Kamis, 24/9/26 | 11:41 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI

Label Lelaki Plastik

Minggu, 08/10/23 | 10:40 WIB

Lastry Monika

(Kolumnis Rubrik Renyah)

Ketika pelesiran di media sosial, terkadang membuat kita tersesat ke konten yang bisa jadi tidak kita minati. Akan tetapi, begitulah algoritma media sosial dengan cara kerja yang agak membingungkan. Suatu kali, ketika asyik menggulir-gulir layar telepon pintar, saya berhenti di sebuah konten yang membandingkan atlet sepak bola dengan idola K-pop asal Korea Selatan.

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

“Nominalisasi” dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis

Minggu, 20/9/26 | 18:23 WIB
Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Mengenal Polisemi dan Homonimi dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 20/9/26 | 15:43 WIB

Konten tersebut menyorot cedera yang dialami oleh keduanya. Salah seorang atlet sepak bola ditampilkan mengalami cedera setelah terkena tendangan keras dari pesepak bola lain. Tendangan serupa itu memungkinkan ia mengalami cedera patah tulang yang parah. Di samping itu, konten tersebut juga menampilkan seorang idola pria Korea Selatan yang terpeleset dari tangga ketika tampil di atas panggung.

Pasalnya, perbandingan kemungkinan cedera yang ditampilkan dalam konten bertujuan untuk meremehkan atau mencemooh salah satunya. Oleh sebab itu, tidak mengherankan pula kolom komentar dipenuhi oleh komentar-komentar yang membuat pembaca dapat berdecak keheranan.

Komentar-komentar tersebut menunjukkan betapa susahnya seseorang dalam mengendalikan jempolnya. Komentar yang menyebut ‘lelaki plastik’ tidak hanya satu, dua, atau tiga yang bermunculan. Label ini ditujukan kepada idola K-pop yang terpeleset. Lebih mengherankannya, label ini kemudian seolah ditujukan secara general untuk semua idola pria dalam per-K-pop-an. Dalam pendapat yang dikemukakan terdapat tendensi para idola ini jauh dari kata maskulin. Sebab, selain dianggap melakukan operasi plastik, mereka berdandan, memakai warna pink, dan bertingkah imut.

Memang tidak dapat pula dipungkiri bahwa operasi plastik bukan tidak mungkin dilakukan oleh sebagian idola pria tersebut. Hal ini tergolong lazim dilakukan bahkan oleh mereka yang bukan idola di Korea Selatan sana. Lagipula, keputusan untuk operasi plastik tidak selalu berdasarkan kemauan para idola, tetapi berdasar pada kemauan dan tuntutan dari agensi yang menaunginya. Tampil sempurna seolah menjadi tuntutan yang perlu dipenuhi.

Sebagaimana profesi pesepak bola, profesi idola juga berhasil dicapai dengan kerja keras, bukan tampilan menawan belaka. Sebagaimana cedera berat yang dialami pesepak bola, para idola juga memiliki kemungkinan mengalami cedera yang sama beratnya. Tarian yang yang ditampilkan di atas panggung tidak sekadar mengayunkan kaki ke kiri dan ke kanan. Sebagian dari tarian bahkan tergolong sulit dan menuntut kekuatan fisik.

Seorang pesepak bola barangkali telah mengawali kariernya dengan menjadi bagian dari akademi sepak bola sedari belia. Hal yang sama juga dilakukan oleh seseorang yang berkeinginan menjadi idola. Sejak di sekolah menengah, mereka tergabung ke dalam sekolah seni di samping mulai berlatih bertahun-tahun sebagai trainee di sebuah agensi. Menjadi idola dan memiliki banyak penggemar bukanlah suatu hal yang didapat secara instan. Hal itu sama saja dengan profesi lainnya yang diinginkan oleh setiap orang.

Melabeli ‘lelaki plastik’ dengan tujuan merendahkan memang membikin berdecak keheranan. Melakukan operasi plastik, berdandan, memakai warna pink, dan bertingkah imut saya kira tidak perlu dinilai sebagai ancaman yang dapat menggores kemaskulinan seseorang. Namun, hal ini barangkali terkecuali bagi orang-orang dengan sisi maskulin yang memang mudah terluka.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Jonson Effendi dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Berita Sesudah

Seleksi ASN 2023: Ijazah Salah, Otomatis Gagal!

Berita Terkait

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

“Nominalisasi” dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis

Minggu, 20/9/26 | 18:23 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Nominalisasi adalah proses mengubah kata kerja menjadi kata...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Mengenal Polisemi dan Homonimi dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 20/9/26 | 15:43 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Pernahkah Anda mendengar kalimat "kepala sekolah itu sedang memegang kepalanya...

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Menyusuri Luka Kanak-kanak dalam Kumpulan Puisi “Belajar Menanggalkan Bulan”

Minggu, 13/9/26 | 22:05 WIB

Oleh: Rosidatul Arifah (Alumni S1 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)  Awal September 2026 ini memberikan angin ceria pada...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Humor Profesor Linguistik

Minggu, 13/9/26 | 21:55 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Linguistik dan Manajer Akademik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) “Mengapa orang yang pensiun...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Halaman-Halaman yang Dibaca dengan Cara Berbeda

Minggu, 13/9/26 | 11:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang pengalaman memilih buku...

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Modernisme dan Dunia yang Dinamis dalam Karya Sastra

Minggu, 13/9/26 | 09:35 WIB

Oleh: Maharani Syifa Ramadhan (Alumni Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Mahasiswa Program Magister Sastra Kontemporer, Universitas Padjajaran)   Modernisme...

Berita Sesudah
Penggambaran Perempuan Muda dalam Serial Hello, My Twenties! Season 1

Seleksi ASN 2023: Ijazah Salah, Otomatis Gagal!

Discussion about this post

POPULER

  • Petinju dan Peninju; Manakah yang Benar?

    Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 212 Football Club Juarai Liga PHRI 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026