Rabu, 17/6/26 | 18:44 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Taman Nasional sebagai “Rumah” dalam Wacana Pariwisata

Minggu, 14/7/24 | 10:00 WIB

Salah satu aspek persuasi yang ditemukan dalam promosi Taman Nasional adalah penggunaan metafora. Metafora merupakan bahasa kiasan yang digunakan untuk menyebut suatu hal dengan hal yang lain. Sebagai contoh, “rumah” digunakan dalam promosi pariwisata untuk menyebut Taman Nasional. Dalam konteks ini, “rumah” merupakan ranah sumber dan Taman Nasional adalah ranah target. Penggunaan “rumah” secara kognitif menunjukkan bagaimana pengguna bahasa membayangkan keberadaan Taman Nasional sebagai lokasi yang memberikan kenyamanan dan keamanan penghuni layaknya fungsi rumah yang kita tinggali. Oleh karena itu, fitur “kenyamanan” dan “keamanan” dalam makna literal “rumah” dipinjam sebagai metafora untuk menyatakan fungsi Taman Nasional. Lokasinya memberikan kenyamanan dan keamanan bagi satwa dan tumbuh-tumbuhan di dalamnya.

Dalam bahasa Inggris, “rumah” disebut sebagai home. Jika ditilik lebih lanjut, aspek kebahasaan dalam artikel-artikel promosi pariwisata, home sering diikuti dengan preposisi tertentu. Beberapa frasa nomina yang memuat home dan preposisinya antara lain home to, home for, home in, home of, dan home as. Frasa home to paling sering muncul dalam promosi pariwisata. Analisis empiris memanfaatkan piranti korpus Sketch Engine dengan melibatkan artikel-artikel promosi pariwisata dari situs web indonesia.travel.

Sebagai contoh, untuk Taman Nasional Alas Purwo, situs web Indonesia.travel menuliskan “Aside from being home to some of Indonesia’s rare and endangered species, Alas Purwo National Park is much more than a regular nature reserve” dalam promosinya. Alas Purwo dipromosikan sebagai “rumah” bagi spesies langka dan hampir punah. Metafora “rumah” memberikan kesan kepada pembaca bahwa Alas Purwo merupakan habitat alami yang memungkinkan satwa langka dan hampir punah tetap hidup. Selain itu, promosi pariwisata memberikan penekanan lebih melalui piranti komparatif much more than a regular nature reserve untuk memproyeksikan kualitas konservasi Taman Nasional Alas Purwo. Dengan memanfaatkan aspek komparasi. Pembuat artikel promosi berharap bahwa pembaca akan memutuskan mengunjungi Alas Purwo berdasarkan aspek konservasi yang ditonjolkan dalam promosinya.

Penekanan sifat “rumah” juga ditemukan dengan aspek superlatif dalam promosi Taman Nasional Alas Purwo sebagai berikut, “The Park is considered to have the most natural tropical rainforests and one of the oldest in Indonesia”. Dengan menyebut Alas Purwo sebagai lokasi yang paling alamiah dan paling tua hutan hujan tropisnya di Indonesia, pembaca akan merasa penasaran dan memberikan reaksi positif terhadap Taman Nasional Alas Purwo. Secara tidak langsung, para pembaca situs web promosi pariwisata dilibatkan sebagai anggota dari “rumah” yang ditawarkan. Dengan demikian, “rumah” dalam wacana promosi tidak hanya berpenghuni satwa dan tumbuh-tumbuhan namun juga para turis yang akan mengunjungi lokasi tersebut.

BACAJUGA

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Minggu, 14/6/26 | 22:37 WIB
Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Sapardi dan Seni Berdamai dengan Kefanaan

Minggu, 14/6/26 | 22:24 WIB

Penggunaan metafora “rumah” ternyata juga lekat dengan alam liar yang secara repetitif ditemukan dalam promosi pariwisata. Sebagai contoh, Taman Nasional Ujung Kulon disebut sebagai home to many other special wildlidfe dan Taman Nasional Komodo sebagai home for magnificent nature and fascinating wildlife. Penekanan wildlife atau margasatwa untuk mempromosikan kehidupan satwa yang liar tanpa campur tangan manusia dalam habitat alaminya. Keberadaan satwa dan tumbuh-tumbuhan endemik, liar, dan langka diposisikan sebagai daya tarik utama bagi calon turis.

Halaman 2 dari 3
Prev123Next
Tags: #wacana pariwisataArina Isti'anah
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Mengenal Wacana Regulator Hortatori

Berita Sesudah

Memimpin di Era Disrupsi

Berita Terkait

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Minggu, 14/6/26 | 22:37 WIB

Oleh: Satria Efendi Tuanku Kuniang (Ulama dan Tokoh Nahdlatul Ulama Sumatera Barat)   Nahdlatul Ulama (NU) sedang berada di sebuah...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Sapardi dan Seni Berdamai dengan Kefanaan

Minggu, 14/6/26 | 22:24 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran)   Pada masa ini, ada puisi yang justru berbahaya karena tampak...

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Minggu, 14/6/26 | 22:16 WIB

Oleh: Nayla Aprilia (Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Universitas Andalas, Padang)   Di tengah masyarakat, penampilan fisik sering kali menjadi dasar...

Batu dan Zaman

Memakanai Ulang Kata “Kecubung” dalam Dongeng

Minggu, 14/6/26 | 21:59 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Kecubung (Datura metel) merupakan sejenis tumbuhan dengan bunga...

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Minggu, 31/5/26 | 23:50 WIB

Oleh: Najwa Maliha Zharfa (Mahasiswa Prodi S1 Akuntansi dan Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia Universitas Andalas)   Siapa yang tidak mengenal...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

Minggu, 31/5/26 | 23:45 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Berita Sesudah
Meningkatkan Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan (2)

Memimpin di Era Disrupsi

Discussion about this post

POPULER

  • PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Ganti Engkau, Kau, Dia, dan Ia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Pendokumentasian” dan Cultural Tourism

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Pintar, Cerdas, Pandai, Cakap, Cerdik, dan Mahir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026