Sabtu, 24/10/26 | 10:33 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Benda Serbaguna Itu adalah Gantungan Kunci

Minggu, 01/10/23 | 12:14 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Gantungan kunci boleh dibilang menjadi benda penting. Ia akan menjadi paduan yang klop saat dipasangkan ke kunci atau tas. Tidak hanya menambah nilai keindahan tapi juga bermanfaat demi keselamatan. Gantungan kunci dapat pula dimasukan dalam kategori suvenir. Tidak berlebihan pula kalau gantungan kunci dapat menjadi benda serbaguna.

Sebagai suvenir, saya kira gantungan kunci menjadi pilihan favorit. Hal itu disebabkan beberapa keunggulan yang menjadikannya populer di kalangan wisatawan. Paling tidak ada beberapa alasan yang menjadikannya populer, seperti ukuran yang kecil dan ringan (mudah dibawa), harga terjangkau, beragam desain, dan terpenting menggambarkan identitas lokal daerah tertentu (biasanya daerah tempat gantungan kunci tersebut dijual). Tentu saja masih banyak alasan lainnya.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Ikut Mendengar, Ikut Menyukai

Minggu, 11/10/26 | 16:10 WIB
Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB

Jika mau dikerucutkan alasan-alasan tersebut, saya menyimpulkan ada dua alasan kuat menjadikan gantungan kunci sebagai suvenir paling dicari, yaitu ukuran dan identitas lokal. Ukuran kecil menjadikannya mudah dibawa dan tidak memerlukan ruang banyak untuk menyimpannya. Hal ini tentu saja menguntungkan si pembeli. Sedangkan desainnya yang menggambarkan identitas lokal mencerminkan identitas budaya atau geografis dari tempat yang dikunjungi.

Saya yakin gantungan kunci menjadi benda paling banyak dijadikan cenderamata. Hal ini dapat dibuktikan dengan sering kita temui desain gantungan kunci mencirikan identitas budaya atau geografis suatu daerah. Paling tidak, saya pernah melihat gantungan kunci miniatur Jam Gadang, Borobudur, Prambanan, Monas, patung Merlion, dan menara Petronas. Tentu masih banyak lagi lainnya.

Benda kecil ini juga memiliki dampak besar saat disatukan dengan kunci, entah itu kunci rumah, lemari, atau kendaraan. Bagi saya kunci kendaraan selalu menggunakan gantungan kunci. Bermacam kegunaanya, mulai dari sebagai pembeda kunci hingga wadah untuk menggantungkannya. Kunci kendaraan terutama roda dua kebanyakan memiliki bentuk yang sama, gantungan kuncilah yang menjadi pembeda.

Pada suatu momen, saya hampir terlambat dikarenakan susah untuk membuka kunci motor. Hal itu dikarenakan salah mengambil kunci motor. Jenis motor dari pabrikan membuat model kuncinya pun sama. Malangnya ketiga motor tersebut tidak menggunakan gantungan kunci, tentu membuat bingung untuk memilihnya. Akhirnya sebagai pembeda saya memberikan gantungan kunci dengan desain yang berbeda. Paling tidak cara ini cukup ampuh, tentu membuat waktu lebih efektif dan efesien.

Menariknya, saya melihat salah satu video pendek tentang gantungan kunci yang memiliki teknologi canggih di youtube. Ternyata di gantungan kunci itu terdapat alat pelacak atau gps. Jika gantungan kunci itu dipadukan dengan kunci kendaraan tentu lebih bagus. Terkadang kunci kendaraan menjadi benda yang sulit ditemukan ketika hendak diperlukan. Dengan adanya teknologi gps menjadi mudah untuk mencarinya.  Dengan begitu, benda kecil ini banyak memberikan manfaat dengan keunikan dan keindahannya.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Senja di Mata Mona” Karya Muttaqin Kholis Ali dan Ulasannya oleh M. Adioska, M.Pd.

Berita Sesudah

Perbedaan Kata Toksik dan Virulen

Berita Terkait

Suatu Hari di Sekolah

Ikut Mendengar, Ikut Menyukai

Minggu, 11/10/26 | 16:10 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau/Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir-akhir ini, lagu anak-anak semakin akrab di telinga saya. Lagu-lagu yang...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kisah buku-buku itu rupanya terus berjalan. Dahulu, saya yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Halaman-Halaman yang Dibaca dengan Cara Berbeda

Minggu, 13/9/26 | 11:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang pengalaman memilih buku...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa hari belakangan, saya membeli beberapa buku cerita bergambar...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah) Belajar sesuatu yang baru ternyata bukan hanya soal seberapa...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Belajar Lagi dari Tombol Undo

Minggu, 02/8/26 | 18:43 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Beberapa minggu terakhir ini, ada satu kegiatan baru yang...

Berita Sesudah
Perbedaan Kata Toksik dan Virulen

Perbedaan Kata Toksik dan Virulen

Discussion about this post

POPULER

  • Diduga Timbun dan Jual Kembali Solar Subsidi, Dua Pria di Sijunjung Diamankan Polisi

    Diduga Timbun dan Jual Kembali Solar Subsidi, Dua Pria di Sijunjung Diamankan Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perluasan Area Perkebunan, Kabupaten Solok Siap jadi Lumbung Kopi dan Kakao Nasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa 5.000 Hektare Tanah Ulayat di Dharmasraya Digugat, Penggugat Tuntut Ganti Rugi Rp1,3 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidak Bupati Dharmasraya, Lahan dan Hutan Terbakar Sudah Ditanami Sawit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Apresiasi Kontribusi Alumni IKIP Padang/UNP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbaiki Akses Warga, Pemkab Dharmasraya Ganti Lantai Dua Jembatan Bailey dengan Baja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pelantikan DPD KNPI, Bupati Dharmasraya Ajak Pemuda Bersinergi dengan Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026