Senin, 02/3/26 | 22:07 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Lapang Dada di Ruang Sempit

Minggu, 09/2/25 | 15:45 WIB
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Duduak samo randah, tagak samo tinggi. Duduak basamo balapang-lapang, duduak surang basampik-sampik. Pepatah Minang ini begitu indah, menggambarkan semangat kebersamaan dan berbagi ruang dengan lapang dada. Namun, bagaimana jika semangat itu diuji dalam situasi nyata, seperti perjalanan panjang dalam sebuah bus yang penuh sesak?

Perjalanan ini dimulai dari kota yang dikenal sebagai “kotanya para penyair” menuju kota pendidikan yang dijuluki “kota tercinta.” Ketika itu, jalanan dipadati kendaraan, dan bus begitu sulit ditemukan. Keadaan yang sudah terprediksi, tapi tetap memaksa saya bergantung pada keberuntungan. Saat bus kecil dengan nama samar-samar di kaca depannya berhenti, tanpa pikir panjang, saya naik dan memilih tempat duduk dekat pintu. “Siapa cepat, dia dapat,” begitu kiranya nasihat yang saya pegang saat itu.

BACAJUGA

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Seiring perjalanan, bus semakin penuh. Penumpang yang naik pun beragam: mulai dari anak-anak, remaja, hingga pasangan suami-istri. Ketika sopir memberi tahu bahwa bangku serap adalah satu-satunya pilihan, banyak penumpang dengan enggan tetap memilih naik. “Bus susah dicari, Buk! Mau menunggu lama?” ujar sopir, membuat penumpang tak punya pilihan selain menerima keadaan.

Di tengah perjalanan, seorang mahasiswi, tampaknya seusia saya, juga naik dengan harapan sama: duduk sementara di bangku serap. Namun, seperti biasa, janji sopir bahwa bus akan segera lapang hanyalah harapan kosong. Setiap kali ada penumpang turun, selalu saja ada yang naik menggantikan. Kondisi bus makin sumpek, udara pengap, dan ruang gerak terbatas.

Rasa kesal mulai menjalar di antara para penumpang. Wajah-wajah masam mendominasi suasana. Tak ada tegur sapa, tak ada senyuma, hanya keluhan dalam hati masing-masing. Bau keringat yang menyeruak dari tubuh penumpang menambah suasana semakin tak nyaman. Di tengah kepenatan itu, saya teringat kembali pada pepatah Minang tadi.

Sayangnya, filosofi itu terasa mustahil diterapkan di bus ini. Apakah sopir yang terlalu memaksakan penumpang, atau penumpang yang tetap memaksa naik meski bus sudah penuh? Entahlah. Yang jelas, semangat kebersamaan seolah terkikis dalam ruang sempit ini.

Lalu, saya berpikir, apakah pepatah hanya sekadar rangkaian kata yang indah diucapkan tapi sulit diwujudkan? Atau mungkin, di luar sana ada kisah lain yang berhasil mempraktikkan maknanya?

Mungkin, dalam perjalanan hidup ini, melapangkan hati adalah langkah pertama. Tapi melapangkan hati saja tidak cukup tanpa tindakan nyata. Pepatah Minang ini seharusnya menjadi pengingat untuk selalu berbagi, bukan hanya ruang, tetapi juga pengertian dan empati, bahkan di ruang sesempit sebuah bus.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Memaksimalkan Potensi Bahasa melalui Tradisi Pantun

Berita Sesudah

Hari Pers Nasional, Ketua DPRD Dharmasraya: Pers Pilar Demokrasi

Berita Terkait

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kecamatan Gunuang Omeh, khususnya Nagari Talang Anau bukan tempat...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Jika Renyah dapat dianalogikan, ia bukan ruang yang hadir dengan suara lantang atau pernyataan yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Waktu Tak Menunggu

Minggu, 07/12/25 | 22:22 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya sering bangun tergesa, seolah pagi datang lebih cepat dari dugaan. Waktu terus berjalan...

Berita Sesudah
Ketua DPRD Dharmasraya Ucapkan Selamat Ramadan

Hari Pers Nasional, Ketua DPRD Dharmasraya: Pers Pilar Demokrasi

POPULER

  • Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

    Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bale by BTN, Transaksi Cepat Tanpa Ribet

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pesan Tauhid dan Penyerahan Diri dalamPuisi “Sembahyang Rumputan”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dua Orang Tewas di Konsesi PT Bina, Warga Desak Disnaker Evaluasi Standar K3

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satu Tahun Duo Srikandi Dharmasraya, Pendidikan dan OVOP Jadi Andalan Bangun Ekonomi Rakyat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024