengorbanan. Tangan yang mengepal sebagai simbol kelahiran kembali semangat perjuangan yang terus-menerus. Ini juga bermakna mendalam, yaitu anaka-anak di sana telah lama menyiapkan hatinya untuk kehilangan ayah. Tumbuh dalam kesadaran yang keras: bahwa ayah mungkin tidak akan kembali, bahwa tawa keluarga bisa digantikan dentuman senjata kapan saja. Namun, meski terpaksa, mereka ikhlas. Mereka memahami, sejak dini, bahwa darah yang tertumpah akan menjadi warisan, dan mereka yang akan melanjutkan estafet perlawanan. Mereka dilahirkan bukan hanya untuk hidup, tetapi untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih layak bagi tanah dan bangsanya.

Puisi Tamimi karya Bode Riswandi memiliki unsur estetika yang kuat melalui perpaduan emosi, gaya penulisan, dan pilihan diksi yang penuh makna. Secara emosional, puisi ini menggugah perasaan pembaca lewat gambaran penderitaan, keteguhan, dan semangat perlawanan anak-anak Palestina. Gaya penulisannya lugas, simbolik, dan repetitif, menciptakan suasana yang mampu merasuk hati pembaca. Diksi yang digunakan pun dominan bersifat konotatif dan simbolis, seperti “logam”, “baja”, “batu”, dan “tangan mengepal”, yang memperdalam makna perjuangan dan ketabahan. Selain itu, kekuatan citraan visual dalam puisi ini menghidupkan suasana konflik dan penderitaan secara konkret. Semua unsur tersebut menyatu membentuk ekspresi estetis yang tidak hanya menyampaikan simpati, tetapi juga menghidupkan pesan kemanusiaan dan kekuatan batin secara puitis dan menyentuh.

Dengan demikian, Puisi Tamimi karya Bode Riswandi merupakan bentuk ekspresi puitik yang kuat terhadap penderitaan rakyat Palestina, terutama anak-anak, akibat konflik yang berkepanjangan. Melalui penggunaan gaya bahasa seperti hiperbola, personifikasi, metafora, simile, dan simbolik, puisi ini tidak hanya menyampaikan empati dan solidaritas, tetapi juga membangun kekuatan emosional dan daya renung bagi pembaca. Gaya bahasa yang digunakan mampu menggambarkan suasana, memperkuat pesan, dan menciptakan makna yang mendalam. Hal ini menunjukkan bahwa gaya bahasa dalam puisi tidak hanya berfungsi sebagai hiasan estetis, tetapi juga sebagai alat penyampai kritik sosial, perjuangan, dan harapan akan kemanusiaan yang lebih adil.

Tags: #Aldi Ferdiansyah
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Psikologi Kekuasaan dalam Cerpen “Seekor Beras dan Sebutir Anjing”

Berita Sesudah

Puisi-puisi Salwa Ratri Wahyuni

Berita Terkait

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Senin, 06/7/26 | 05:56 WIB

Oleh: Abdul Hamid Sajidurrahman (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Mahasiswa FEB Universitas Andalas)   Di era digital seperti sekarang, cara...

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Senin, 06/7/26 | 05:43 WIB

Oleh: Maryatul Kuptiah (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia dan Anggota Aktif UKMF Labor Penulisan Kreatif FIB UNAND)   Bahasa adalah...

Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

Minggu, 05/7/26 | 16:04 WIB

Oleh: Mita Handayani (Alumni Magister Linguistik FIB Universitas Andalas)   Beberapa hari yang lalu, saya bersama tim EQUITY dan pimpinan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Salindia atau PPT? Potret Sikap Bahasa Generasi Digital

Senin, 29/6/26 | 21:20 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)   “Besok presentasi pakai PPT, ya.” Kalimat tersebut hampir setiap...

Batu dan Zaman

Peran Podcast dalam Produksi Bahasa

Senin, 29/6/26 | 21:06 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Ada pengalaman yang menyenangkan setiap kali mengikuti episode...

Kreativitas Berbahasa yang Anomali

Kreativitas Berbahasa yang Anomali

Senin, 29/6/26 | 13:05 WIB

Oleh: Alex Darmawan (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Di zaman milenial sekarang ini, kreativitas adalah hal yang sangat...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Salwa Ratri Wahyuni

Puisi-puisi Salwa Ratri Wahyuni

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran memimpin rapat pertemuan lanjutan dengan Foshan Polytechnic, Selasa (7/7).

    Wali Kota Padang Kunjungi Fosan Polytechnic

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Laka Lantas di Dharmasraya, Mahasiswa Undhari Meninggal Dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Dalamnya Jurang Pembatas antara Kaum Bangsawan dan Kaum Bawahan yang Digambarkan dalam Novel Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Truk Senggol Motor, Dua Mahasiswa Undhari Dharmasraya Jalani Perawatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dinas PUPR Kota Padang Gerak Cepat Bersihkan Longsor di Gunung Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kekacauan dalam Film “Pengepungan di Bukit Duri”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026