Kamis, 05/11/26 | 11:32 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI

Label Lelaki Plastik

Minggu, 08/10/23 | 10:40 WIB

Lastry Monika

(Kolumnis Rubrik Renyah)

Ketika pelesiran di media sosial, terkadang membuat kita tersesat ke konten yang bisa jadi tidak kita minati. Akan tetapi, begitulah algoritma media sosial dengan cara kerja yang agak membingungkan. Suatu kali, ketika asyik menggulir-gulir layar telepon pintar, saya berhenti di sebuah konten yang membandingkan atlet sepak bola dengan idola K-pop asal Korea Selatan.

Konten tersebut menyorot cedera yang dialami oleh keduanya. Salah seorang atlet sepak bola ditampilkan mengalami cedera setelah terkena tendangan keras dari pesepak bola lain. Tendangan serupa itu memungkinkan ia mengalami cedera patah tulang yang parah. Di samping itu, konten tersebut juga menampilkan seorang idola pria Korea Selatan yang terpeleset dari tangga ketika tampil di atas panggung.

BACAJUGA

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Setelah Gelas Kosong

Minggu, 01/11/26 | 15:51 WIB
Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Paradoks Representasi Subaltern dalam Novel Saman

Minggu, 01/11/26 | 12:50 WIB

Pasalnya, perbandingan kemungkinan cedera yang ditampilkan dalam konten bertujuan untuk meremehkan atau mencemooh salah satunya. Oleh sebab itu, tidak mengherankan pula kolom komentar dipenuhi oleh komentar-komentar yang membuat pembaca dapat berdecak keheranan.

Komentar-komentar tersebut menunjukkan betapa susahnya seseorang dalam mengendalikan jempolnya. Komentar yang menyebut ‘lelaki plastik’ tidak hanya satu, dua, atau tiga yang bermunculan. Label ini ditujukan kepada idola K-pop yang terpeleset. Lebih mengherankannya, label ini kemudian seolah ditujukan secara general untuk semua idola pria dalam per-K-pop-an. Dalam pendapat yang dikemukakan terdapat tendensi para idola ini jauh dari kata maskulin. Sebab, selain dianggap melakukan operasi plastik, mereka berdandan, memakai warna pink, dan bertingkah imut.

Memang tidak dapat pula dipungkiri bahwa operasi plastik bukan tidak mungkin dilakukan oleh sebagian idola pria tersebut. Hal ini tergolong lazim dilakukan bahkan oleh mereka yang bukan idola di Korea Selatan sana. Lagipula, keputusan untuk operasi plastik tidak selalu berdasarkan kemauan para idola, tetapi berdasar pada kemauan dan tuntutan dari agensi yang menaunginya. Tampil sempurna seolah menjadi tuntutan yang perlu dipenuhi.

Sebagaimana profesi pesepak bola, profesi idola juga berhasil dicapai dengan kerja keras, bukan tampilan menawan belaka. Sebagaimana cedera berat yang dialami pesepak bola, para idola juga memiliki kemungkinan mengalami cedera yang sama beratnya. Tarian yang yang ditampilkan di atas panggung tidak sekadar mengayunkan kaki ke kiri dan ke kanan. Sebagian dari tarian bahkan tergolong sulit dan menuntut kekuatan fisik.

Seorang pesepak bola barangkali telah mengawali kariernya dengan menjadi bagian dari akademi sepak bola sedari belia. Hal yang sama juga dilakukan oleh seseorang yang berkeinginan menjadi idola. Sejak di sekolah menengah, mereka tergabung ke dalam sekolah seni di samping mulai berlatih bertahun-tahun sebagai trainee di sebuah agensi. Menjadi idola dan memiliki banyak penggemar bukanlah suatu hal yang didapat secara instan. Hal itu sama saja dengan profesi lainnya yang diinginkan oleh setiap orang.

Melabeli ‘lelaki plastik’ dengan tujuan merendahkan memang membikin berdecak keheranan. Melakukan operasi plastik, berdandan, memakai warna pink, dan bertingkah imut saya kira tidak perlu dinilai sebagai ancaman yang dapat menggores kemaskulinan seseorang. Namun, hal ini barangkali terkecuali bagi orang-orang dengan sisi maskulin yang memang mudah terluka.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Jonson Effendi dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Berita Sesudah

Seleksi ASN 2023: Ijazah Salah, Otomatis Gagal!

Berita Terkait

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Setelah Gelas Kosong

Minggu, 01/11/26 | 15:51 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya kira wawancara selesai ketika kopi susu di gelas...

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Paradoks Representasi Subaltern dalam Novel Saman

Minggu, 01/11/26 | 12:50 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

Minggu, 01/11/26 | 12:42 WIB

Oleh: Tri Sutrisman (Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas) Bagaimana jika sebuah laboratorium yang seharusnya digunakan untuk menyelamatkan...

Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

Minggu, 01/11/26 | 12:26 WIB

Oleh: Rizky Amelya Furqan (Dosen Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas) Matilah kau mati, kau akan lahir...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Bahasa Militer di Kalangan Gen Z

Minggu, 25/10/26 | 22:30 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Linguistik dan Manajer Akademik FIB Universitas Andalas) Di ruang kelas, saya mendapatkan mahasiswa...

Dari Sagu ke Pasar Digital: Peluang UMKM Lokal Menembus Batas

Dari Sagu ke Pasar Digital: Peluang UMKM Lokal Menembus Batas

Minggu, 25/10/26 | 20:14 WIB

Oleh: Maryatul Kuptiah (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Di Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki potensi alam...

Berita Sesudah
Penggambaran Perempuan Muda dalam Serial Hello, My Twenties! Season 1

Seleksi ASN 2023: Ijazah Salah, Otomatis Gagal!

Discussion about this post

POPULER

  • Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

    Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Modalitas dalam Teks atau Wacana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Relasi Kohesi dan Fungsinya dalam Wacana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Syafni Nola Putri Sambut Wali Nagari Definitif Aie Dingin, Harapkan Perubahan Setelah Lima Tahun Dipimpin Pj

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PWI Dharmasraya Matangkan Program Kerja 2027, Jurnalis Masuk Sekolah Jadi Agenda Prioritas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hujan Lebat Mengintai Sumbar hingga 10 November, Lima Daerah Masuk Kategori Siaga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Paket Data Masih Aktif, Telkomsel Blokir Internet karena Tagihan Pulsa Darurat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026