Senin, 09/3/26 | 12:39 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Perbedaan Awalan ber- dan me-

Minggu, 28/4/24 | 10:20 WIB

Dari contoh-contoh kalimat sebelumnya, kita bisa memahami bahwa kalimat pertama dari setiap kata tidak membutuhkan objek, sedangkan kalimat kedua dari setiap kata membutuhkan objek. Objek yang ada di setiap kalimat kedua adalah pemandangan, pakaian, kain, mahasiswanya, gaya rambutnya, dan meja.

2. Perbedaan tujuan tindakan pelaku di dalam kalimat

Setelah memahami penjelasan nomor satu, kita bisa menganalisisnya lebih lanjut bahwa aktivitas yang berawalan ber- atau me- bisa menentukan ke mana tujuan dari kegiatan yang dilakukan pelaku atau subjek kalimat tersebut. Ketika aktivitas yang berawalan ber- tidak memiliki objek, kita bisa menarik kesimpulan bahwa aktivitas yang dilakukan oleh pelaku (subjek) berlaku atau bertujuan untuk dirinya sendiri. Hal ini sangat jelas terlihat dari kata berfoto yang biasa kita kenal dengan istilah selfie, begitu pun dengan kata berjemur, berendam, belajar, berubah, dan bergeser. Semua aktivitas ini dilakukan oleh pelaku terhadap dirinya sendiri. Ini sangat berbeda dengan aktivitas yang berawalan me-. Pelaku (subjek) dalam kalimat tersebut melakukan suatu perbuatan terhadap objeknya, bukan terhadap dirinya sendiri. Hal ini sangat terlihat jelas dalam kalimat yang menggunakan kata memfoto, menjemur, merendam, mengajar, mengubah, dan menggeser.

3. Perbedaan deskripsi dan aksi

BACAJUGA

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Minggu, 01/3/26 | 14:29 WIB
Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Berbagai Istilah Tempat Perbelanjaan dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 25/1/26 | 17:00 WIB

Sebelum masuk ke analisis ini, perhatikanlah kalimat-kalimat berikut!

  1. Dia berbaju merah.
  2. Dia memakai baju merah.
  3. Perempuan yang bersepatu putih itu adalah kakak saya.
  4. Perempuan yang memakai sepatu putih itu adalah kakak saya.

Apa perbedaannya? Sepintas, kalimat (a) dan (b), begitu pun (c) dan (d) terasa sama. Akan tetapi, kalimat-kalimat tersebut memiliki nuansa yang berbeda. Kalimat (a) dan (c) bisa kita gunakan dalam konteks deskripsi. Artinya, di dalam kalimat (a), baju merah tersebut sudah melekat di tubuh subjek dia. Hal ini juga berlaku untuk kalimat (c), sepatu putih itu sudah terpasang di kaki subjek perempuan itu. Akan tetapi, kalimat (b) dan (d) memiliki makna yang lebih luas. Sesungguhnya, kalimat (d) juga bisa dikategorikan sebagai deskripsi. Namun demikian, kalimat (b) dan (d) memiliki nuansa lain selain deskripsi, yaitu ‘aksi atau proses’. Artinya, di dalam kalimat (b), subjek dia sedang melakukan kegiatan atau aksi memasang baju yang berwarna merah. Makna ini tidak terdapat di dalam kalimat (a). Untuk lebih jelasnya, kita bisa membaca contoh berikut:

Saya sarapan pada pukul 08.00 pagi. Setelah itu, saya bersiap-siap pergi ke kampus. Setelah memakai jaket, saya memakai/memasang sepatu.

Kalimat ini tidak bisa diganti menjadi: Setelah memakai jaket, saya bersepatu.

Hal ini terjadi karena kata ber- di dalam kalimat tersebut hanya berfungsi sebagai deskripsi, bukan aktivitas yang memperlihatkan suatu aksi. Oleh sebab itu, ketika kita akan mendeskripsikan seseorang dengan menggunakan ber- kita perlu menambah keterangan lain. Contohnya sebagai berikut:

  1. Dia berbaju.
  2. Dia berbaju biru / Dia berbaju tebal.
  3. Dia tidak bercelana.
  4. Dia tidak bercelana panjang / Dia tidak bercelana pendek / Dia tidak bercelana hitam.
Halaman 4 dari 5
Prev1...345Next
Tags: #Reno Wulan Sari
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Kunjungan Wisatawan ke Sumbar Meningkat, Program Pariwisata Berbasis Masyarakat Dinilai Layak Dipertahankan

Berita Sesudah

Memaknai Ulang Istilah ‘Kampung Halaman’ dalam Novel Apfelkuchen und Baklava

Berita Terkait

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

Minggu, 08/3/26 | 23:23 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan Prodi S2 & S3 Linguistik Universitas Andalas) Orang Minangkabau...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Minggu, 01/3/26 | 14:29 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Di laman Klinik...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa minggu terakhir dunia digital dihebohkan oleh...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Setelah kapitil, masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan definisi...

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Bon atau Bien? Dua Kata yang Sering Tertukar, tetapi Tidak Pernah Sama

Minggu, 01/2/26 | 14:54 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Bon dan bien adalah dua kosakata dalam bahasa Prancis yang...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Berbagai Istilah Tempat Perbelanjaan dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 25/1/26 | 17:00 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Berbelanja merupakan...

Berita Sesudah
Gaya Bahasa pada Lagu Satu-Satu oleh Idgitaf

Memaknai Ulang Istilah ‘Kampung Halaman’ dalam Novel Apfelkuchen und Baklava

Discussion about this post

POPULER

  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKDP Sumbar Perkuat Silaturahmi Perantau Pariaman Lewat Buka Puasa Bersama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • BPASN Perkuat Pemecatan ASN Dharmasraya Anike Maulana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Hierarki Satuan Kebahasaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polres Dharmasraya Bagi-bagi 200 Paket Takjil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024