Rabu, 04/2/26 | 09:13 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Memperbaiki Bahasa Anak dari Cadel ke Sempurna

Minggu, 26/1/25 | 15:42 WIB
Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

Siapa yang tidak tersenyum ketika mendengar seorang balita berbicara. Sebagai orang dewasa yang menyadari pola-pola bahasa tertentu, kita akan kaget dengan kosakata yang dilafalkan anak-anak atau bayi di bawah lima tahun ini. Itulah yang terjadi kepada saya selama satu minggu ini. Saya terkejut dengan kosakata yang dilafalkan Shanum, keponakan saya yang baru berusia empat tahun. Saya bersamanya dari pagi hingga malam karena ia tengah berlibur di Yogyakarta.

Saat bersamanya, saya mendengar kosakata ikuk ‘ikut’, takuk ‘takut’, buak ‘buat’, dapu ‘dapur’, kasu ‘kasur’, maka ‘makan’, banta ‘bantal’, dan balo ‘balon’. Jika dikaji secara linguistik, ada pola bahasa yang dimiliki Shanum. Pertama, terjadi perubahan bunyi [t] menjadi [?] di akhir kata dan  kedua, terjadi penghilangan bunyi di akhir kata. Perubahan bunyi [t] menjadi [?] terjadi pada kata ikuk, takuk, dan buak sebagaimana tercantum dalam kalimat berikut.

  • “Anum takuk, Mama,” ujar Shanum saat diajak ibunya masuk ke rumah hantu di Studio Gamplong Yogyakarta.
  • “Ibu ke mana? Anum ikuk,” ujar Shanum saat saya menghidupkan mesin motor.
  • “Buak Shanum, buak Adek, buak Shanum, buak Adek,” ujar Shanum kepada anak saya ketika membagi makanan secara adil.

Sementara itu, penghilangan bunyi terjadi pada kosakata dapu, kasu, maka, banta, dan balo. Sebagai lawan tutunya, saya langsung paham ketika Shanum menyebutkan kata dapu dan kasu. Anak-anak seusia Shanum memang sangat sulit melafalkan bunyi [r]. Kebanyakan anak-anak menghilangkan huruf [r] di akhir kata atau mengganti bunyi [r] dengan [l]. Anak-anak yang mengganti bunyi [r] dengan bunyi [l] akan melafalkan [dapur] dan [kasur] dengan [dapul] dan [kasul].

Sebagai orang dewasa, kita menganggap pelafalan mereka sebagai cadel. Dalam KBBI, cadel merupakan ‘kurang sempurna mengucapkan kata-kata sehingga bunyi [r] dilafalkan [l], (misalnya kata raja diucapkan laja)’. Kondisi anak-anak yang cadel termasuk kondisi yang wajar dalam pemerolehan bahasa. Hampir sebagian anak-anak melewati fase cadel ini dalam memproduksi bahasa saat masih kecil.

BACAJUGA

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Minggu, 11/1/26 | 09:57 WIB
Serba-serbi Kritik Sosial Habis Lebaran

Penulisan Nama dalam Bahasa Asing

Minggu, 21/12/25 | 07:51 WIB

Roman Jakobson (1896) melalui bukunya The Framework of Language menjelaskan bahwa anak-anak yang normal dapat memproduksi beragam-ragam bunyi dalam vokalisasinya, seperti bunyi-bunyi vokal dan konsonan. Namun, pada waktu si anak mulai memperoleh kata, kebanyakan dari bunyi-bunyi tersebut hilang dan sebagian muncul kembali beberapa tahun kemudian.

Namun, yang menarik perhatian saya dan membuat pelafalan kosakata Shanum menjadi agak berbeda didengar adalah ketika dia menghilangkan bunyi akhir pada kata makan, bantal, dan balon. Kebanyakan anak-anak tidak pernah menghilangkan bunyi akhir pada kata-kata tersebut. Anak-anak hampir selalu fasih melafalkan [makan], [bantal], dan [balon]. Kebanyakan anak-anak justru menghilangkan bunyi awal kata sehingga sering dilafalkan [akan], [antal], dan [alon]. Orang tua akan langsung paham jika melihat bahasa tubuh si anak, seperti menunjukkan sesuatu yang bisa dimakan, menunjuk tempat tidur, atau menunjukkan mainan balon.

Dalam hal ini, Shanum justru menunjukkan bahwa juga ada kondisi tertentu yang dialami seorang anak ketika menghilangkan bunyi dalam sebuah kata. Jika saya tidak cermat memperhatikan konteks yang disampaikan Shanum, saya tidak tahu bahwa [maka] itu bermakna ‘makan’, [banta] bermakna ‘bantal’, dan [balo] bermakna ‘balon’. Namun, apa yang dialami Shanum bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan. Setiap anak mengalami proses pemerolehan bahasa yang berbeda sehingga sangat wajar jika pelafalan seorang anak menuju pelafalan sempurna itu berbeda-beda. Bagi Roman Jakobson, kondisi ini merupakan proses alami seorang anak dalam melewati dua fase dalam pemerolehan bahasa.

Pertama, prelanguage babbling period atau disebut juga dengan masa mengoceh anak. Masa ini juga dikenal dengan masa prabahasa atau masa vokalisasi anak. Anak-anak melafalkan bunyi-bunyi vokal yang tidak menunjukkan urutan perkembangan tertentu dan tidak mempunyai hubungan dengan masa pemerolehan bahasa berikutnya. Pada masa ini, anak-anak melatih alat vokal dan memproduksi bunyi-bunyi tanpa tujuan tertentu. Seorang bayi sangat memungkinkan mengucapkan bunyi-bunyi tertentu meskipun bunyi-bunyi tersebut tidak muncul dalam ucapan-ucapan orang dewasa yang didengarnya.

Kedua, the acquisition of language proper atau masa pemerolehan bahasa murni. Pada masa ini, anak sudah mengikuti urutan pemerolehan bunyi yang relatif sama dengan orang dewasa dan tidak akan berubah. Namun, pengecualian tetap terjadi, khususnya muncul kasus-kasus tertentu bahwa anak-anak harus melalui fase tertentu sebelum mampu mengucapkan bunyi sempurna. Hal ini saya alami sebagai orang tua pada masa-masa pemerolehan bahasa anak sulung dan anak bungsu saya, khususnya sebelum berusia lima tahun.

Anak sulung saya tidak dapat melafalkan bunyi [k] di awal kata. Sejumlah kata yang memuat bunyi [k] di awal kata diganti dengan [p], seperti [kue] menjadi [pue] dan [kuciŋ] menjadi [puciŋ]. Anak bungsu saya justru tidak mengalami hal tersebut. Dia justru tidak dapat mengucapkan bunyi [r]. Sejumlah kata yang memuat bunyi [r] diganti dengan bunyi [y], seperti [kurus] menjadi [kuyus], [beras] menjadi [beyas], dan [sirup] menjadi [siyup]. Namun, ketika saya memasukkan dia ke sekolah dan dia bertemu dengan anak-anak yang memperoleh bahasa secara sempurna, secara perlahan dia dapat melafalkan kosakata tersebut secara tepat.

Dalam hal ini, lingkungan sangat memengaruhi anak-anak untuk melafalkan kosakata secara sempurna. Itulah sebabnya, para ahli psikolinguistik sangat menganjurkan orang tua untuk tidak meniru dan merespons anak-anaknya yang cadel dengan jawaban yang cadel. Ketika orang tua melakukan ini, anak-anak akan berada pada masa cadel lebih lama jika dibandingkan dengan orang tua yang merespons dengan pelafalan yang sempurna.  Hal ini juga menjadi rekomendasi bagi dokter anak dan juga ahli psikolinguistik kepada orang tua agar segera memasukkan anak-anak ke lembaga prasekolah agar kemampuan mereka dalam pemerolehan bahasa berlangsung secara sempurna dan cepat.

Shanum sedang berada di fase ini. Ia membutuhkan lingkungan yang terus-menerus melafalkan kosakata secara tepat. Orang tua, keluarga, dan teman-teman harus berulang kali melafalkan kata [makan], [bantal], dan [balon] kepada Shanum agar hal tersebut dapat memengaruhi pelafalannya menjadi tepat dan benar. Roman Jakobson (1986) menjelaskan bahwa pelafalan seorang anak akan menjadi sempurna jika bunyi-bunyi tersebut sering didengarnya. Lingkungan sosial sangat memengaruhi hal tersebut. Frekuensi yang sering akan memengaruhi anak untuk mengucapkan bunyi secara tepat sehingga ia dapat membedakan bunyi yang satu dengan bunyi yang lain. Secara perlahan, anak-anak akan secara sadar meniru dan mengulang-ulang pelafalan bunyi dengan sempurna.

 Keberhasilan dalam berbahasa seorang anak sangat dipengaruhi oleh kefasihan orang-orang di sekitarnya dalam berbicara. Peran aktif orang tua, serta alat-alat pendukung di sekitar juga sangat dibutuhkan. Orang tua harus memilihkan siaran televisi, radio, dan siaran digital, seperti Youtube dan Netflix yang memunculkan bunyi sempurna. Jangan biarkan orang-orang terdekat meniru ketidaksempurnaan pelafalan anak sehingga proses memperbaiki pelafalan bagi anak menjadi sangat lambat. Ajak anak berbicara dengan sempurna agar mereka dapat melafalkan bunyi sempurna lebih cepat.

Tags: #Ria Febrina
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pembelajaran Bahasa dengan Metode Multisensory and Sensorimotor-Enriched Learning di SD 04 Batu Putiah

Berita Sesudah

Renyah Bermedia Sosial

Berita Terkait

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Bon atau Bien? Dua Kata yang Sering Tertukar, tetapi Tidak Pernah Sama

Minggu, 01/2/26 | 14:54 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Bon dan bien adalah dua kosakata dalam bahasa Prancis yang...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Berbagai Istilah Tempat Perbelanjaan dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 25/1/26 | 17:00 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Berbelanja merupakan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Suatu sore, adik perempuan saya mendatangi saya dan berkata “Uni sudah...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Minggu, 11/1/26 | 09:57 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Tiba-tiba warganet Indonesia heboh...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Onde-Onde dan Klepon: Perbedaan Budaya, Perbedaan Nama

Minggu, 11/1/26 | 09:39 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Tidak...

Dari Sawah ke Timeline: Kisah Kata “Ani-ani” yang Berubah Arti

Dari Sawah ke Timeline: Kisah Kata “Ani-ani” yang Berubah Arti

Minggu, 04/1/26 | 21:16 WIB

Oleh: Arum Rindu Sekar Kasih (Mahasiswa Program Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada)    Beberapa waktu lalu, publik dihebohkan dengan...

Berita Sesudah
Satu Tikungan Lagi

Renyah Bermedia Sosial

POPULER

  • Kelompok SAD Diduga Resahkan Warga, Tokoh Adat dan Aktivis Minta Oknum Diserahkan ke Hukum

    Kelompok SAD Diduga Resahkan Warga, Tokoh Adat dan Aktivis Minta Oknum Diserahkan ke Hukum

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pembangunan Jembatan Permanen dan Sabo Dam di Malalak Telan Anggaran Rp667 Miliar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penertiban PETI Terus Berjalan, Puluhan Terduga Pelaku Diamankan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aspirasi Warga Bayang Berbuah Listrik Gratis, 67 Rumah Teraliri BPBL

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024