Kamis, 23/7/26 | 07:51 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Benda Serbaguna Itu adalah Gantungan Kunci

Minggu, 01/10/23 | 12:14 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Gantungan kunci boleh dibilang menjadi benda penting. Ia akan menjadi paduan yang klop saat dipasangkan ke kunci atau tas. Tidak hanya menambah nilai keindahan tapi juga bermanfaat demi keselamatan. Gantungan kunci dapat pula dimasukan dalam kategori suvenir. Tidak berlebihan pula kalau gantungan kunci dapat menjadi benda serbaguna.

Sebagai suvenir, saya kira gantungan kunci menjadi pilihan favorit. Hal itu disebabkan beberapa keunggulan yang menjadikannya populer di kalangan wisatawan. Paling tidak ada beberapa alasan yang menjadikannya populer, seperti ukuran yang kecil dan ringan (mudah dibawa), harga terjangkau, beragam desain, dan terpenting menggambarkan identitas lokal daerah tertentu (biasanya daerah tempat gantungan kunci tersebut dijual). Tentu saja masih banyak alasan lainnya.

BACAJUGA

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB
Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Jika mau dikerucutkan alasan-alasan tersebut, saya menyimpulkan ada dua alasan kuat menjadikan gantungan kunci sebagai suvenir paling dicari, yaitu ukuran dan identitas lokal. Ukuran kecil menjadikannya mudah dibawa dan tidak memerlukan ruang banyak untuk menyimpannya. Hal ini tentu saja menguntungkan si pembeli. Sedangkan desainnya yang menggambarkan identitas lokal mencerminkan identitas budaya atau geografis dari tempat yang dikunjungi.

Saya yakin gantungan kunci menjadi benda paling banyak dijadikan cenderamata. Hal ini dapat dibuktikan dengan sering kita temui desain gantungan kunci mencirikan identitas budaya atau geografis suatu daerah. Paling tidak, saya pernah melihat gantungan kunci miniatur Jam Gadang, Borobudur, Prambanan, Monas, patung Merlion, dan menara Petronas. Tentu masih banyak lagi lainnya.

Benda kecil ini juga memiliki dampak besar saat disatukan dengan kunci, entah itu kunci rumah, lemari, atau kendaraan. Bagi saya kunci kendaraan selalu menggunakan gantungan kunci. Bermacam kegunaanya, mulai dari sebagai pembeda kunci hingga wadah untuk menggantungkannya. Kunci kendaraan terutama roda dua kebanyakan memiliki bentuk yang sama, gantungan kuncilah yang menjadi pembeda.

Pada suatu momen, saya hampir terlambat dikarenakan susah untuk membuka kunci motor. Hal itu dikarenakan salah mengambil kunci motor. Jenis motor dari pabrikan membuat model kuncinya pun sama. Malangnya ketiga motor tersebut tidak menggunakan gantungan kunci, tentu membuat bingung untuk memilihnya. Akhirnya sebagai pembeda saya memberikan gantungan kunci dengan desain yang berbeda. Paling tidak cara ini cukup ampuh, tentu membuat waktu lebih efektif dan efesien.

Menariknya, saya melihat salah satu video pendek tentang gantungan kunci yang memiliki teknologi canggih di youtube. Ternyata di gantungan kunci itu terdapat alat pelacak atau gps. Jika gantungan kunci itu dipadukan dengan kunci kendaraan tentu lebih bagus. Terkadang kunci kendaraan menjadi benda yang sulit ditemukan ketika hendak diperlukan. Dengan adanya teknologi gps menjadi mudah untuk mencarinya.  Dengan begitu, benda kecil ini banyak memberikan manfaat dengan keunikan dan keindahannya.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Senja di Mata Mona” Karya Muttaqin Kholis Ali dan Ulasannya oleh M. Adioska, M.Pd.

Berita Sesudah

Perbedaan Kata Toksik dan Virulen

Berita Terkait

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu waktu, saya dan tim melakukan penelitian lapangan di...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Setelah beberapa kali memperhatikan slogan-slogan di rumah makan, saya mulai menyadari bahwa tulisan-tulisan itu...

Tentang Kipas Angin dan Perbedaan yang Sederhana

Minggu, 28/6/26 | 20:08 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Tinggal bersama orang lain dalam satu ruang yang sama sering kali memperlihatkan hal-hal...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Selalu Ada Jalan Kembali

Minggu, 21/6/26 | 19:40 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Memulai kembali kebiasaan membaca ternyata menghadirkan pengalaman yang berbeda dari yang saya bayangkan. Saya...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Belajar dari Halaman Pertama

Minggu, 07/6/26 | 18:28 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa waktu terakhir, saya sering memandangi tumpukan buku yang belum selesai dibaca. Sebagian sudah...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Belakangan ini, saya menyadari bahwa kehidupan modern sering melekat pada benda-benda kecil yang selalu...

Berita Sesudah
Perbedaan Kata Toksik dan Virulen

Perbedaan Kata Toksik dan Virulen

Discussion about this post

POPULER

  • Diksi Cantik sebagai Identitas Perempuan di Instagram

    Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKB Resmi Lantik Pengurus DPC se-Indonesia, Ribuan Kader Ucapkan Sumpah Jabatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cerpen “Suluh Jo Siampa” Karya Linda Tanjung dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harimau vs Singa, Siapa yang Lebih Kuat? Ini Fakta Sains dan Kasus Nyatanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-Puisi Linda Tanjung dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Suka yang Tidak Sederhana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026