Rabu, 25/2/26 | 11:40 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Yang Tua Dulu Begitu, Yang Muda Sekarang Begini

Minggu, 16/2/25 | 16:27 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Sejak dulu, benturan pemikiran antara tua dan muda selalu ada. Yang muda dengan semangat perubahan, sementara generasi tua cenderung lebih hati-hati dalam melangkah. Perbedaan cara pandang itu muncul di berbagai bidang, mulai dari hubungan keluarga, dunia kerja, hingga organisasi sosial. Namun, apakah perbedaan ini harus menjadi penghalang, atau justru bisa menjadi kekuatan untuk saling melengkapi?

Dalam lingkup keluarga misalnya, perbedaan pendapat antara orang tua dan anak sering kali tak terhindarkan. Seorang anak yang ingin membeli gitar mungkin mendapat respons skeptis dari orang tuanya. Namun, daripada langsung menolak, orang tua sebaiknya menggali lebih dalam alasan di balik permintaan tersebut.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Saat Ide Mengalir di Detik Terakhir

Minggu, 05/10/25 | 20:02 WIB

Jika hanya sekadar hobi, anak bisa diarahkan untuk mengembangkan keterampilan bermusik secara serius, misalnya dengan mengikuti kompetisi atau kursus. Pendekatan ini tidak hanya menghindari konflik, tetapi juga membangun komunikasi yang sehat antara generasi.

Salah satu pemicu kesenjangan adalah kecenderungan generasi tua membandingkan masa kini dengan masa lalu. Ungkapan seperti “Zaman kami dulu…” sering kali muncul dalam percakapan. Padahal, setiap generasi tumbuh dengan tantangan dan dinamika yang berbeda.

Tidak semua nilai dan norma masa lalu relevan untuk diterapkan saat ini, tetapi bukan berarti semuanya harus ditinggalkan. Ada nilai-nilai positif yang tetap bisa dijaga, seperti disiplin dan etos kerja, sekaligus menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Di sisi lain, generasi muda kerap menganggap pemikiran generasi tua sebagai sesuatu yang usang dan tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman. Padahal, ada banyak hal dari generasi sebelumnya yang masih berharga untuk dipelajari dan diterapkan. Yang diperlukan adalah keseimbangan antara mempertahankan nilai lama yang baik dan menerima inovasi baru yang lebih relevan.

Dalam organisasi, kesenjangan ini juga sering terjadi. Generasi tua ingin mempertahankan sistem lama yang dianggap telah terbukti efektif, sementara generasi muda menginginkan perubahan yang lebih dinamis. Alih-alih sekadar mengkritik, generasi muda sebaiknya menawarkan solusi yang dapat didiskusikan bersama. Sebaliknya, generasi tua juga perlu membuka diri terhadap ide-ide segar agar organisasi tetap berkembang.

Pada akhirnya, koordinasi yang baik adalah kunci utama untuk menjembatani kesenjangan generasi. Bukan soal siapa yang lebih benar, tetapi bagaimana kedua generasi bisa saling memahami, menghargai pengalaman, dan menerima perubahan. Dengan komunikasi yang terbuka dan sikap saling belajar, kesenjangan ini bukan lagi hambatan, melainkan jembatan menuju harmoni dan kemajuan bersama.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Sastra Anak sebagai Media Pembelajaran Bahasa Asing dan Pendidikan Karakter

Berita Sesudah

Puisi-puisi Gibran Harsingki dan Ulasannya Oleh Ragdi F Daye

Berita Terkait

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kecamatan Gunuang Omeh, khususnya Nagari Talang Anau bukan tempat...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Jika Renyah dapat dianalogikan, ia bukan ruang yang hadir dengan suara lantang atau pernyataan yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Waktu Tak Menunggu

Minggu, 07/12/25 | 22:22 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya sering bangun tergesa, seolah pagi datang lebih cepat dari dugaan. Waktu terus berjalan...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Hujan yang Merawat Diam

Minggu, 23/11/25 | 19:52 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Hujan selalu punya cara sederhana untuk membuat saya berhenti sejenak. Di antara rintik yang...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Gibran Harsingki dan Ulasannya Oleh Ragdi F Daye

Puisi-puisi Gibran Harsingki dan Ulasannya Oleh Ragdi F Daye

POPULER

  • Afrina Hanum

    Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bentuk-Bentuk Singkatan dalam Surat Resmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bank Nagari Resmikan KCP Baso Agam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Larang Jual Takjil di Belakang Balok, Pemko Bukittinggi Dinilai Tak Adil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Ganti Engkau, Kau, Dia, dan Ia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024