Kamis, 11/12/25 | 00:48 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Persaingan Perempuan Paling Kuno dalam Everything Everywhere All at Once

Minggu, 19/3/23 | 11:28 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id)

 

Bila boleh jujur, saya ingin berkata bahwa saya merasa agak bingung ketika menonton Everything Everywhere All at Once, film absurd yang paling banyak memenangkan kategori Oscar di tahun ini. Setidaknya, rasa bingung itu terasa di separuh akhir bagian pertama (Everything) dan separuh awal bagian kedua (Everywhere).

Anehnya, meskipun bingung saya tetap menonton film ini sampai selesai sambil berusaha meyakin-yakinkan diri bahwa saya memahaminya dan mengerti maksudnya. Saya mencoba mengait-ngaitkan hal-hal tersirat yang hendak disampaikan. Namun, rupanya hal-hal tersirat itu tidak hanya satu atau dua, tetapi banyak seperti seabrek multiverse yang dihadirkan di dalam film.

Kelar menonton, saya mencoba membaca beberapa artikel yang membahas tentang film ini. Beberapa artikel yang saya temukan berkata bahwa film ini begitu absurd serta gila dan saya setuju dengan pendapat itu. Film besutan sutradara Daniel Kwan dan Daniel Scheinert ini menghadirkan beragam multiverse dengan verse-jumping yang kadang membuat terkejut, takut, tertawa, sedih, heran, hingga agak jijik.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Saat Ide Mengalir di Detik Terakhir

Minggu, 05/10/25 | 20:02 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Antara Deadline dan Bedcover

Minggu, 14/9/25 | 18:56 WIB

Meski absurd, saya berkesimpulan bahwa film ini dapat dibicarakan dengan beragam sudut pandang. Salah satu hal yang menarik perhatian saya dari film ini ialah ‘persaingan antarperempuan’, yaitu antara seorang ibu, Evelyn (Michelle Yeoh), dengan putrinya, Joy (Stephanie Hsu).

Persaingan antarperempuan terkait ibu versus anak perempuan adalah persaingan paling kuno dan paling awal yang dialami oleh setiap perempuan. Ester Lianawati, seorang peneliti di Hypatia (kajian psikologi dan feminisme di Prancis Utara) berpendapat bahwa persaingan yang terjadi antara ibu dan anak sangatlah normal serta sangat diperlukan. Tujuannya ialah agar anak perempuan dapat menentukan identitasnya, mandiri dari ibunya, dan memiliki kepribadiannya sendiri.

Puncak persaingan antara Evelyn dengan Joy ialah ketika Joy memiliki pacar perempuan. Evelyn menolak keras hal tersebut dan tidak pernah memberi waktu terhadap Joy untuk menjelaskan tentang salah satu pilihan hidupnya itu. Di sisi lain, ia melakukan sejumlah pemberontakan seperti hanya menemui ibunya ketika ada perlu, jarang menelepon, dan memiliki tato. Hal-hal yang tidak disukai oleh ibunya.

Evelyn tidak menghadapi hal itu  secara adaptif. Ketika seorang ibu berhadapan dengan anak perempuannya, memori masa kecilnya kembali aktif. Ia melihat bagaimana ia diasuh dan dibesarkan. Lianawati menyebut memori ini dapat menjadi patogenik (menimbulkan ketidaknormalan) dan ibu memperlakukan anak perempuan sebagai perpanjangan dirinya. Inilah yang terjadi antara Evelyn dengan Joy.

Evelyn tergolong generasi tua yang awalnya meyakini norma-norma tertentu dan menginginkan keturunannya juga mengikuti norma yang sama. Hal itu bukan tanpa alasan. Ia merasa menjalani kehidupan yang salah karena ketika muda mengikuti pilihan sendiri dan melanggar saran orang tuanya. Rupanya Evelyn tidak menjalani kehidupan seindah yang ia bayangkan.

Meski kisah antara Evelyn dengan Joy terlihat agak klasik namun yakinlah Everything Everywhere All at Once menghadirkan penyajian yang tidak biasa. Penyelesain konflik di film ini membutuhkan multiverse tak terhingga hingga terciptalah dialog berkesinambungan dan terarah antartokohnya. Bahkan, dialog antara Evelyn dengan Joy tampak mulai terarah ketika mereka berada di suatu semesta di mana mereka menjalani hidup sebagai seonggok batu.

Kemunculan batu di bagian ini juga seolah hendak mengatakan bahwa bila ingin hidup tanpa persoalan maka jadilah seonggok batu. Jadilah sebuah benda mati, bukan seorang manusia. Batu juga dapat diinterpretasikan bagaimana Joy menjalani hidupnya. Ia terjebak seperti itu (seperti batu) sudah begitu lama.

“Aku berharap kau akan melihat sesuatu yang tak kulihat bahwa kau akan meyakinkanku ada jalan lain.” Inilah dialog dari Joy yang berusaha mengungkapkan isi hatinya kepada Evelyn. Ia juga membangun bagel hitam di semesta lain dengan tujuan untuk menghancurkan dirinya sendiri. Dengan demikian, ia berharap tak merasakan persoalan-persoalan lain selain benar-benar seperti orang mati.

Awalnya, Evelyn tampil dengan “kebuasan” seorang ibu yang halus dan tidak langsung. Ia tidak memberi kebebasan kepada Joy untuk menampilkan identitas dan kemandiriannya. Kekangan yang halus ini membuat Joy sesak dan menyimpan kemarahan yang ditampilkan melalui Jobu Tupaki.

Sebetulnya saya masih belum mengerti secara keseluruhan dari maksud film ini. Setidaknya dua hal yang menarik perhatian saya selain persaingan ibu dan anak perempuan ialah hubungan Evelyn dengan suaminya Waymond (Ke Huy Quan) dengan cinta yang begitu dalam dan menyentuh.

Meski pertama rilis di Indonesia pertengahan tahun lalu namun karena film ini mendapat perhatian yang begitu besar terlebih mendapat setidaknya 7 piala Oscar, Everything Everywhere All at Once kembali tayang di bioskop saat ini. Bila penasaran dengan seabrek multiverse yang membuat kepala pening, maka tontonlah selagi masih tayang.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Jus Buah

Berita Sesudah

Cerpen “Mamung” Karya Afrizal Jasmann dan Ulasannya oleh Dara Layl

Berita Terkait

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Waktu Tak Menunggu

Minggu, 07/12/25 | 22:22 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya sering bangun tergesa, seolah pagi datang lebih cepat dari dugaan. Waktu terus berjalan...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Hujan yang Merawat Diam

Minggu, 23/11/25 | 19:52 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Hujan selalu punya cara sederhana untuk membuat saya berhenti sejenak. Di antara rintik yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tentang Usaha yang Tidak Terlihat

Minggu, 09/11/25 | 20:13 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam setiap pertandingan olahraga selalu ada dua kemungkinan, menang atau kalah. Dari kejauhan semuanya...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Hasil Tak Sepenting Perjalanan

Minggu, 26/10/25 | 21:50 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Libur kuliah dahulu selalu terasa seperti lagu merdu yang menandai kebebasan. Setelah berminggu-minggu bergulat...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Satu Lagu Untuk Pulang

Minggu, 19/10/25 | 20:11 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Minggu lalu, saya menulis tentang kebiasaan aneh tapi menyenangkan, mendengarkan satu lagu saja, berulang-ulang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Minggu, 12/10/25 | 19:23 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Entah mengapa, hari itu saya hanya ingin mendengarkan satu lagu. Satu lagu saja! Padahal...

Berita Sesudah
Cerpen “Mamung” Karya Afrizal Jasmann dan Ulasannya oleh Dara Layl

Cerpen "Mamung" Karya Afrizal Jasmann dan Ulasannya oleh Dara Layl

Discussion about this post

POPULER

  • Afrina Hanum

    Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Skizofrenia antara Bahasa dan Realitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bentuk-Bentuk Singkatan dalam Surat Resmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Analisis Unsur Intrinsik Naskah Drama “Orang-Orang di Tikungan Jalan” Karya Rendra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Fenomena Singkatan dalam Dunia Digital

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024