Kamis, 05/11/26 | 06:25 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Menambang Cerita, Memasak Kenangan: Cerita dari Sawahlunto

Minggu, 20/10/24 | 16:49 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengunjungi Kota Sawahlunto. Awalnya, kunjungan ini hanya untuk menghadiri acara lamaran salah satu anggota keluarga. Namun, di tengah perjalanan, saya merasa ada yang kurang jika tidak sekaligus mengeksplorasi objek wisata tambang batu bara yang terkenal di kota ini.

Saya pun mengusulkan kepada rombongan agar kita mampir ke beberapa destinasi bersejarah yang tak hanya menawarkan pemandangan indah, tetapi juga menyimpan cerita panjang tentang perjuangan dan kejayaan tambang batu bara di masa lalu.

Awalnya, tidak semua anggota keluarga menyambut usulan saya dengan antusias. Namun, setelah mendengar cerita tentang betapa menariknya sejarah tambang batu bara di Sawahlunto, rasa penasaran mereka mulai tumbuh.

BACAJUGA

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Setelah Gelas Kosong

Minggu, 01/11/26 | 15:51 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Sepanjang Segelas Kopi Susu

Minggu, 25/10/26 | 17:48 WIB

Akhirnya, tanpa perlu banyak bujukan, semua setuju untuk mengunjungi beberapa museum yang ada di kota ini. Perjalanan yang tadinya hanya untuk satu acara pun berubah menjadi petualangan bersejarah yang tak terlupakan.

Perjalanan dimulai dari Museum Kereta Api Sawahlunto, tempat yang menjadi saksi bisu pentingnya peran transportasi dalam sejarah tambang batu bara. Lokomotif tua dan barang-barang peninggalan zaman kolonial di museum ini mengingatkan kita akan peran vital kereta api dalam menghubungkan tambang di pedalaman dengan pelabuhan di pesisir.

Patung Dr. Jan Willem Ijzerman, insinyur Belanda yang mendesain jalur kereta api ini, melambangkan inovasi dan kolaborasi antara teknologi dan sumber daya alam.

Selanjutnya, kita menuju Lubang Tambang Mbah Soero, tambang tua yang penuh dengan kisah perjuangan pekerja paksa di era kolonial. Lubang ini dinamai dari sosok Mbah Soero, mandor tambang yang dihormati karena kebijaksanaannya.

Sebelum memasuki lubang tambang, kita mengenakan perlengkapan keselamatan, mengingatkan kita akan kerasnya kondisi kerja di masa lalu. Di akhir perjalanan, kita mengunjungi Museum Goedang Ransoem, yang dulunya adalah dapur umum bagi pekerja tambang.

Di sinilah ribuan perut pekerja tambang dipertahankan hidupnya lewat sepiring nasi dan lauk sederhana. Rasanya, tanpa dapur raksasa ini, kerja keras di tambang mungkin akan menjadi misi mustahil. Saat melihat peralatan masak raksasa yang lebih mirip dengan wajan ukuran kolam renang, saya sempat berpikir, “Kalau di zaman sekarang, mungkin ini bisa jadi konten mukbang terbesar sepanjang masa!”

Dengan begitu, perjalanan kami di Sawahlunto pun berakhir. Kunjungan yang awalnya hanya untuk menghadiri lamaran keluarga, justru meninggalkan pelajaran tentang sejarah dan perjuangan. Siapa sangka, tambang tua dan dapur besar bisa membuat kita pulang dengan kepala penuh kisah dan hati yang hangat.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Gelar Rapat Teknis, Bawaslu Pariaman Satukan Persepsi Pengawasan

Berita Sesudah

Cerpen Lelaki Tampan yang Membawaku Pergi

Berita Terkait

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Setelah Gelas Kosong

Minggu, 01/11/26 | 15:51 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya kira wawancara selesai ketika kopi susu di gelas...

Suatu Hari di Sekolah

Sepanjang Segelas Kopi Susu

Minggu, 25/10/26 | 17:48 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Segelas kecil kopi susu ternyata bisa habis dalam satu...

Suatu Hari di Sekolah

Ikut Mendengar, Ikut Menyukai

Minggu, 11/10/26 | 16:10 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau/Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir-akhir ini, lagu anak-anak semakin akrab di telinga saya. Lagu-lagu yang...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kisah buku-buku itu rupanya terus berjalan. Dahulu, saya yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Halaman-Halaman yang Dibaca dengan Cara Berbeda

Minggu, 13/9/26 | 11:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang pengalaman memilih buku...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa hari belakangan, saya membeli beberapa buku cerita bergambar...

Berita Sesudah
Cerpen Lelaki Tampan yang Membawaku Pergi

Cerpen Lelaki Tampan yang Membawaku Pergi

POPULER

  • Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

    Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hujan Lebat Mengintai Sumbar hingga 10 November, Lima Daerah Masuk Kategori Siaga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Syafni Nola Putri Sambut Wali Nagari Definitif Aie Dingin, Harapkan Perubahan Setelah Lima Tahun Dipimpin Pj

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Paket Data Masih Aktif, Telkomsel Blokir Internet karena Tagihan Pulsa Darurat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PWI Dharmasraya Matangkan Program Kerja 2027, Jurnalis Masuk Sekolah Jadi Agenda Prioritas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cerpen “Pulanglah, Bujang” Karya Hasbunallah Haris dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026