Jumat, 24/4/26 | 12:58 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Sambat

Minggu, 29/5/22 | 08:49 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id)

Pertama, perlu diiingat bahwa tulisan ini hanya berdasarkan pengalaman pribadi dan orang-orang sekitar yang melakukan hal serupa. Pembahasannya ialah terkait “sambat”. Tentu, sambat yang dimaksud di sini ialah yang sedang populer di kalangan anak muda (hanya menduga-duga, sih). Soalnya, juga ada kata “sambat” lain yang artinya sambung. Kata itu memiliki kata turunan “bersambat” yang artinya bersambung (dengan); bertali (dengan) atau meminta bantuan tenaga untuk mengerjakan sesuatu. Jika melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, sambat dengan kata turunan yang dimaksud ialah yang ketiga, yang artinya mengaduh; mengeluh.

Kebetulan pula, saya memiliki secuil teman sambat hingga kami membentuk grup whatsApp khusus. Grup itu kami namai dengan Nge-Drop. Kami tidak terlalu memedulikan asal katanya, benar atau salah. Bagi kami, grup itu memang didominasi oleh per-sambat-an duniawi yang seperti tidak ada habisnya. Di dalamnya disediakan ruang khusus untuk bersambat segala macam hal tentang kehidupan.

BACAJUGA

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Kepopuleran sambat di kalangan orang-orang yang melakukannya pun difasilitasi melalui sebuah akun instagram khusus hingga diterbitkan dalam bentuk sebuah buku. Akun dan buku itu ialah Nanti Kita Sambat Tentang Hari Ini (NKSTHI). Wah, mengeluh saja ada bukunya, ya? Meskipun sudah difasilitasi, nyatanya tidak semua orang bisa dijadikan sobat sambat dan menerima sobat sambat. Mungkin bagi sebagian orang, sambat adalah kegiatan nirfaedah dan cenderung bermakna negatif. Padahal, sambat adalah salah satu jalan pintas untuk bertahan dalam kerasnya kehidupan, setidaknya menurut sobat sambat saya yang secuil itu.

Sebagai orang yang pernah (bahkan cukup sering) sambat, tentu saya amat bersyukur dengan kehadiran atau terbentuknya kata kerja sambat di dunia ini karena sambat juga ada manfaatnya. Sambat berarti mengakui bahwa diri tidak selalu baik-baik saja. Terkadang, ada kondisi yang membuat beban hidup terasa tidak terpikul lagi. Di sini, sobat sambat tidak perlu sok kuat. Setidaknya ia cukup bilang “hadehhh” dan celoteh sambat lainnya. Lalu, ia akan merasa cukup baik meskipun beban hidupnya tetap tidak berkurang.

Orang yang sedang sambat sebenarnya cenderung hanya ingin didengarkan. Ia tidak perlu dihakimi sedemikian rupa karena itu hanya akan membuat dirinya semakin terpuruk. Seolah dialah yang paling menderita sedunia. Toh, sambatnya tidak dilakukan 24 jam melainkan hanya sesekali waktu.. Namun, adakalanya pula ia membutuhkan saran agar arah hidupnya yang mungkin sedang kusut lebih terarahkan.

Namun, sambat secara kelewatan sepertinya juga tidak baik. Tidak baik bagi teman yang mendengar sambat seseorang setiap waktu. Sambat berlebihan mungkin tidak mengganggu kelancaran hidup orang yang sedang sambat, tetapi bisa membuat kusut orang yang mendengarnya. Oleh sebab itu, tetap perlu diingat agar sambatlah seperlunya. Toh, hidup juga pasti ada manis-manisnya, bukan?

Ada kutipan yang amat saya suka dari Nanti Kita Sambat Tentang Hari Ini. Kutipan itu berbunyi, “Jika ada bagian-bagian dari hidup yang pantas untuk disyukuri, bukankah ada juga bagian-bagian dari hidup yang patut untuk disambati?” kutipan itu sekaligus menutup bahasan soal sambat yang sebetulnya masih panjang ini. Seperti sambat itu sendiri yang tiada akhirnya.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Sebuah Keputusan” Karya Dara Layl dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Berita Sesudah

Gramatika Visual dan Strategi Pengambilan Gambar

Berita Terkait

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Berita Sesudah
Keberagaman Hayati dalam Ekolinguistik

Gramatika Visual dan Strategi Pengambilan Gambar

Discussion about this post

POPULER

  • Wakil Menteri Perindustrin, Faisol Riza didampingi Bupati Pasaman, Welly Suheri saat menguji Balon Ketua DPC PKB Kota Padang, Yusri Latif. Kamis, (23/4) [foto : sci/yrp]

    DPP PKB Kantongi Hasil UKK, 15 Ketua DPC di Sumbar Segera Ditetapkan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bentuk-Bentuk Singkatan dalam Surat Resmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Makna Konotasi dan Denotasi Kata Cabe-Cabean

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026