Minggu, 19/4/26 | 00:12 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Karena Kamu Adalah Perempuan!

Minggu, 09/7/23 | 05:12 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

“Jangan jadikan ‘karena kamu adalah perempuan’ sebagai alasan untuk apapun. Jangan pernah.” Tegas Chimamanda Ngozi Adichie lewat bukunya yang berjudul A Feminist Manifesto. Andai orang tua kita membaca buku yang cukup kecil dan tipis ini, mungkin saja mereka tak akan pernah menerapkan ‘peran gender’ yang amat timpang antara anak perempuan dengan anak laki-lakinya.

Hanya karena seseorang terlahir perempuan, ia diharuskan dan dilarang untuk melakukan sesuatu. Di waktu kecil ketika rumah saya berantakan, seseorang berkata, “Anak gadis kok rumahnya berantakan?” Kata-kata yang mungkin tidak akan pernah ditujukan pada saudara laki-laki saya meski mereka penyebab rumah menjadi berantakan.

Di waktu kecil pula, saya mendapat teguran, “Tidak elok anak perempuan duduk seperti itu di hadapan saudara laki-lakinya!” Teguran yang mungkin pula tidak akan pernah diterima oleh saudara laki-laki saya meskipun mereka duduk dengan berbagai macam gaya.

BACAJUGA

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

Suatu hari ketika ibu saya sedang tidak bisa ke pasar, sayalah yang ia suruh untuk berbelanja. Di saat itu saya memprotes, “Kenapa harus saya? Saudara yang lain kan ada dan juga tidak sedang punya kesibukan lain?” Ibu saya tidak menjawab, tetapi seseorang menyela, “Kalau dia yang pergi ke pasar, memangnya dia pakai rok? (Menegaskan bahwa laki-laki tidak seharusnya ke pasar).” “Mau ditaruh di mana mukanya!” Tambahnya.

Pembicaraan itu tampak berlangsung serius dan penuh ketegangan. Sebenarnya tidak, jawaban itu dilontarkan sebagai bentuk candaan. Akan tetapi buat saya tetap mengesalkan. Aduh, kenapa tulisan ini malah tampak seperti curhat, ya?

Begitulah peran gender diterapkan dalam pengasuhan oleh sebagian orang tua. Bahkan kita sebagai saudara perempuan pun kadang ikut melanggengkannya. Beberapa kali saya menyaksikan anak laki-laki yang selalu dilayani ini itu oleh saudara perempuannya, entah itu adik atau kakaknya.

Suatu pagi seorang anak laki-lagi merengek lapar. Di meja makan sudah tersedia lauk dan sayur yang baru saja selesai di masak, tentu saja oleh kakak perempuannya. Tetapi anak laki-laki itu mengaku tidak suka makanan tersebut dan menginginkan telur dadar. Dari usianya yang sekitaran 10 tahun, saya kira tak begitu sulit untuk anak seusia itu untuk memasak telur dadar.

Di suatu waktu, saya menyaksikan seorang anak laki-laki berkali-kali merengek minta dibuatkan mi goreng instan kepada neneknya. Oh ya, anak laki-laki itu bahkan lebih besar dari anak laki-laki sebelumnya. Akan tetapi rupanya sekadar untuk memanaskan air pembuat mi instan ia tidak bisa.

Apakah ada keuntungan yang didapatkan dari selalu melayani anak laki-laki dari ia bayi hingga dewasa? Saya yakin jawabannya adalah ‘tidak’. Perlakuan serupa itu hanya akan membuatnya gagal menyelamatkan diri sendiri karena tidak mampu melakukan hal-hal dasar yang perlu dimiliki manusia untuk bertahan hidup. Setelahnya, terbentuklah bayi dewasa yang tidak bisa melakukan apa-apa.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Sensasi Naik KTX, Kereta Api Cepat di Korea Selatan

Berita Sesudah

Semua yang Berkaitan dengan “Hati”

Berita Terkait

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Berita Sesudah
Petinju dan Peninju; Manakah yang Benar?

Semua yang Berkaitan dengan “Hati”

Discussion about this post

POPULER

  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harimau vs Singa, Siapa yang Lebih Kuat? Ini Fakta Sains dan Kasus Nyatanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Bahasa Indonesia Formal dan Informal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Tanda Hubung (-) dan Tanda Pisah (—)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026