Kamis, 17/9/26 | 10:40 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Belajar Membuat Kompos dari Sampah Rumah Tangga

Minggu, 12/2/23 | 07:49 WIB

Oleh: Dr. Silvia Permata Sari, SP., M.P.
(Dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas)

 

Setiap kegiatan pasti menghasilkan barang sisa yang biasa kita sebut dengan istilah sampah atau limbah. Apalagi kegiatan rumah tangga akan menghasilkan sampah yang lebih banyak, baik sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik yang berasal dari rumah tangga umumnya berasal dari kegiatan dapur, antara lain sisa makanan, sisa nasi, sisa potongan sayur, daun, umbi, dan kulit buah. Selain itu, juga bisa dari sampah tanaman pekarangan dan kebun seperti rumput, daun, ranting, dan sisa-sisa tanaman lainnya. Sedangkan sampah anorganik dari rumah tangga seperti plastik, kaca, mika, kawat, kertas, dan
styrofoam.

BACAJUGA

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Menyusuri Luka Kanak-kanak dalam Kumpulan Puisi “Belajar Menanggalkan Bulan”

Minggu, 13/9/26 | 22:05 WIB
Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Modernisme dan Dunia yang Dinamis dalam Karya Sastra

Minggu, 13/9/26 | 09:35 WIB

Kompos adalah bahan-bahan organik yang sudah mengalami proses pelapukan karena terjadi interaksi antara mikroorganisme atau bakteri pengurai dengan bahan organik tersebut. Pada dasarnya proses pelapukan ini merupakan proses alamiah yang biasa terjadi di alam. Kompos memiliki bentuk seperti tanah dan tidak berbau. Kompos sangat bermanfaat terutama bagi tumbuhan dan tanaman. Itu karena kompos dapat digunakan sebagai pupuk (unsur hara) bagi tanaman sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanaman. Selain sebagai pupuk, kompos juga dapat memperbaiki struktur tanah sehingga tanah menjadi lebih gembur.

Cara pembuatan kompos dari sampah rumah tangga dapat dilakukan dengan mudah, murah, serta tidak memerlukan banyak peralatan dan tempat yang luas.
Oleh karena itu, sekarang kita akan ulas bagaimana cara membuat kompos dari sampah organik rumah tangga. Adapun langkah membuah kompos dari sampah organik rumah tangga yaitu sebagai berikut :
1. Pisahkan wadah untuk sampah organik dengan sampah anorganik di rumah  tangga.
2. Kumpulkan sampah organik dari rumah tangga.
3. Sediakan alat dan bahan untuk membuat pupuk kompos. Alat yang digunakan yaitu wadah berukuran besar dengan penutup (ember atau tong),
dan sarung tangan. Bahan membuat pupuk kompos yaitu sampah organik dari rumah tangga, tanah, air, arang sekam, kapur, dan EM4 (bakteri
pengurai).
4. Pastikan wadah pembuat kompos (tong atau ember) tersebut tidak terkontaminasi oleh air hujan dan tidak terkena paparan sinar matahari
langsung.
5. Masukkan tanah secukupnya ke dalam wadah yang telah yang telah diisi dengan sampah organik.
6. Siram permukaan tanah tersebut dengan air secukupnya.
7. Masukkan sampah organik yang telah dicampur arang sekam (optional) dan kapur pertanian ke dalam wadah yang telah disediakan (tong atau ember).
8. Siram dengan air yang telah dicampur dengan EM4.
9. Masukkan lagi tanah ke dalam wadah (yang fungsi tanah tersebut sebagai penutup sampah).
10. Tutup wadah dengan rapat dan biarkan sekitar 3-4 minggu. Setelah itu kompos dari sampah rumah tangga pun siap diaplikasikan ke tanaman Anda.

Begitu uraian singkat mengenai pembuatan kompos dari sampah rumah tangga. Mudah bukan. Selamat mencoba sahabat pembaca semua. Salam organik.

Tags: #Silvia Permata Sari
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pecinta dan Pencinta

Berita Sesudah

Puisi-puisi Afifah Syafila Alwafi dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Berita Terkait

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Menyusuri Luka Kanak-kanak dalam Kumpulan Puisi “Belajar Menanggalkan Bulan”

Minggu, 13/9/26 | 22:05 WIB

Oleh: Rosidatul Arifah (Alumni S1 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)  Awal September 2026 ini memberikan angin ceria pada...

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Modernisme dan Dunia yang Dinamis dalam Karya Sastra

Minggu, 13/9/26 | 09:35 WIB

Oleh: Maharani Syifa Ramadhan (Alumni Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Mahasiswa Program Magister Sastra Kontemporer, Universitas Padjajaran)   Modernisme...

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Minggu, 13/9/26 | 08:48 WIB

Oleh: Ahmad Hamidi dan Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)    Seekor anjing sedang menggonggong di...

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Minggu, 06/9/26 | 11:00 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Kata pulang merupakan kata yang sangat dekat dengan kehidupan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Jangan Tunggu Hutan Habis untuk Sadar

Minggu, 06/9/26 | 10:37 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik FIB Universitas Andalas) Kita sering baru mengingat hutan ketika bencana datang. Ketika hujan turun...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Bianglala: Menelusuri Makna, Sejarah, dan Jejak Kebudayaan dalam Sebuah Kata

Minggu, 30/8/26 | 16:29 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)   Ketika melihat lengkungan warna-warni yang...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Afifah Syafila Alwafi dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Puisi-puisi Afifah Syafila Alwafi dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Discussion about this post

POPULER

  • Lele Raksasa (Foto: Ist)

    Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puncak Dies Natalis Unand, Tujuh Alumni Inspiratif Diganjar Anugerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026