Kamis, 05/11/26 | 20:06 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Gaya Bahasa dalam Puisi “Dugaan Jawaban” karya Maryatul Kuptiah

Minggu, 04/5/25 | 08:31 WIB

 

Oleh: Mayang Puti Ifanny
(Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Bergiat di UKMF Labor Penulisan Kreatif)

Permasalahan yang sering terjadi ketika sedang menghadapi suatu ujian ialah ketika tidak dapat menjawab pertanyaan dari soal ujian tersebut. Terlebih ketika menghadapi ujian tulis, tidak dipungkiri sering terjadi kepada mahasiswa. Mengaku telah berusaha belajar untuk menghadapi ujian, akan tetapi karena ada rasa gugup, tidak percaya diri atau memang tidak memahami konsep membuat ketidakpastian atau hanya menerka-nerka jawaban yang ditulis. Sungguh itu sangat disayangkan. Hal ini akan mengakibatkan dua kemungkinan, antara terkaan yang ditulis benar atau terkaan yang ditulis salah tidak ada kepastian. Sehingga juga memunculkan dua kemungkinan antara nilai yang bagus atau nilai yang hancur.

Persoalan ini juga terjadi pada puisi Dugaan Jawaban karya Maryatul Kuptiah yang terbit di Scientia.id pada tanggal 23 Maret 2025. Puisi ini merupakan satu di antara empat puisi Maryatul yang terbit di Scientia.id. Ketidakpastian dan tanda tanya yang dihadirkan oleh Maryatul seakan memberikan kesan yang ambigu.  Untuk menelusuri lebih dalam perihal ini, dapat dikuliti dengan melihat gaya bahasa yang digunakan.

BACAJUGA

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Paradoks Representasi Subaltern dalam Novel Saman

Minggu, 01/11/26 | 12:50 WIB
Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

Minggu, 01/11/26 | 12:42 WIB

Gaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah style. Kata style diturunkan dari kata Latin yaitu stilus, yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin. Keahlian menggunakan alat ini akan mempengaruhi jelas tidaknya tulisan pada lempengan tadi. Kelak pada waktu penekanan dititik beratkan pada keahlian untuk menulis indah, maka style lalu berubah menjadi kemampuan dan keahlian untuk menulis atau mempergunakan kata kata secara indah (Keraf, 1991).

Gaya bahasa tidak hanya dapat dilirik dari satu titik sudut pandang saja, tetapi dapat diperhatikan dari berbagai titik. Keraf (1991) membagi gaya bahasa menjadi berbagai jenis, salah satunya yaitu gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat. Dibagi menjadi lima bagian yaitu klimaks, antiklimaks, paralelisme, antitesis, repetisi.

Pertama, gaya bahasa klimaks, gaya bahasa yang mengandung urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingnnya dari gagasan-gagasan sebelumnya. Pada baris terakhir puisi ini “Maknanya menusuk di antara binar mata” memiliki makna jawabaan dari apa yang diduga duga pada baris sebelumnya. Keambiguan jawaban dari baris-baris sebelumnya terjawab pada baris terakhir. Setelah mengetahui makna sesungguhnya dari apa yang diterka, ada kesedihan, pilu yang dirasakan. Ditunjukan dari kata “binar mata”

Kedua, ada gaya bahasa antiklimaks. Antiklimaks ini adalah kebalikan dari klimaks. Urutan bahasanya dari yang terpenting ke gagasan yang kurang penting. “Benar dan salah belum tentu jawabannya”. Baris kedua ini telah memberikan pilihan terlebih dahulu sebagai bentuk inti dari pernyataan mana yang menajadi jawaban pasti. Sehingga ia menjadi kalimat anti klimaks.

Selanjutnya, paralelisme, gaya bahasa ini merupakan gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaina kata-kata atau frasa-frasa yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama (Keraf, 1991).

Benar dan salah belum tentu jawabannya
Seperti tanya tanpa jawabannya

Dua baris pada puisi ini menunjukkan adanya kesetaraan antara “Benar dan salah” dan pengulangan kata “jawabannya” yang memberikan efek yang sama antara baris ke empat puisi ini dan baris ke lima puisi ini dan kesinambungan antara baris tersebut.

Keempat gaya bahasa yang terdapat pada puisi ini yaitu antitesis, yang merupakan gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan dengan mempergunakan kata-kata atau kelompok kata yang berlawanan.

Meski kalimat sederhana=
Tapi belum ada yang mengerti makna

Kata “Tapi” memberikan hubungan antitesis antara baris ke enam dan baris ke delapan. Dimaknakan bahwa suatu hal yang sederhana akan tetapi tetap saja makna atau artinya belum dapat diketahui. Masih dalam tahap menduga-duga.

Gaya bahasa terakhir pada bagian struktur kalimat, yaitu repetisi atau perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai disebut repetisi. “Meski kalimat sederhana” pada baris ke enam dan baris ke sembilan “ Kalimat sederhana dengan beberapa kata” menunjukkan gaya bahasa repetisi pada puisi ini. Pada awalnya penulis hanya menunjukkan kalimat utamanya yaitu “sederhana” lalu pada baris berikutnya kata “sederhana” kembali diulang sebagai pengurai dari baris sebelummnya. Dengan menjelaskan “beberapa kata” yang hadir pada kalimat sederhana tersebut.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa puisi Dugaan Jawaban karya Maryatul Kuptiah ini mengajak pembaca untuk merenungkan dan memaknai satu per satu setiap baris yang dihadirkan. Pada baris awal, kebingungan terjadi dan mempertanyakan perihal benar atau salah. Pertanyaan yang diajukan tidak memiliki jawaban yang pasti bahkan tidak ada. Jika adapun kalimat sederhana sebagai jawabannya, tetapi maknanya belum dapat dipahami. Hingga akhirnya setelah mengetahui jawaban dan makna yang pasti, harus menghadapi kenyataan yang tidak sesuai keinginan. Keambiguan ini menunjukkan bagaimana perjalanan kehidupan manusia yang belum pasti akan berakhir pada ending yang bagaimana. Meski terkadang sudah berusaha melakukan hal yang terbaik untuk diri sendiri.

Tags: #Mayang Putri Iffany
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Eliza Nuzul Fitria

Berita Sesudah

Sulitnya Gen Z Menabung di Era Digital

Berita Terkait

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Paradoks Representasi Subaltern dalam Novel Saman

Minggu, 01/11/26 | 12:50 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

Minggu, 01/11/26 | 12:42 WIB

Oleh: Tri Sutrisman (Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas) Bagaimana jika sebuah laboratorium yang seharusnya digunakan untuk menyelamatkan...

Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

Minggu, 01/11/26 | 12:26 WIB

Oleh: Rizky Amelya Furqan (Dosen Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas) Matilah kau mati, kau akan lahir...

Dari Sagu ke Pasar Digital: Peluang UMKM Lokal Menembus Batas

Dari Sagu ke Pasar Digital: Peluang UMKM Lokal Menembus Batas

Minggu, 25/10/26 | 20:14 WIB

Oleh: Maryatul Kuptiah (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Di Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki potensi alam...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Peran Ibu Tunggal dalam Film “Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu?”

Minggu, 25/10/26 | 18:30 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya dan Anggota Labor Penulisan Kreatif, Universitas Andalas) Ada film yang berakhir...

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Minggu, 18/10/26 | 16:21 WIB

Oleh: Lili Herlina (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas) Ketika membicarakan masalah pertanian, perhatian sering kali tertuju pada...

Berita Sesudah
Sulitnya Gen Z  Menabung di Era Digital

Sulitnya Gen Z Menabung di Era Digital

POPULER

  • Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

    Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Modalitas dalam Teks atau Wacana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Relasi Kohesi dan Fungsinya dalam Wacana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Syafni Nola Putri Sambut Wali Nagari Definitif Aie Dingin, Harapkan Perubahan Setelah Lima Tahun Dipimpin Pj

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PWI Dharmasraya Matangkan Program Kerja 2027, Jurnalis Masuk Sekolah Jadi Agenda Prioritas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hujan Lebat Mengintai Sumbar hingga 10 November, Lima Daerah Masuk Kategori Siaga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026